Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 58 The First Person



Istana


Washi berlutut seperti biasa di depan Siruverash. ‘’Hamba datang sesuai panggilan Anda.’’


‘’Ada alasan kenapa aku tiba-tiba memanggilmu. Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya, apakah Pangeran Rodigero sudah ada lebih dulu di rumah makan sebelum kau tiba?’’ tanya Siruverash.


‘’Selama mengawasi Ratu Rushi, hamba tidak melihat tanda-tanda Pangeran Rodigero ada di sana. Ratu Rushi hanya duduk terus di kursi, dan tidak membuka rumah makan,’’ jawab Washi.


Itu berarti Pangeran Rodigero memang tidak berbohong. Dengan kata lain, Yang Mulia masih belum bertemu dengan Ratu Rushi, kata Siruverash dalam hati.


‘’Bukankah Tuan menyuruh hamba untuk mencegah mereka bertemu?’’ tanya Washi.


‘’Lupakan itu. Yang Mulia sedang pergi berburu. Tidak mungkin dia akan menghampiri Ratu Rushi,’’ kata Siruverash.


‘’Katakan padaku. Apakah Yang Mulia tidak bertemu dengan kakak?’’ tanya Putri Rukaia.


‘’Tidak Putri. Hamba tidak pernah mengalihkan pandangan dari rumah makan. Ratu Rushi tidak pernah keluar dan juga tidak ada tanda-tanda dari Yang Mulia Raja yang berniat datang ke sana,’’ kata Washi.


Putri Rukaia menghela nafas lega, meskipun ia masih belum lega sepenuhnya sebelum Raja Raion kembali.


‘’Tapi, Paman? Kenapa kita tidak menyuruh Washi untuk mengawasi kakak saja sampai Yang Mulia kembali,’’ usul Putri Rukaia.


‘’Washi tidak pernah berbohong kepadaku, karena itulah aku sangat percaya kepadanya. Cemas berlebihan itu tidak baik, jadi singkirkan pikiran buruk yang tidak penting itu dari otak Anda,’’ kata Siruverash.


Putri Rukaia menghela nafas panjang. Mau tidak mau, ia terpaksa menuruti perintah pamannya itu.


Tapi aku memiliki firasat kalau kakak akan bertemu dengan Yang Mulia. Firasat seorang wanita itu tidak pernah salah, ucapnya dalam hati.


......................


Kediaman Ratu Agung


Pangeran Rodigero menoleh dengan alis berkerut. ‘’Kakak keluar berburu lagi?’’


‘’Ya, seperti biasa. Tapi saya pikir Anda keluar bersama Yang Mulia,’’ kata Ratu Agung.


Apakah kakak sungguh pergi berburu? Para prajurit yang sering dia bawa masih ada di istana. Selain itu, sekarang sedang musim dingin, dan kakak tidak pernah pergi berburu di musim ini. Jangan-jangan kakak berbohong dengan mengambil alasan pergi berburu, ucapnya dalam hati.


......................


Desa


Raja Raion menatap keempat pria yang duduk bersila di bawahnya. Dilihatnya mereka hanya tersenyum kecuali Mozaru yang pembawaannya selalu serius.


‘’Jadi, banteng ini yang telah mengalahkan dirimu Mozaru?’’


‘’Eh? Benar Yang Mulia,’’ jawab Mozaru.


Heh, di antara semua orang, kenapa harus saya yang pertama kali?! Hiks, kata Yagyu dalam hati menangis.


Melihat tatapan Raja Raion ke arahnya, membuat Yagyu sedikit kaku.


‘’Kalau begitu, perlihatkan pertarungan kalian sekali lagi kepadaku!’’ perintah Raja Raion.


Semua orang terkejut, terutama manusia setengah banteng dan manusia setengah badak itu.


‘’Sekarang Yang Mulia?’’ tanya Yagyu dan Mozaru kompak.


‘’Tahun depan. Tentu saja sekarang! Dan tempatnya di sini,’’ kata Raja Raion.


‘’Aku menolak!’’ seru Ratu Rushi.


Sekali lagi semua orang terkejut terutama Raja Raion, karena ini pertama kalinya ada yang membentak seorang Raja.


‘’Aku ini Raja. Beraninya Anda bersikap seperti itu,’’ kata Raja Raion.


Ratu Rushi menghela nafas kasar sambil menghampiri pria itu. ‘’Aku juga seorang Ratu. Selain itu, aku adalah pemilik rumah makan ini, jadi pembuat keputusan tertinggi di sini adalah diriku. Jadi, aku menolak dan sebaiknya Yang Mulia pergi dari sini.’’


Heh? Wanita ini baru saja mengusirku? Di depan semua orang? Wah? Aku benar-benar tidak menyangka, kata Raja Raion dalam hati.