
Dua orang utusan terakhir dari masing-masing tim itu saling mendorong adu kekuatan. Namun, sang penjaga tersebut lebih kuat daripada sang tahanan. Dengan sekuat tenaga, sang penjaga mendorong tangannya untuk menarik papan nama milik tahanan tersebut.
Mengetahui siapa pemenangnya, membuat Villain’s Team bersorak. Namun, di detik-detik terakhir, tahanan tadi melakukan jegal kaki ke penjaga, lalu mendorongnya ke belakang, sehingga punggung penjaga tadi membentur tanah. Saat itu juga tahanan tadi mencabut papan nama milik penjaga itu.
Ratu Rushi tersenyum penuh kemenangan. ‘’Bagi orang yang tidak tahu, ini adalah salah satu teknik pertahanan dalam Taekwondo.’’
Brough!
Semua langsung menoleh ke arah samping begitu mendengar suara tadi. Mereka membulatkan mata melihat sosok banteng dan badak dibalik asap yang menghilang perlahan. Kedua binatang itu telah menghancurkan tembok tadi, bersamaan seorang pria muncul di belakangnya. Banteng dan badak tadi langsung berlari menghampiri para penjaga. Para tahanan pun juga berlarian menyelamatkan diri.
‘’Astaga! Dari mana banteng dan badak itu datang?!”
‘’Temboknya sampai hancur berkeping-keping. Kalau kepala sipir melihatnya, kita akan dihukum!’’
‘’Selain itu, bagaimana bisa seekor banteng dan badak muncul dari muara sungai?’’
Wani menghampiri Ratu Rushi yang bersama Kamereon. ‘’Aku sudah membawa tentara terkuat Yang Mulia.’’
Ratu Rushi tersenyum lalu menatap banteng dan badak itu menimbulkan kekacauan. Kamereon bertanya mengapa harus membawa banteng dan badak ke Penjara Pengasingan.
‘’Banteng melambangkan bangsa yang menjunjung tinggi kerja sama, sedangkan badak melambangkan masyarakat yang pantang menyerah untuk menegakkan kebenaran dan dilindungi oleh hukum. Ini adalah peranan mereka berdua untuk menyelamatkan semua tahanan yang tidak bersalah di tempat ini,’’ kata Ratu Rushi.
......................
Di sisi lain, Washi dan Taka terlibat pertarungan yang masih belum berakhir.
‘’Melihatmu memiliki pedang itu, dugaanku semakin yakin kalau kau memang bawahan Ratu Rushi. Tidak mungkin pedang milik Yang Mulia bisa berada di tangan sembarangan orang,’’ kata Washi.
Taka menghela nafas dan menegur Washi untuk tidak melawan orang yang lebih dewasa darinya. Namun, Washi tidak mendengar dan bersih keras menghabisinya. Ia menatap pria itu berlari menghampirinya. ‘’Baiklah, jangan salahkan diriku menggunakan cara kasar.’’
‘’Mati kau!’’ seru Washi.
Bugh!
Taka menatap manusia setengah elang emas itu yang jatuh tidak sadarkan ke tanah. ‘’Dollyo Chagi … Itu salah satu teknik yang diajarkan Yang Mulia kepadaku.’’
......................
Penjara Pengasingan
Para tahanan berhasil mengikat semua penjaga dan mengurung mereka ke dalam jeruji sel.
Banteng dan badak tadi telah berdiri di hadapan Ratu Rushi.
Push!
Keduanya berubah wujud dan kembali menjadi manusia. Yagyu dan Mozaru mematung begitu melihat wanita berambut emas putih bermata sapphire yang mengenakan seragam tahanan. Kedua pria itu langsung berlutut dan menyilangkan sebelah tangan ke dada, lalu menunduk.
Tanpa bertanya pun, Ratu Rushi tahu kalau kedua pria di hadapannya saat ini sedang menangis. Ia pun memerintahkan mereka untuk mengangkat kepala, sehingga Yagyu dan Mozaru mendongakkan kepala. Ia pun berjongkok dan menepuk kedua bahu pria tadi.
‘’Bagaimana kabar kalian?’’ tanya Ratu Rushi.
Dengan bibir gemetar sambil tersenyum disertai butiran air mata, Yagyu dan Mozaru tidak bisa berkata-kata. Keduanya malah bersujud meminta maaf kepada Ratu Rushi, karena tidak melakukan apa pun untuk menyelamatkannya.
Ratu Rushi tersenyum. ‘’Apakah kalian hanya meminta maaf setelah kita bertemu lagi?’’
Yagyu dan Mozaru menggigit bibir bawah mereka dan langsung melompat ke arah Ratu Rushi. ‘’Yang Mulia!’’
‘’A-Aduh! Kalian berdua terlalu berat! Cepat bangun, tanahnya sangat dingin! Yak!’’ teriak Ratu Rushi.