Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 133 Ajaran



Istana


Untuk pertama kalinya Putri Rukaia merasa tenang dan damai berada di istana. Mengingat sebelumnya Ratu Rushi kembali ke istana dan membawa para pengikutnya untuk membuat kekacauan, membuatnya tidak pernah hidup tenang.


‘’Haa … Baguslah para sampah pungut itu tidak kembali ke istana lagi. Dengan begitu, semuanya kembali seperti semula kepada tempatnya.’’


Ia menatap butiran salju yang berjatuhan dari langit dan menyentuh tanah. Seperti butiran itu meninggalkan langit lalu menuju ke tanah dan menghilang, maka seperti itu juga kakaknya yang meninggalkan istana dan menuju ke tanah.


‘’Sekarang tinggal menunggu waktu dimana penobatanku sebagai Ratu dilakukan,’’ senyum miring Putri Rukaia.


......................


Desa


Semua orang mungkin membuka rumah makan dan toko kue seperti biasa. Tapi, seperti tubuh yang kehilangan jiwanya, maka seperti itu juga yang sedang terjadi di desa. Bagi mereka, Ratu Rushi adalah jiwa dari tempat itu. Lalu di saat jiwa pergi meninggalkan tubuh, maka hanya kekosongan dan kehampaan yang ada.


Ratu Rushi banyak mengajarkan mereka sesuatu yang sangat penting untuk sebuah hubungan keluarga. Dan setidaknya, wanita itu memiliki peninggalan yang sangat berharga yaitu hidangan makanan surgawi.


Yagyu dan lainnya juga tidak kembali ke istana. Bagi mereka, sudah tidak ada alasan lagi untuk ke sana. Sebab alasan mereka menuju ke tempat itu hanyalah karena Ratu Rushi. Tapi wanita itu sudah tiada, membuat mereka memilih untuk tinggal di desa dan kembali ke rumah makan.


Para pengikut Ratu Rushi menatap rumah makan yang terlihat kosong itu. Sebelumnya rumah makan tersebut selalu ramai dimasuki pelanggan. Sesekali semuanya melihat bayangan mereka bersama Ratu Rushi saat masih berada di rumah makan tersebut.


‘’Kita memiliki banyak kenangan di tempat ini sebelum menuju ke istana,’’ kata Usagi.


‘’Yang Mulia yang memasak dengan ceria, lalu kita semua akan mengantarkan masakannya kepada pelanggan,’’ kata Yagyu.


‘’Meskipun selalu membuat masalah, tapi Yang Mulia tidak pernah memarahi kita satu kali pun,’’ kata Shika.


‘’Hanya Yang Mulia seorang diri yang mengulurkan tangan kepada orang buangan seperti kita,’’ kata Mozaru.


‘’Tidak ada orang yang sebaik dirinya di tempat ini,’’ kata Kitsune.


Mereka hanya diam sambil memasang wajah sendu dengan mengingat sang Ratu.


......................


Ratu Rushi menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya. Ia menatap Kamereon yang seperti memberikan pendidikan kepada Wani agar pria itu bisa bersikap sedikit lebih sopan.


Mengingat sebelumnya, kedua pria tadi tidak bisa diam membuat Kamereon menantang Wani untuk menemukannya. Jika dalam waktu yang disebutkan, Wani tidak berhasil menemukannya, maka pria itu kalah dan harus mengikuti semua perintahnya.


Ya, inilah yang terjadi di depan mata Ratu Rushi. Karena Wani kalah dan tidak bisa menemukan Kamereon yang berubah warna, membuatnya mau tidak mau harus menuruti perintah pria bunglon itu.


Kamereon sesekali menepuk kayu karena Wani sedikit-sedikit cepat marah. Melihat kadal itu mengajari sang buaya membuat senyuman terukir di bibir Ratu Rushi.


Setidaknya ini pendidikan untuk melatih emosi Wani. Good job Kamereon, kau seperti seorang guru saja, kata wanita itu dalam hati.


Tiba-tiba dari celah jendela, terlihat kepakan sayap membuat ketiga orang tadi mendongakkan kepala. Wani langsung berdiri begitu mengetahui sosok yang ada di luar tidak lain adalah Taka.


‘’Ush, jangan ribut. Bisakah kalian membuat celah ini semakin lebar agar aku bisa masuk?’’


‘’Tidak bisa. Kita berada di sel paling bawah dan jeruji besi ini terhubung ke bangunan atas. Jika menghancurkannya, maka tembusan dari celah ini akan roboh ke bawah,’’ kata Kamereon.


‘’Aku juga tidak bisa berlama-lama di sini. Sebelum elang kasar itu menemukanku, dia tidak boleh tahu kalau aku salah satu pengikut dari Yang Mulia,’’ kata Taka.


‘’Elang kasar? Apakah Washi? Kau bertemu dengannya?’’ tanya Ratu Rushi.


Taka mengangguk. ‘’Elang yang satu itu menjadi pengawas di tempat ini. Butuh waktu yang lama untuk mengecohnya agar aku bisa kemari. Sepertinya dia memastikan agar Yang Mulia tidak kabur dari tempat ini.’’


Menyadari sesuatu mendekat membuat Taka hendak pergi. Ratu Rushi hanya memerintahkannya seperti biasa untuk mengawasi sekitar, dan elang peregrine tersebut mengangguk dan terbang pergi.


‘’Kamereon, kau sudah lama berada di sini. Beritahukan semua yang kau ketahui tempat ini,’’ kata Ratu Rushi.