Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 124 Gerutu



Akhir-akhir ini sedikit tenang. Jika di istana, pasti dihadapan keributan Shika dan yang lainnya lagi. Tapi itu sudah menjadi kebiasaan. Aku jadi merindukan mereka semua. Kira-kira, bagaimana kabar mereka, ya? Terutama pria itu, kata Ratu Rushi dalam hati.


......................


Tepi Pantai


Terlihat Raja Raion menatap lautan yang membentang di depannya. Sudah beberapa hari ini, ia berada di tempat tersebut demi mencari Ratu Rushi.


Kulit Yang Mulia semakin pucat karena harus berada di tempat terbuka di musim dingin seperti ini, kata Tora dalam hati.


‘’Beberapa hari ini Yang Mulia belum makan atau beristirahat dengan baik. Jika Yang Mulia seperti ini, nanti bisa jatuh sakit,’’ kata Tora.


‘’Bagaimana saya bisa melakukannya sedangkan Ratu Rushi juga kesulitan di luar sana?’’ tanya Raja Raion.


‘’Tapi Yang Mulia? Ratu Rushi sudah me—‘’ ucapan Tora terpotong saat sang Raja menatapnya dengan sorot mata tajam.


Tora hanya menunduk dan meminta maaf atas perlakuan tidak sopannya. Sedangkan Raja Raion, kembali menatap lautan. Di dalam lubuk hatinya paling dalam, ia merasa yakin kalau wanita itu masih hidup, tidak peduli telah ditelan oleh seekor buaya besar. Ia menghela nafas sehingga asap yang keluar dari mulutnya terlihat jelas.


......................


Hana dan yang lainnya saling memandang satu sama lain dengan wajah masam. Padahal mereka sudah membujuk Pangeran Rodigero dengan menyajikan masakan Ratu Rushi agar pria itu makan. Tapi, sang Pangeran tidak menyentuh satu pun makanan di depannya.


‘’Hamba mohon agar Pangeran Rodigero jangan keras kepala. Anda belum makan sejak beberapa hari ini. Pikirkan, bagaimana cemasnya Ratu Agung jika sampai tahu hal ini?’’ tanya Hana.


Akhir-akhir ini Pangeran Rodigero tidak bisa tidur dengan tenang. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas dan bibirnya juga sedikit pucat. Kurang lebih hampir sama dengan kondisi Raja Raion.


Yagyu menghela nafas panjang dan mengambil salah satu piring lalu meletakkannya di depan Pangeran Rodigero. ‘’Maaf jika hamba lancang, tapi tidak ada gunanya seperti ini terus. Melihat keras kepala Pangeran dan Yang Mulia Raja, apakah Yang Mulia akan menyukainya?’’


Deg!


‘’Kami semua juga belum pernah makan dan istirahat dengan baik sampai saat ini. Tapi itu tidak berarti sebelum Anda dan Yang Mulia Raja kembali seperti biasa. Jika Pangeran tidak bisa menjaga kesehatan dengan benar, bagaimana Anda akan menemukan Yang Mulia dalam kondisi buruk?’’ tanya Yagyu.


Pria itu kembali tersadar kalau sekarang bukan saatnya untuk keras kepala. Ia berdiri dan berjalan keluar untuk menghampiri kakaknya yang juga sedang terpuruk.


......................


Istana


Ratu Agung menghela nafas untuk kesekian kalinya. Semenjak kembali ke istana, ia hanya bersandar di kepala tempat tidur sambil memasang wajah sendu. Makan pun hanya sedikit, karena ia merindukan kedua putranya yang masih belum kembali.


Putri Rukaia yang menemaninya setiap saat, hanya menghela nafas sambil memutar bola matanya malas.


Aku hidup bukan untuk menghabiskan waktuku mengawasi wanita tua ini sepanjang hari. Memangnya aku pelayannya sampai harus mengurusi semua kebutuhannya? Hhah! Sampai kapan aku harus bersabar? Seharusnya saat ini aku sudah dinobatkan menjadi ratu karena kakak sudah tiada. Kenapa Yang Mulia harus mencari orang yang mati? Bahkan setelah kakak tiada, wanita itu tetap tidak membiarkanku hidup tenang. Benar-benar membuat orang emosi, gerutunya dalam hati.


‘’Putri Rukaia sepertinya terlihat marah.’’


‘’Saya tidak marah, tapi sangat marah!’’ kesal Putri Rukaia.


Saat itu juga ia tersadar begitu melihat wajah kaget Ratu Agung. Ia sedikit menganga dengan wajah gusar. ‘’Hem! Mohon maaf Ratu Agung. Maksudnya, saya sangat marah karena tidak bisa melakukan apa pun untuk mengobati rasa rindu Ratu Agung kepada Yang Mulia Raja dan Pangeran Rodigero.’’


Ratu Agung menghela nafas disertai senyuman. ‘’Maaf sudah membuat Putri Rukaia mencemaskan saya.’’


‘’Tidak sepantasnya Ratu Agung meminta maaf. Saya yang seharusnya meminta maaf karena sudah membuat Ratu Agung sampai meminta maaf,’’ kata Putri Rukaia.


Meskipun kau memang pantas meminta maaf kepadaku, karena sudah membuatku melakukan hal yang tidak berguna seperti ini, ucapnya dalam hati.