Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 169 Tanah Penghakiman



Setelah mendengar cerita keponakannya, Siruverash pun membawa Rukaia ke dalam tendanya. Ia tidak menyangka ketiga bawahan pembunuh bayarannya telah dihabisi.


‘’Saat Yang Mulia meminum ramuannya, ketiga pembunuh bayaran itu telah menghabisi Raja. Sebelum ketahuan, kami hendak segera meninggalkan tenda Yang Mulia, tapi Tora datang dan menebas ketiga pembunuh itu, sedangkan aku melarikan diri melalui sisi belakang tenda Yang Mulia,’’ kata Rukaia terengah-engah dengan keringat dingin.


Siruverash mengelus punggung keponakannya itu. ‘’Kau berhasil meloloskan diri saja, itu sudah keberuntungan bagimu. Yang Mulia telah tiada. Sekarang kemenangan kita semakin dekat. Besok … Setelah memenangkan perang, kita akan menguasai Negeri Aslan.’’


Rukaia yang mendengarnya hanya memasang wajah kusut. Namun, tidak lama kemudian ia tersenyum. ‘’Paman benar. Aku jadi tidak sabar menantikan apa yang akan terjadi besok pagi.’’


‘’Aku juga tidak sabar,’’ kata Siruverash.


......................


Keesokan harinya begitu matahari terbit, pasukan Siruverash telah berkumpul di Tanah Penghakiman. Dari arah berlawanan, pasukan Raja Raion juga telah berkumpul, meski tidak memperlihatkan sosok sang Raja di garis depan.


Siruverash yang melihatnya langsung tersenyum remeh. Rencananya untuk membunuh Raja Raion secara diam-diam dengan bantuan Rukaia benar-benar berhasil. Para petinggi yang telah mengerti maksudnya semakin memujinya. Namun, dahinya berkerut saat melihat dua sosok berjubah menunggangi kuda yang berjalan ke garis depan.


Tidak lama kemudian, elang emas yang terbang di udara merendahkan terbangannya. Ia pun memberitahu Siruverash kalau sosok berjubah yang menunggani kuda di garis terdepan adalah Ratu Rushi. Spontan, semua orang langsung terkejut mendengarnya.


‘’Lalu sosok yang satunya siapa?’’ tanya Siruverash.


Washi dalam wujud elang emas yang masih terbang hanya terdiam, membuat Siruverash menegurnya. ‘’Tuan Siruverash tidak akan mempercayai hal ini. Orang yang bersama Yang Mulia, dia adalah … Pangeran Rodigero.’’


Deg!


Itu tidak mungkin. Malam itu … Aku sendiri yang memanahnya di bagian jantung, dan pria itu mengeluarkan banyak darah. Bagaimana ini mungkin?! Ck, umpat Siruverash dalam hati.


‘’Tidak masalah. Kita sudah mengetahui strategi Raja Raion. Selain itu dia hanya seorang wanita, tidak ada yang patut ditakuti darinya,’’ kata Siruverash.


Sedangkan di pasukan Raja Raion, terlihat Ratu Rushi memandangi pasukan pamannya dengan tatapan sendu. Pangeran Rodigero yang melihatnya menanyai wanita itu.


‘’Jika bisa diberi pilihan, aku tidak ingin berperang. Ketamakan paman yang haus akan kekuasaan, membuat orang yang tidak bersalah harus ikut menanggung hasil perbuatannya. Perang tidak pernah membawa kebahagiaan, dan hanya membawa duka. Bayangkan, kedua ras yang dulunya seperti keluarga malah saling membunuh hari ini.’’


Pangeran Rodigero yang mendengarnya juga memasang wajah sendu. ‘’Tapi kita tidak menghindarinya lagi Yang Mulia.’’


Ratu Rushi menatap kuda yang saat ini ia tunggangngi. Tangannya terulur mengelus kepala kuda itu. ‘’Uma … Bawa aku kepada mereka!’’


‘’Apa yang Anda lakukan?’’ tanya Pangeran Rodigero.


‘’Selagi masih dihindari, aku ingin mencegah perang ini.’’


Siruverash mengerutkan dahi melihat Ratu Rushi seorang diri menuju ke tengah medan. Ia memerintahkan Washi untuk menghampirinya. Tidak lama, elang itu kembali kepadanya. Washi mengatakan kalau sang Ratu ingin bicara sesama pemimpin pasukan sebelum perang dimulai.


Siruverash pun terdiam untuk sesaat hingga memerintahkan kuda yang ia tunggani untuk menuju ke tengah medan juga.