Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 180 Masa Lalu Siruverash



Ratu Rushi memasuki kamar Siruverash sambil para prajurit dan pelayan membersihkannya. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah bingkai besar yang ditutupi kain. Ia pun memandangi bingkai tersebut sebelum menarik kain penutupnya.


Deg!


‘’Sepertinya saya mengerti setelah Tuan Siruverash menyebut kita para pembunuh. Itu semua karena orang yang ada di dalam bingkai ini ... Nona Lucy,’’ kata Ratu Agung yang tiba-tiba datang.


Nona Lucy? Aku tidak pernah menemukan namanya saat membaca buku sejarah itu, kata Ratu Rushi dalam hati.


‘’Saya tidak menyangka bisa melihatnya lagi di sini. Dia adalah adik kandung Tuan Siruverash, sekaligus ibu Anda.’’


Deg!


Ratu Rushi langsung tersentak setelah mendengar ucapan Ratu Agung. Ia pun menatap orang yang ada di dalam bingkai dengan mata terbelalak.


Ratu Agung mendongakkan kepala menatap foto Lucy. ‘’Saat itu kejadiannya juga terjadi di musim dingin….’’


Flashback on


Usia kandungan Lucy telah memasuki bulannya. Setelah suaminya meninggal karena penyakit misterius, hanya Siruverash yang selalu menemaninya setiap saat. Setiap hari, Siruverash akan selalu membuatkan makanan, mengajaknya jalan-jalan di sekitar istana untuk kesehatan janinnya, serta mengatasi semua kebutuhannya.


‘’Wah~ rangkaian bunganya sangat indah. Kakak, terima kasih,’’ senyum Lucy.


Siruverash sama tersenyumnya sambil meletakkan camilan. ‘’Anda harus banyak makan agar nutrisi untuk janin di dalam perutmu lengkap. Jangan terlalu banyak beraktivitas karena Anda akan kelelahan.’’


Lucy terkekeh membuat sang kakak mengerutkan dahi.


‘’Kenapa malah tertawa?’’ tanya Siruverash.


‘’Kakak seperti ibu saja yang selalu memastikan kebutuhan kita berdua,’’ senyum Lucy.


Siruverash tersenyum menampilkan deretan gigi sambil mengelus pucuk rambut adiknya. ‘’Lucy, sekarang hanya ada kita berdua. Ayah dan ibu sudah tiada begitu juga dengan kakek dan nenek kita. Satu-satunya keluarga yang saya miliki hanya Anda. Itulah kenapa saya harus menjaga Anda sangat baik.’’


Lucy langsung memeluk kakaknya itu. ‘’Kalau begitu, dalam keadaan apa pun, saya berjanji tidak akan meninggalkan Kakak.’’


‘’Saya juga berjanji untuk terus melindungi Anda,’’ senyum Siruverash membalas pelukan.


Malamnya, Lucy tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa dan mengalami pendarahan. Melihat hal itu membuat tabib membutuhkan tanaman khusus untuk ramuannya. Siruverash pun diutus bersama para prajurit untuk mencari tanaman tersebut di tengah badai salju.


‘’Saya telah menemukan tanamannya!’’ pekik Siruverash muncul dengan nafas terengah-engah.


‘’Nona Lucy telah melahirkan bayi perempuan,’’ kata Kepala pelayan Eris.


Siruverash terdiam membisu sambil menggendong bayi itu. Saking terharunya, ia meneteskan air mata. ‘’Lucy, bayi Anda sudah lahir. Jadi siapa namanya?’’


‘’Rushi. Namanya diambil dari penyebutan nama Nona Lucy,’’ kata Ratu Agung yang menggendong bayinya.


‘’Rushi, ya? Dia sangat cantik seperti Anda. Eh? Padahal bayinya baru saja lahir, tapi dia malah tidur,’’ senyum Siruverash.


Untuk sesaat semua orang saling memandang dengan wajah tegang, hingga akhirnya Ratu Agung mengangguk.


‘’Nona Lucy telah tiada.’’


Deg!


Siruverash yang merasa senang tadi langsung terpaku bersamaan senyumannya luntur. Ia menatap semua orang memastikan pendengarannya tidak salah. ‘’Apa yang terjadi?’’


‘’Nona Lucy menunjukkan tanda-tanda keguguran. Ada pendarahan vaginal. Jika itu terus berlanjut, maka Nona Lucy dan bayinya … Tidak akan aman. Salah satu dari mereka harus diselamatkan dan mengorbankan yang satunya,’’ kata Tabib.


‘’Dan Nona Lucy memilih mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan bayinya,’’ lanjut sang tabib.


Siruverash menatap Lucy yang saat ini terbaring dengan wajah tenang di kasur. Dilihatnya banyak darah di pakaian sang adik yang memenuhi saprai kasur. Saat itu juga butiran air matanya langsung terjatuh. Ia menyerahkan bayi tadi kepada kepala pelayan Eris lalu menghampiri adiknya.


Semua hanya menunduk dengan wajah sedih. Dengan tangan gemetar, Siruverash memegang tangan Lucy yang sudah dingin.


‘’Tidak, dia hanya tidur karena terlalu lelah, kan? Lucy tidak mungkin tiada,’’ kata Siruverash.


‘’Tuan Siruve—‘’


‘’Dia sudah berjanji tidak akan meninggalkanku!’’ seru Siruverash berdiri dan melotot yang disertai butiran air mata.


Dengan wajah tertahan, urat-urat di leher dan kening yang menegang serta kepalan tangan gemetar, Siruverash menggertak gigi. ‘’Hamba adalah kakaknya. Siapa? Siapa yang memberi hak kepada Yang Mulia untuk mengambil keputusan secara sepihak?!’’


Flashback off


‘’Semenjak hari itu, saya tidak pernah melihat Tuan Siruverash tersenyum lagi. Anda memiliki wajah sama persis dengan Nona Lucy yang tiada setelah melahirkan Anda. Mungkin itulah kenapa Tuan Siruverash sangat membenci Anda dan berusaha balas dendam, dan mengadopsi Rukaia yang yatim piatu sebagai keponakannya,’’ kata Ratu Agung.