
***
Beberapa hari setelahnya...
"Hei, Norga, kau melihat sesuatu?"
"Tidak, kalau kamu?"
"Aku juga tidak. Cindy, bagaimana denganmu?"
"Aku ... tidak melihat apa-apa."
Alex kecewa dengan tanggapan itu, tapi mau bagaimana lagi? Disekitar mereka sangat sepi. Hanya terlihat pepohonan dan cahaya-cahaya kecil.
"Oh, aku melihat sesuatu!" teriak Norga.
"Dimana?" Alex dan Cindy langsung melihat kearah yang sama dengan Norga.
"Ada buaya! Jumlahnya ada puluhan!"
"Kau benar, ayo!"
Alex dan Cindy langsung turun dan naik ke punggung Lyfa. Seketika, Lyfa langsung melaju kencang.
Sedangkan Norga, dia bergerak dengan lincah, melompati pohon-pohon dan melompat setinggi-tingginya sebelum jatuh ketanah dengan dahsyat.
Saat jatuh, Norga mengeluarkan palu ganda dan menghantam dua buaya hingga kepala kedua buaya itu pecah dan seketika mati.
Buaya yang lain mengamuk dan langsung menyerang Norga. Sebelum bisa menggigit Norga, Alex langsung menerjang para buaya darat.
Dengan ganjurnya yang tajam, Alex menusuk para buaya darat secara beruntun. Tiga buaya darat langsung tewas. Buaya yang lain tidak terima dan beralih menyerang Alex, Cindy, dan Lyfa. Untungnya, Lyfa punya kelincahan yang luar biasa. Lyfa langsung menghindar dengan gesit.
"[Wind arrow!]"
Selagi menghindar, Cindy menyempatkan untuk meng-casting mantra dan menyerang para buaya darat yang mengejar. Meski tidak mati, tapi para buaya darat melambat karena kesakitan.
Mengambil kesempatan itu, Norga melompat dan lagi-lagi menghantam dua kepala buaya darat. Setelah itu, Alex ikut menyerang lagi dengan menerjang para buaya darat itu.
Mereka setelah beberapa menit akhirnya selesai melawan puluhan buaya darat dan naik level.
"Bos monster tidak terlihat dari tadi, dimana sih?" Protes Norga sambil memainkan bangkai monster.
"Tau nih, gak muncul-muncul."
"Mau coba pancing?"
Keduanya langsung melihat Cindy dengan terkejut.
"Kau bisa memancingnya kesini, Cindy?"
"Bisa."
"Kalau begitu, pancing kesini kak!"
Sesuai permintaan Norga, Cindy mengaktifkan sihir yang memunculkan sebuah gelombang. Perlahan, tanah menjadi bergetar seperti ada gempa. Mereka melihat sekitar dan bukannya bos monster, malah ratusan monster datang dengan ganas.
"Ahh... Maaf teman-teman!"
"Tidak apa-apa, kita anggap saja itu seperti exp yang berdatangan." Alex tidak panik, dia hanya tersenyum bersemangat.
"Benar!"
Mereka semua bersiap-siap untuk kedatangan para buaya darat yang ganas dari berbagai arah.
"Cindy rapal sihir pertahanan dan buff pada senjataku! Norga, perkuat senjataku juga!"
Sesuai dengan perintah Alex, Cindy merapal mantra yang membentuk perisai disekitar mereka dan kemudian merapal sihir buff untuk ganjur Alex, sedangkan Norga, dia memukul ganjur Alex dengan keras. Bukan untuk merusaknya, tapi untuk memperbagusnya. Norga adalah Blacksmith, dan begitulah caranya memperbagus senjata orang lain saat pertarungan berlangsung.
Sudah cukup dengan itu, Alex langsung mempersiapkan kuda-kudanya. Dan semuanya bentrok...
***
POV Alan.
"Hoek, baunya aneh banget!"
Aku sedang duduk diatas mayat singa yang sudah tinggal tulang saja. Tidak hanya satu, tapi sekitar tiga belas mayat singa yang membusuk. Mereka jadi begini karena racun yang ada ditanganku. Namannya Venom Breath, nama yang sangat keren, 'kan?
