Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 136 Perubahan Sikap



Hana melangkahkan kakinya begitu tergesa-gesa, sampai akhirnya berjumpa seseorang. Matanya melotot dan langsung bersujud. ‘’Hamba mohon maaf Tuan Siruverash!’’


Sebelah alis Siruverash terangkat. Padahal mereka berdua hanya berjumpa tapi wanita itu malah bersujud dan meminta maaf kepadanya. ‘’Oh, pelayan Ratu Rushi, ya? Saya belum melakukan apa pun kepadamu, kenapa sudah meminta maaf?’’


‘’I-Itu … Hamba hampir saja menabrak Tuan Siruverash, jadi hamba meminta maaf,’’ kata Hana gemetar.


Siruverash tidak peduli dan kembali melangkahkan kakinya untuk pergi.


Hana yang masih bersujud, menolehkan kepala melihat pria itu penuh kebencian. Tangannya mengepal sambil matanya memanas.


‘’Hana? Kenapa kau bersujud di lantai?’’


Wanita yang dipanggil tadi mendongakkan kepala dan melihat Pangeran Rodigero yang kebingungan. Ini kesempatan yang sangat pas bisa bertemu dengan pria itu.


......................


Penjara Pengasingan


Ratu Rushi mengerutkan dahi melihat Wani sedikit diam hari ini. Ia menatap Kamereon dan bertanya apakah mereka bertengkar lagi, tapi pria bunglon itu hanya menggeleng dan mengatakan kalau hubungan mereka baik-baik saja.


Tidak lama kemudian, penjaga membawakan makan malam. Begitu jeruji sel dibuka, Wani langsung menghampiri penjaga tadi dan mengambil nampan tersebut.


‘’Kau bisa mengunci selnya kembali,’’ kata Wani.


Ia pun menghampiri Ratu Rushi dan melayani wanita itu dengan sangat baik.


Ratu Rushi yang melihatnya mengerutkan dahi, berbeda dengan Kamereon yang senang pria itu akhirnya sadar.


‘’Silahkan dimakan Yang Mulia,’’ kata Wani.


Mendengar ucapan Wani dan nada suaranya yang lebih sopan, semakin membuat Ratu Rushi bingung. Ia pun mengulurkan tangan dan menyentuh kening Wani untuk mengecek suhu tubuhnya, memastikan pria itu tidak sakit.


‘’Kenapa kau! Hem! Maksudku kenapa Yang Mulia menyentuhku? Itu tidak baik,’’ kata Wani.


‘’Berapa jari tanganku?’’ tanya Ratu Rushi menyembunyikan ibu jari dan kelingkingnya.


‘’Ada 8 buah,’’ jawab Wani.


‘’Apa kau bisa membedakan kami berdua?’’ tanya Ratu Rushi.


Sebelah alis Ratu Rushi terangkat. ‘’Kau masih waras seperti biasa.’’


‘’Tentu saja aku masih waras! Siapa yang bilang aku gila?! Um … Hem!’’ kata Wani.


‘’Lalu ada apa dengan perubahanmu yang tiba-tiba seperti ini?’’ tanya Ratu Rushi.


Kamereon sibuk memakan rotinya. ‘’Sepertinya dia takut setelah melihat Yang Mulia menghajar ketua para tahanan itu.’’


Ratu Rushi menatap Wani dimana pria itu langsung membuang wajah. Ia pun memicingkan mata dan memukul punggung pria tadi. ‘’Eii~ kau tidak perlu memaksakan diri untuk mengubah diri.’’


Wani melotot ke arah wanita itu karena hampir membuatnya hampir tersedak. Di saat bersamaan, tangan Kamereon melayang dan menampar kepala pria tadi.


‘’Ck! Sudah kubilang bertingkah sopanlah kepada Yang Mulia!’’ tegur Kamereon.


‘’Hei kau! Kadal daun!’’ seru Wani membuat Kamereon kembali menamparnya di bagian kepala.


‘’Oho! Tidak sopan meneriaki guru seperti itu!’’


Ratu Rushi hanya terkekeh melihat pemandangan tersebut. Ia pun meraih roti dan menyuruh kedua pria tadi melanjutkan pertunjukkan mereka.


......................


Kamar Pangeran Rodigero


Dengan sorot mata yang tajam, rahang dan urat-urat menegang disertai gertakan gigi sambil mengepalkan tangan, Pangeran Rodigero telah dikuasai amarah. ‘’Jadi … Mereka berdua yang telah merencanakan pembunuhan Yang Mulia? Jangan-jangan alasan pengasingan Yang Mulia juga adalah ulah mereka berdua.’’


‘’Itulah yang hamba dengar dari pembicaraan Aruse bersama yang lainnya Pangeran,’’ kata Hana yang duduk di lantai.


Saat itu juga Pangeran Rodigero berdiri dan bergegas menghampiri Siruverash dan Putri Rukaia. Namun, Hana langsung mencegahnya dan meminta ampun karena telah berani melakukan hal itu.


‘’Tidak ada yang bisa menghentikanku saat ini. Orang yang telah membunuh Yang Mulia tidak pantas hidup dengan damai!’’ marah Pangeran Rodigero.


‘’Tapi Pangeran, setidaknya pikirkan apa yang akan Yang Mulia lakukan dalam situasi seperti ini. Tuan Siruverash sangat sulit dihadapi. Tidak ada yang bisa melawannya kecuali Yang Mulia. Kita semua tahu Yang Mulia orangnya seperti apa. Yang Mulia selalu membalas dengan cara kejutan. Jadi, hal yang seharusnya dilakukan adalah mengumpulkan bukti. Barulah kedua orang itu dibalas. Hamba minta maaf karena memberikan nasihat seperti ini,’’ kata Hana.


Pangeran Rodigero memejamkan mata dan menarik nafas dengan tertahan. ‘’Aku tidak akan mengampuni mereka berdua.’’