Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 31 Menemani



‘’Heh, kalau tidak tahu apa yang terjadi, lebih baik jangan banyak bicara. Kami baru saja menerima 25 pelanggan, dan mereka sudah pergi,’’ kata Shika.


Pangeran Rodigero yang mendengarnya langsung terbelalak. ‘’Benarkah? Apakah Yang Mulia mendapatkan pelanggan?’’


‘’Iya. Meskipun aku juga bingung dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba,’’ jawab Ratu Rushi.


‘’Jelas-jelas kita sangat sibuk, tapi dia malah keluar untuk belanja,’’ kata Yagyu.


‘’Akhirnya! Yang Mulia aku turut senang,’’ kata Pangeran Rodigero menggenggam tangan Ratu Rushi.


‘’Hei! Jauhkan tanganmu dari Yang Mulia!’’ tegur Yagyu.


‘’Itu benar! Jangan menyentuh Yang Mulia sembarangan,’’ kata Shika.


Usagi menghela nafas. ‘’Kalian berdua hentikan.’’


Pangeran Rodigero tidak peduli dan malah meledek Yagyu dan Shika, membuat suasana kembali ribut seperti biasa. Ratu Rushi hanya pasrah menjadi korban keributan pria-pria itu.


......................


Istana


Sesekali Putri Rukaia melirik Raja Raion yang duduk membaca buku. Melihat pria itu bersikap tenang, membuatnya terpesona.


‘’Kenapa kau melirikku?’’ tanya Raja Raion tanpa mengalihkan pandangannya.


‘’E-Eh? Aku tidak bermaksud mengganggu Yang Mulia,’’ kata Putri Rukaia.


Kenapa Yang Mulia bisa tahu? Padahal aku sangat berhati-hati, ucapnya dalam hati.


Raja Raion yang menatap bukunya hanya menghela nafas.


Singa selalu mengetahui radar sekitarnya. Tanpa menoleh, aku bisa mendegar gerakan yang ditimbulkan sedikit saja, ucapnya dalam hati.


‘’Bagaimana perasaanmu?’’ tanya Raja Raion.


‘’Um, aku sudah agak baikan Yang Mulia,’’ jawab Putri Rukaia.


‘’Kalau kau sudah membaik, aku akan pergi,’’ kata Raja Raion.


‘’Tapi Yang Mulia?’’ tanya Putri Rukaia.


Melihat pria itu berjalan pergi, membuat Putri Rukaia langsung terbatuk. Raja Raion langsung menghampiri wanita itu.


‘’Kenapa kau langsung terbatuk?’’ tanya Raja Raion.


‘’Inilah yang aku berusaha katakan kepada Yang Mulia, tapi Anda salah paham. Tenggorokanku terasa sakit dan gatal Yang Mulia,’’ kata Putri Rukaia.


Tanpa membuang waktu, Raja Raion langsung memanggil tabib kerajaan. Tidak lama kemudian, orang yang dipanggil pun tiba, dan memeriksa kondisi Putri Rukaia.


‘’Ada apa?’’ tanya Raja Raion.


Tabib kerajaan memerintahkan Putri Rukaia untuk membuka mulut, agar bisa melihat kondisi di dalam. Namun, melihat tenggorokan wanita itu baik-baik saja, membuatnya bingung.


Putri Rukaia memberi kode dengan tatapan tajam, membuat sang tabib memasang wajah tegang.


‘’Kenapa wajahmu begitu tegang?’’ tanya Raja Raion.


‘’Mohon maaf Yang Mulia, sepertinya tenggorokan Putri Rukaia meradang. Hamba akan segera meramu obat,’’ jawab Tabib kerajaan.


Beberapa menit yang lalu, perutnya sakit lalu sekarang tenggorokannya meradang? Aku tidak tahu bagian tubuh mananya lagi yang akan sakit selanjutnya, kata Raja Raion dalam hati.


Tidak lama kemudian setelah tabib kerajaan meramu obat, ia membungkuk untuk pergi. Raja Raion menghampiri Putri Rukaia yang bersandar di kepala kasur.


‘’Maaf telah merepotkan Yang Mulia, uhuk!’’ kata Putri Rukaia.


‘’Tidak apa-apa. Kau sudah seperti adik bagiku,’’ kata Raja Raion.


......................


Desa


Pangeran Rodigero membantu yang lainnya untuk membersihkan rumah makan. Ia dan Ratu Rushi mengurus lantai satu, sedangkan Yagyu, Shika dan Usagi mengurus lantai dua.


‘’Pangeran Rodigero, Anda tidak perlu sampai bekerja. Aku bisa mengurus semuanya,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Aku senang melakukannya bersama Yang Mulia,’’ senyum Pangeran Rodigero meletakkan tumpukan piring kotor.


Ratu Rushi tahu kalau Pangeran Rodigero melakukan ini untuk wanita yang dicintainya. Tapi di dalam tubuh ratu adalah bukan lagi jiwa wanita itu, melainkan jiwa yang berbeda dari masa depan.