Jadi racun ini adalah racun keempat yang kubuat. Efeknya ampuh dan kuat, sangat mematikan malah.
Kenapa aku bisa membuat racun? Jadi, beberapa hari yang lalu aku mendapat job keduaku, dan aku memilih Poison Alchemist. Begitulah, aku memutuskan untuk memilih job satu ini karena aku bisa menggunakan racun yang mematikan dan aku juga bisa meningkatkan poison resistance ku.
"Kurasa saatnya untuk mencari bosnya."
Dengan [Eyes of Sage], aku mencari bos monster.
"Ketemu kau!"
Aku beranjak berdiri dan melakukan perenggangan sebelum menghilang dari tempat dan menemui bos monster. Dengan [Spirit Walker], aku segera pergi kearah singa raksasa, lebih besar dari yang sebelumnya.
Singa itu sedang tidur manis, namun sayangnya, dia harus dibangunkan olehku.
"Kena kau ...."
***
"Mana sih mereka?"
Setelah beberapa menit keluar dari portal, aku berada dititik dimana kita akan bertemu setelah semuanya selesai.
"Kak Alan!"
"Ah!" Suara yang familier itu, itu pasti Norga.
Dan benar saja, saat aku menoleh kesumber suara, itu memang Norga yang bersama dengan Alex, Cindy, dan Lyfa.
"Akhirnya kalian sudah selesai."
"Maaf lama kak, bos nya susah ditemukan." Alex meminta maaf kepadaku setelah sampai didepanku.
"Kalau begitu, sekarang ayo pergi makan, aku yang traktir!"
Setelah mendengar kata 'makan' dan 'traktir', mereka menjadi senang. Siapa sih yang tidak suka ditraktir untuk makan?
Kami berjalan santai saja, tidak menggunakan [Spirit Walker] atau apapun, hanya menikmati pemandangan.
Aku melihat pemandangan indah ini dan iseng-iseng menggunakan [Eyes of Sage], supaya lebih detail ye kan.
Namun, sepertinya itu kesalahan besar karena karena itu rasa penasaranku terpicu dan aku tidak jadi makan. Aku melihat bayang-bayang orang, tidak hanya satu, tapi banyak orang. Mereka berpakaian seragam Necron, tidak ada henti-hentinya mereka. Mereka terlihat membawa seseorang yang berpakaian mewah, dari mukanya, sepertinya itu masih remaja. Mereka culik siapa lagi kali ini? Mereka juga pergi kehutan kali ini.
"Teman-teman, kalian mau makan atau mau lihat sesuatu yang menarik?"
Mereka memiringkan kepala secara serentak karena bingung dengan perkataanku.
"Jika kalian ingin makan, kalian pergilah dulu. Kalau mau lihat sesuatu yang menarik, ikuti aku."
"Kalau begitu, aku ikut Kak Alan saja." Kata Norga tanpa ragu.
"Aku juga dah, bagaimana denganmu Cindy?" Alex menyetujui dan bertanya pada Cindy.
"Aku ikut saja, aku belum terlalu lapar."
"Baiklah, langsung saja, ayo!"
Aku langsung mengendap-ngendap, mengikuti para Necron dan yang lainnya mengikutiku dari belakang. Alex dan Cindy turun dari punggung Lyfa supaya tidak mencolok. Untuk Lyfa, untungnya dia bisa menunduk dan menyembunyikan hawa kehadirannya.
Kami mengikutinya hingga kami tiba di bangunan tua lagi. Mereka ini gampang sekali ditebak. Tapi, entah kenapa aku punya perasaan tidak enak kali ini.
Benar saja, perasaan tidak enak ini entah kenapa sampai membuat tubuhku merinding.
"Kak Alan, Kak Alan merasa dingin gak dibelakang?" Norga bertanya pada ku dengan berbisik.
"Kau juga merasa begitu Norga?" Alex menjawab pertanyaan itu meski bukan tertuju padanya.
"Sepertinya itu udara dingin, tapi jangan teralihkan, sama apapun itu, oke?"
"Oh iyakah, meski hal itu adalah aku?"
....tunggu, suara siapa itu?