Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 38 Pemandangan Itu Lagi



‘’Yang Mulia! Aku datang!’’


Semua langsung menoleh ke arah pintu, melihat kedatangan sosok tadi. ‘’Pangeran Rodigero?’’


‘’Maaf, karena aku datang terlambat. Aku tiba-tiba mendapatkan urusan penting di istana,’’ kata Pangeran Rodigero.


Ia menuju ke salah satu kursi yang dekat dengan Ratu Rushi. ‘’Apa ini? Masih sepi di jam segini?’’


Semua menggelengkan kepala, karena Pangeran Rodigero selalu datang setelah semua pelanggan pergi. Yagyu membantah hal itu dan memberitahu kalau hari ini, mereka malah mendapatkan sedikit lebih banyak pelanggan dibandingkan kemarin.


‘’Hee~ kenapa aku selalu ketinggalan? Padahal aku juga ingin membantu. Tapi tidak masalah. Kehadiranku tidak boleh diketahui oleh siapapun,’’ kata Pangeran Rodigero.


‘’Kami bertiga mengetahuinya,’’ kata ketiga pria.


‘’Maksudku warga di desa ini tidak boleh mengetahui keberadaanku,’’ ulang Pangeran Rodigero.


‘’Kami bertiga juga warga desa,’’ ulang ketiga pria.


‘’Kalian ini begitu cerewet, sudah baik aku membantu,’’ kata Pangeran Rodigero.


Ratu Rushi langsung menoleh dengan cepat, begitu mendengar ucapan pria tadi. Pangeran Rodigero yang merasa ditatap langsung bertanya.


Wanita tadi sedikit tersenyum dan menggeleng.


‘’Um, bahan-bahan masakan kembali hampir habis. Daripada membelinya besok, sebaiknya beli sekarang saja,’’ kata Ratu Rushi menyerahkan kantungan uang.


Yagyu yang tersadar langsung mengajukan diri untuk pergi. Padahal Ratu Rushi sendiri yang berniat belanja.


Tapi melihat Yagyu sangat ingin pergi, membuat Ratu Rushi hanya pasrah.


‘’Kalau begitu saya permisi dulu,’’ kata Yagyu.


‘’Persiapan untuk besok, ya?’’ tanya Pangeran Rodigero.


‘’Benar,’’ jawab Ratu Rushi.


Usagi berdiri untuk menyimpan uang, dan menarik Shika agar ikut bersamanya, dengan maksud memberi ruang kepada Ratu Rushi dan Pangeran Rodigero. Meski Shika tidak mau dan meronta-ronta, Usagi menariknya dengan sekuat tenaga.


‘’Itulah kenapa aku menyukai mereka. Selain itu hanya mereka yang menerima keberadaanku tanpa ragu,’’ senyum Ratu Rushi.


Ia kembali menatap Pangeran Rodigero. ‘’Anda mengurus urusan apa sampai datang terlambat?’’


Pangeran Rodigero terbelalak. ‘’Aa? Um, ehehe, itu tidak penting. Aku sudah mengurusnya.’’


Ratu Rushi hanya mengangguk mengerti, sedangkan Pangeran Rodigero tersenyum dengan wajah kaku.


Kalau aku memberitahunya, Yang Mulia akan membunuhku, itu pasti, kata Pangeran Rodigero dalam hati.


......................


Desa


Yagyu yang hendak menuju ke toko, tiba-tiba terhenti karena sebenarnya ingin ke rumah bertarung. Ia memasukkan daftar belanja dan kantongan uang ke dalam saku bajunya, dan menghampiri rumah bertarung.


‘’Apa-apaan itu?! Cepatlah bergerak!’’


‘’Itu benar! Uang kami habis sia-sia karena dirimu!’’


‘’Berikan kami hasil yang layak seperti sebelumnya!’’


‘’Hei! Badak sialan! Aku membayar mahal bukan untuk melihat ini!’’


‘’Berdiri dan bertarunglah!’’


‘’Mozaru pengecut!’’


Melihat Mozaru hanya diam dengan penampilan yang berantakan, membuat pekerja memberi cambukan dan memukulinya kayu agar mau bergerak.


Yagyu melotot menyaksikan semua hal itu. ‘’Apa yang terjadi di sini?’’


Mozaru dalam wujud badak tidak bergerak sama sekali. Bekas luka yang baru saja sembuh di seluruh tubuhnya, kembali menerima luka baru. Ia dicambuk dan dipukuli tanpa ampun, sampai membuatnya kembali menjadi manusia.


Tangan Yagyu langsung mengepal melihat kejadian tadi. Ia kembali teringat perlakuan sama yang ia terima selama di rumah bertarung. Orang-orang juga memukulinya sambil dicambuk, karena dipaksa bertarung, sampai akhirnya Ratu Rushi datang menyelamatkannya dari neraka itu.