Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 97 Seven Food's



Ratu Agung meraih makanan berbentuk bulat dua lapis lalu mengigitnya. Ia tidak peduli lagi harus menggunakan tangan secara langsung, karena cara makannya memang seperti itu.


‘’Makanan ini dibuat dari campuran tepung, gula pasir, telur dan air. Kedua bagian dipanggang terpisah. Setelah hampir matang, keduanya disatukan dengan selai kacang merah di dalamnya. Makanan ini disebut Dorayaki. Tiga dorayaki lainnya diisi cokelat, keju dan sosis,’’ kata Usagi.


‘’Kalau yang berbentuk bintang berwarna-warni ini apa?’’ tanya Ratu Agung.


‘’Oh itu adalah permen tradisional Jepang. Namanya kompas ... Kempes … Ah yang benar adalah kompeito. Namanya berasal dari bahasa postur eh maksud hamba Portugis, yang berarti kura-kura ehem! Gula-gula Ratu Agung,’’ kata Shika menunduk.


Semua orang memasang wajah bodoh mendengar penjelasan manusia setengah rusa itu yang sejak tadi selalu salah.


‘’Haa, sejak tadi aku selalu makan yang manis-manis. Apakah makanan yang berbentuk spiral ini juga manis?’’ tanya Ratu Agung.


Hana memberitahu kalau dugaannya tidak benar. Makanan itu hanya jajanan ringan yang terbuat dari kentang seutuhnya.


Mendengar hal itu membuat Ratu Agung meraih tusukannya. ‘’Kalau begitu kebetulan sekali. Ini akan menjadi makanan penutup.’’


‘’Makanan ini adalah twist potatoes, dimana kentang utuh goreng yang dipotong spiral dan dihidangkan dengan tusuk, serta dibumbui berbagai penyedap rasa seperti bawang, keju dan madu. Hamba harap makanannya tidak gagal agar nyawa Yang Mulia selamat,’’ kata Kujaku.


Ratu Agung hampir saja tersedak setelah mendengar ucapan pria itu. Hana dan yang lainnya bahkan menepuk jidat, menutup mata dan menunduk karena ulah Kujaku.


Dia terlalu polos atau bodoh sampai mengatakan hal itu dengan mudah, kata keenam orang lainnya kompak dalam hati.


‘’Nyawa Ratu Rushi? Apa yang membuat nyawanya sampai terancam jika makanan ini sampai gagal?’’ bingung Ratu Agung.


Hana sedikit berdehem dan membungkuk. ‘’Mohon maaf atas kelancangan hamba Ratu Agung. Sebelum meminta kami membuat hidangan ini, Yang Mulia meminta sesuatu jika Ratu Agung terkesan.’’


‘’Meminta sesuatu?’’ tanya Ratu Agung.


Untuk sesaat Hana sedikit ragu untuk menyampaikan permintaan Ratu Rushi.


Namun, karena melihat kediamannya, membuat Ratu Agung memberi perintah agar segera bicara.


Setelah sarapan pagi, Ratu Rushi memberikan lembaran kertas secara diam-diam kepada Hana.


‘’Yang Mulia, apa ini?’’ tanya Hana.


‘’Dengar baik-baik. Aku sudah menuliskan 7 resep hidangan yang akan kalian buat untuk Ratu Agung. Untuk masalah Kujaku, aku memberinya hidangan yang sangat mudah, jadi tidak perlu khawatir,’’ kata Ratu Rushi.


Hana tidak yakin jika mereka bisa membuat hidangan itu meskipun ada resep tertulis. Ia takut kalau hidangannya sampai gagal dan membuat Ratu Agung marah.


‘’Kumohon, hanya kalian yang bisa melakukannya. Aku dikurung di dalam kamar jadi tidak bisa melakukan apa pun. Nyawaku bergantung kepada hidangan yang kalian buat. Jadi aku percayakan kepada kalian,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Tapi kami tidak seahli Yang Mulia,’’ kata Hana.


‘’Jika kalian mengikuti resepnya dengan baik, maka hasilnya juga tidak akan membohongi. Aku sudah menjelaskan sedikit mengenai hidangan yang kalian buat, jadi jika Ratu Agung bertanya, cukup ikuti saja yang tertulis di dalam kertas,’’ kata Ratu Rushi.


Hana mengangguk mengerti dan berusaha sebaik mungkin untuk membuat hidangan itu bersama yang lainnya nanti.


‘’Oh iya, ini hanya dugaanku saja. Tetapi misalkan Ratu Agung terkesan, maka beritahu kepadanya kalau aku memiliki permintaan,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Permintaan apa Yang Mulia?’’ tanya Hana.


‘’Dia adalah Ratu Agung sekaligus pemegang keputusan tertinggi di sini. Aku ingin dia membebaskanku dari hukuman tahanan Raja Raion.’’


Flashback off


‘’Yang Mulia juga berjanji akan membuat hidangan lezat seperti ini setiap hari untuk Ratu Agung jika sudah dibebaskan,’’ kata Hana.


Ratu Agung tersenyum remeh sambil menundukkan kepala sedikit.


Jadi dia menyogokku secara halus menggunakan hidangan buatannya? Cukup licik dan cerdas tapi aku terkesan, ucapnya dalam hati.