
"Didalam? Dimana?"
"Pintu itu terhubung dengan dimensi lain. Pedang itu amat berbahaya bagi para naga, karena itu, para naga menjaganya dengan ketat." Ujar Volund.
Johan mengangguk, ternyata itu adalah semacam pintu ajaib seperti punya robot kucing tanpa telinga.
"Kau siap?" Tanya Volund pada Johan.
Johan hanya mengangguk. Dia sebenarnya agak gugup. Didalam sana pasti sesuatu yang menghadangnya untuk mengambil pecahan pedang Gram.
"Ayo!"
Dengan aba-aba dari Volund, Johan langsung melesat kearah dua dragonborn yang berjaga dan Johan meninju perut mereka dan seketika mereka terjatuh. Kemudian Johan meninju muka mereka dan membuat keduanya pingsan.
Sekarang, dia harus membuka pintu ini. Tapi dia tidak tahu caranya.
"Tuan Volund, kau tau cara membuka pintu ini?"
Volund menggeleng "Sayang sekali, aku tidak tahu caranya."
Johan sedikit kecewa dengan jawaban Volund. Dia berpikir dan mencoba untuk mendorong pintu tersebut.
Tidak bisa...
Dia mencoba meninjunya.
Tidak bisa...
Menyerang pintunya.
Tidak bisa...
Akhirnya, Johan mencoba untuk meneliti tulisan yang ada pada pintu itu. Tentu saja, tulisan itu tampak sangat asing baginya.
"Tuan Volund, kau mengerti tulisan ini?"
"Hmmm biar kulihat..."
Volund mengamati tulisan pada dinding dengan hati-hati dan cermat.
"Ini bertuliskan 'Dendam leluhur akan menghantui dunia' dalam bahasa naga. Tapi ini ditulis dengan terbalik. "
Kata-kata ajaib telah diucapkan. Ukiran dan tulisan pada pintu bersinar terang. Pintu perlahan terbuka dengan sendirinya.
Sebuah pusaran magis terbentuk. Sangat indah dan menakjubkan.
Johan dengan perlahan menyentuhnya. Saat jarinya mengenai pusaran magis itu, tubuhnya diserap dan perlahan menghilang.
"Eh, eh!?"
"Berhati-hatilah, tuan Johan. Yang kau hadapi adalah roh leluhur naga, Fafnir!"
Beberapa sensasi aneh terasa dalam tubuh Johan. Dia juga seperti ada diruang hampa, gelap tanpa pencahayaan.
Untung saja dia segera keluar dari ruang hampa. Dia terlempar dan menggelinding, dia kemudian berhenti bergelinding. Tubuhnya terasa sangat sakit.
Johan perlahan bangun dan melihat sekeliling. Dia sekarang ada disebuah jalan kecil, selain itu, hanya ada lautan.
Dia berjalan dengan hati-hati. Dia juga waspada akan musuh yang akan datang untuk menyerang. Biasanya, ditempat seperti itu, rawan bermunculan musuh tipe udara.
Tapi Johan tidak merasakan tanda-tanda musuh. Sangat sepi dan tenang.
"Seraphim."
[Ya?]
"Apakah kau merasakan sesuatu? Seperti musuh atau ada sesuatu yang lain?"
[Aku hanya merasakan aura yang agung. Semakin kau berjalan maju, semakin kuat auranya.]
"Ah, baiklah."
Johan mencoba untuk berjalan lebih cepat. Tapi tampaknya jalannya masih sangat jauh, akhir jalan juga belum nampak. Tapi Johan menganggap ini jogging.
Semakin lama, semakin cepat juga Johan dalam berlari. Dia sudah berlari dalam beberapa menit dan masih belum terlihat ujungnya.
"[Angel Wings]."
Johan sekarang mencoba menggunakan sayap milik Seraphim untuk terbang. Tetapi tetap pada jalur, dia takut kalau dia keluar jalur akan terjadi sesuatu yang berbahaya.
Johan terbang dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dalam beberapa menit, Johan dapat melihat ujungnya dari kejauhan.
Dia menaikkan kecepatannya.
"Woah! Keren sekali!"
Johan dengan perlahan mendarat didepan altar yang ditengahnya ada pedang yang melayang.
Sayangnya, pedang itu tidak lengkap.
"Pedang Gram!"
Johan dengan semangat berlari, berlari, dan terus berlari. Semakin dia berlari, semakin dia sadar kalau dia tidak bergerak dari tempatnya.
Malahan, dia seperti semakin tertarik kebelakang.
Saat Johan melihat kebelakang, ada sosok besar yang sedang membuka mulutnya dan sebuah pusaran angin menyedot Johan.
"Aaaaaahhhhh!"
Pada akhirnya, Johan dimakan oleh mahluk itu.