Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 41 Renungan Hati



Hari mulai gelap, membuat Pangeran Rodigero pamit pulang. Rumah makan juga sudah tutup seperti biasa. Yagyu, Shika dan Usagi tidur di lantai pertama dekat dapur, sedangkan Ratu Rushi berada di lantai 3.


Ratu Rushi membuka jendela sambil menatap keluar. Ia masih mengingat perbincangannya dengan Yagyu tadi sore mengenai Mozaru. Selain itu, ia juga masih penasaran dengan kedatangan pelanggan yang begitu tiba-tiba.


‘’Ini sangat aneh. Di hari pertama aku muncul, semua orang menatapku dengan kebencian. Saat rumah makan selesai dibangun, tidak ada satu pun orang yang datang, meski brosur sudah dibagikan. Lalu bagaimana mungkin di hari kedua, rombongan sebanyak itu langsung datang?’’ bingung Ratu Rushi.


Hembusan angin malam membuatnya menggigil kedinginan, sehingga ia menutup jendela kamar.


......................


Keesonkan harinya, Ratu Rushi sudah menduga bahwa pelanggan akan bertambah semakin banyak. Beruntung, ia mengajari ketiga pria pengikutnya memasak, membuatnya menyerahkan tanggung jawab itu sebentar.


‘’Aku percaya kalian semua bisa mangatasinya. So gambatte ne minna?’’ kata Ratu Rushi.


‘’Meskipun tidak paham, saya mengerti. Tapi kalau boleh tahu, Yang Mulia ingin pergi ke mana?’’ tanya Yagyu.


‘’Aku ada urusan penting. Tidak tahu kapan pulangnya,’’ jawab Ratu Rushi.


‘’Yang Mulia akan meninggalkan kami?! Bagaimana kami akan hidup tanpa Yang Mulia?’’ tanya Shika.


‘’Shika, aku sedang tidak pergi memimpin ribuan pasukan untuk berperang,’’ jawab Ratu Rushi dengan wajah bodohnya.


‘’Bagaimana kalau kami melakukan kesalahan Yang Mulia?’’ tanya Usagi.


Ratu Rushi tersenyum dengan mata menyipit. ‘’Tidak apa-apa kalau kalian membuat kesalahan. Paling, aku tidak akan memberi jatah makan malam untuk hari ini.’’


Ketiga pria itu tersenyum dengan wajah kaku.


Wajah dan ucapan Yang Mulia sangat bertolak belakang, ucap ketiganya kompak dalam hati.


‘’Kalau begitu aku pergi dulu. Shitsurei shimasu(Permisi),’’ senyum Ratu Rushi sambil melambaikan tangan melewati pintu belakang.


Ketiga pria tadi langsung berbalik dan melihat para pelanggan yang sudah menunggu. Mereka menelan saliva dengan mata yang menyusuri orang satu persatu.


‘’Inilah yang aku coba sampaikan kepada Yang Mulia tadi. Kita belum membeli piring dan gelas tambahan,’’ kata Usagi.


‘’Apakah lebih baik piring dan gelasnya dibagi dua saja?’’ tanya Shika polos.


Yagyu dan Usagi menatap manusia setengah rusa bagal itu dengan wajah bodoh mereka.


......................


Rumah Bertarung


Byur!


Mozaru terbangun setelah dirinya disiram air dengan kasar.


‘’Bangun! Hari ini kau harus bertarung dengan serius. Jika kau seperti kemarin-kemarin dan tidak melakukan apa pun, maka ketua akan memberimu hukuman yang lebih berat!’’


Bugh!


‘’Ini makananmu! 45 menit lagi, kau akan turun ke arena.’’


Mozaru hanya berdecih melihat pria itu keluar. ‘’Sebelumnya mereka menghormatiku dan bersikap baik. Sekarang aku baru tahu kalau mereka adalah para penjilat.’’


Dengan lemah disertai lebam biru keunguan di seluruh tubuh, Mozaru meraih nampan yang hanya berisi roti kecil dan sedikit air.


‘’Cih! Mereka menyuruhku untuk bertarung, tapi memberiku makanan sedikit ini setiap hari,’’ kata Mozaru.


‘’17 tahun … Setiap hari dalam 17 tahun mereka memukul, mencambuk bahkan menyiksaku habis-habisan, hanya demi pertarungan. Selama di rumah bertarung, aku tidak pernah mendapatkan makanan yang layak seperti saat di rumah.’’ (Mozaru teringat)


Mozaru kembali mengingat pertarungan pertama dan keduanya mengalahkan Yagyu.


Setelah menerima cedera dariku, dia pasti kembali dipukuli dan disiksa karena kekalahannya. Dia mengalami hal ini selama 17 tahun. Dibandingkan dengan diriku yang hidup enak di istana, ini masih belum seberapa, ucapnya dalam hati.