
Keesokan harinya, semua dibuat terkejut dengan sarapan pagi di atas meja. Raja Raion bahkan bertanya mengenai hidangan tersebut sampai akhirnya Ratu Rushi muncul.
‘’Apakah Ratu Rushi tidak lupa kalau saat ini Anda dalam masa hukuman? Beraninya Anda keluar tanpa izin dariku,’’ kata Raja Raion.
Putri Rukaia menggunakan kesempatan ini untuk memojokkan kakak tirinya itu. ‘’Ka ehem! Maksud saya Yang Mulia, dengan membantah perintah Yang Mulia Raja seperti ini, Anda benar-benar tidak tahu tata krama. Orang-orang akan mempertanyakan keputusan Yang Mulia Raja gara-gara Anda.’’
‘’Putri Rukaia benar. Meskipun Yang Mulia adalah Ratu, tapi Anda tidak boleh semena-mena seperti ini. Tidak menuruti perintah Yang Mulia Raja sama saja memberontak, dan orang yang memberontak akan dianggap sebagai penghianat,’’ kata Siruverash.
Sebelah alis Ratu Rushi terangkat sambil tersenyum. ‘’Aku sudah pernah menjadi penghianat sebelumnya. Menjadi penghianat untuk kedua kalinya sama sekali tidak ada bedanya.’’
‘’Ratu Rushi!’’ seru Raja Raion.
‘’Cukup!’’ tegur Ratu Agung.
Terukir senyuman di bibir Putri Rukaia. Sebentar lagi Ratu Agung akan menambah hukuman Ratu Rushi. Mungkin kali ini kakaknya itu akan dipenjara, dengan begitu tidak ada lagi penghalang yang mengganggunya.
Ayo, cepat keluarkan perintah untuk menyeretnya ke dalam penjara bawah tanah, ucapnya dalam hati.
‘’Saya sendiri yang telah memberi perintah untuk membebaskan Ratu Rushi,’’ kata Ratu Agung.
Semua orang spontan menatap ibu Raja itu secara bersamaan dengan wajah terkejut, terutama Raja Raion, berbeda dengan Ratu Rushi yang malah tersenyum penuh kemenangan. Putri Rukaia langsung menatap kakak tirinya sambil menggertak gigi.
‘’Apakah saya tidak salah dengar? Saya memberinya hukuman, kenapa Ibunda membebaskannya? Dia ha—’’
Bugh!
‘’Apakah Anda mempertanyakan keputusan saya? Sekarang waktunya sarapan. Tidak baik ribut di depan makanan!’’ tegur Ratu Agung.
Raja Raion menghela nafas dan duduk di kursi, disusul yang lainnya. Ratu Rushi tersenyum sambil menunduk sedikit. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu bagaimana reaksi paman dan adik tirinya saat ini yang menahan emosi.
Ada apa ini? Ratu Agung membebaskan Kakak? Apa yang sudah dilakukan Kakak sampai membuat Ratu Agung berada di pihaknya. Tidak, tidak. Hal yang aku takutkan sudah terjadi. Kakak akan merebut hati semua orang. Sebelum aku menjadi ratu, aku tidak akan membiarkan itu terjadi, kata Putri Rukaia dalam hati.
Apa yang terjadi? Kenapa Ratu Agung tiba-tiba berada di pihaknya? Padahal rencananya sudah sempurna saat Yang Mulia Raja mengurungnya di dalam kamar. Tadinya aku dan Putri Rukaia ingin memanfaatkan kesempatan itu, tapi semuanya kembali dirusak. Memiliki keputusan tertinggi di istana, sepertinya Ratu Rushi menggunakan Ratu Agung untuk mencabut hukumannya dari Yang Mulia Raja. Benar-benar licik, kata Siruverash dalam hati.
‘’Sarapan pagi kali ini adalah salah satu jenis pasta yang berbentuk panjang, tipis, silindris menyerupai mie pada umumnya. Ini adalah makanan pokok dan merupakan lambang dari masakan Italia tradisional. Aku menyebutnya … Spaghetti. Seperti yang kalian lihat, pasta ini disajikan bersama saus tomat dengan taburan keju serta beberapa bumbu, daun herbal, minyak zaitun, daging, dan sayuran,’’ kata Ratu Rushi.
Semua orang pun meraih garpu dan mencicipi pasta tadi. Begitu masuk ke dalam mulut, sekali lagi mereka dikejutkan dengan rasanya. Rasa itu kembali mengingatkan saat terakhir kali mereka memakan Hamburger, sebelum Ratu Agung mengembalikan hidangan sarapan pagi.
‘’Saya tidak percaya Ratu Rushi yang tidak pernah memegang pisau, bahkan sangat lebih hebat dibandingkan Koki Kerajaan. Apa ada yang tidak bisa Anda dilakukan?’’ tanya Ratu Agung.
Ratu Rushi tersenyum sendu. ‘’Dulu, saya adalah orang sempurna yang bisa melakukan apa pun. Tapi saya tidak bisa melakukan hal yang paling penting dan kusukai sekarang.’’
Ya, aku tidak bisa mengikuti tournament Taekwondo lagi, dan memasak bersama mahasiswa lulusan tataboga lainnya jika liburan, ucapnya dalam hati.
Raja Raion yang mendengarnya menjadi merasa sedikit bersalah. Hanya karena kesal melihat perilaku Ratu Rushi yang berbeda kepadanya dan Pangeran Rodigero, membuatnya langsung menghukum wanita itu.
Benar juga. Seharusnya aku sadar setelah Ratu Rushi membangun rumah makan dan membuat hidangan untuk semua orang setelah kembali ke istana. Direbut hal yang disukai oleh orang lain, tentu saja membuat kita sedih, ucapnya dalam hati.