
Desa
Berbeda dengan Hana yang ikut keluar, Yagyu dan yang lainnya terlihat senang karena kembali ke desa.
‘’Sudah kuduga, kehidupan di sini lebih damai dibandingkan istana,’’ kata Shika.
Ratu Rushi tersenyum setelah mendengarnya. Apa yang dikatakan Shika memang benar. Tapi, ia memiliki tujuan yang lebih penting dengan kembali ke istana.
‘’Yang Mulia, apakah baik-baik saja meninggalkan istana seperti ini tanpa izin?’’ tanya Hana.
Mozaru membenarkan ucapan wanita itu, dan menatap Ratu Rushi dengan wajah sedikit risau.
‘’Ayolah, jangan tegang seperti itu. Selama ini istana selalu damai. Jadi tidak apa-apa membuat kekacauan sesekali,’’ kata Ratu Rushi santai.
Yagyu, Shika dan Usagi langsung mengacungkan jempol, dengan maksud mendukung apa yang dikatakan Ratu Rushi. Mereka tidak perlu takut dengan apa pun, karena Ratu Rushi bisa mengatasinya. Hana dan Mozaru hanya menghela nafas karena pasrah.
Mereka mengerutkan dahi saat menyusuri desa. Tidak terlihat satu orang pun di sekitar.
‘’Yang Mulia, kalau saya boleh bertanya, untuk apa semua daging ini?’’ tanya Yagyu.
Mereka membuat banyak bola-bola daging sepanjang malam, lalu sekarang membawanya ke desa. Ratu Rushi tersenyum dan mengatakan sebentar lagi mereka akan tahu jawabannya. Begitu tiba di rumah makan, semua langsung heboh dan bersujud ke tanah.
‘’Salam untuk Yang Mulia Ratu Rushi!’’
Hana terbelalak melihat respon semua orang. Semenjak Ratu Rushi diasingkan, ia sangat cemas akan perlakuan orang di desa kepadanya. Tapi, melihat sikap semua orang saat ini, membuatnya merasa lega.
‘’Pantas saja desa sangat sepi, ternyata mereka semua ada di sini,’’ kata Usagi.
Sangat senang melihat rumah makannya seramai ini, meskipun ia kembali ke istana. Tapi, mengingat para pemilik rumah makan di sekitar telah tutup karena tidak mendapatkan pelanggan, membuatnya sedikit merasa kasihan.
‘’Attention please!’’ teriak Ratu Rushi.
Semua orang langsung diam dan menoleh. Mereka menatap Ratu Rushi dan menunggu wanita itu bicara.
‘’Sepertinya aku datang di waktu yang tepat. Kebetulan pesanan kalian belum ada yang jadi. Kalau kalian tidak keberatan, aku akan mengambil alih rumah makan ini sebentar,’’ kata Ratu Rushi.
Tidak ada satu pun orang yang protes kepadanya, karena rumah makan ini memang adalah miliknya. Mereka bahkan menjadi tidak sabar karena akan mencicipi hidangan yang baru lagi dari Ratu Rushi.
Awalnya, semenjak Ratu Rushi kembali ke istana, Hana terkejut karena melihat wanita itu memasak untuk pertama kalinya, bersama keempat pria pengikutnya. Apalagi hamburger untuk sarapan hari itu rasanya masih berbekas. Melihat kelima pria pengikut terlihat senang sambil membantu Ratu Rushi, membuat Hana juga ikut memasak. Dan benar, rasanya sangat seru saat memasak bersama.
‘’Ini menu spesial untuk hari ini,’’ kata kelima pria pengikut.
Semua orang terdiam saat menatap hidangan di dalam mangkuk. Hidangan yang di dalamnya berisi bola-bola daging dalam kuah panas bening, dicampur mie, tahu, telur serta ditaburi bawang goreng dan seledri.
‘’Kuah-nya sangat menyengat hidung. Tiba-tiba selera makanku jadi meningkat,’’ kata Shika.
Ratu Rushi mempersilahkan semua orang untuk mencicipi makanan yang berasal dari Tiongkok dan sangat berkembang di Indonesia itu. ‘’Ini adalah Bakso.’’
‘’Bak sup? Namanya seperti bak mandi kayu saja,’’ kata Shika.
Heh, ehe … Sampai menyamakan dengan bak mandi. Aku tidak pernah tahu isi otak rusa bagal ini, kata Ratu Rushi dalam hati dengan wajah bodohnya.