Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 164 Menikam dari Belakang



Setelah pintu tertutup, Ratu Agung hampir terjatuh yang saat ini dalam kondisi menangis. Mengingat salah satu putranya telah tiada, membuatnya sangat terluka. Ia menyesal karena telah mempercayai Ratu Rushi yang selama ini bertingkah baik hanya demi mendapatkan kepercayaannya.


Untuk pertama kalinya, Siruverash merasa damai dengan menghirup udara kebebasan di ruangan itu. Sama halnya dengan Putri Rukaia, wanita itu menatap singgasana yang sebentar lagi akan ia duduki.


Bidak yang susah diatur, sudah seharusnya disingkirkan. Humphehe … Setelah menghancurkan pondasi dasar(Raja sebelumnya) ... Sekarang pilar(Ratu Rushi) dari kerajaan juga sudah dirobohkan. Tidak ada yang akan mengganggu rencanaku lagi. Saatnya Kerajaan Aslan menuju kehancuran, kata Siruverash dalam hati.


Akhirnya kakak benar-benar meninggalkan kerajaan ini. Setelah pemakaman Pangeran Rodigero selesai, hanya tinggal menghitung waktu sampai diriku dinobatkan menjadi Ratu yang sah, dan akan menduduki singgasana itu bersama Yang Mulia, kata Putri Rukaia dalam hati.


Kedua orang itu saling bertatapan dan tersenyum sambil menganggukkan kepala, yang menyatakan rencana mereka telah berhasil. Di saat semua orang berduka, keduanya malah merasa senang karena telah mencapai tujuan mereka.


‘’Ratu Rushi tidak akan dihukum seorang diri,’’ kata Raja Raion membuat semua orang langsung menatapnya.


Pria itu menatap Siruverash dan Putri Rukaia dengan wajah kusut, membuat keduanya merasa tidak enak.


‘’Mereka berdua memiliki hubungan keluarga dengan Ratu Rushi. Jadi mereka juga adalah seorang penghianat dan akan dijatuhkan hukuman.’’


Deg!


Siruverash dan Putri Rukaia terpaku di tempat. Keduanya langsung bersujud dan meminta maaf. Mereka memohon kepada sang Raja agar menarik perkataannya.


Mata Raja Raion memicing. ‘’Kalian memerintahku?’’


‘’Kami tidak berani Yang Mulia. Tapi, saya bisa menjamin kalau rencana Ratu Rushi tidak ada hubungannya sama sekali dengan kami berdua,’’ kata Siruverash.


‘’Kau yang telah mengusulkan kami semua untuk menyergap Ratu Rushi,’’ kata Raja Raion.


‘’Itu kelalaian saya Yang Mulia. Saya benar-benar tidak tahu kalau Pangeran Rodigero akan dihabisi,’’ kata Siruverash.


‘’Turunkan Perdana Menteri dari jabatannya, dan cabut status bangsawan Putri Rukaia! Asingkan kedua orang ini agar meninggalkan Negeri Aslan!”


Para prajurit pun menghampiri dan menyeret mereka keluar. Rukaia berusaha meronta-ronta sambil mengulurkan tangan ke depan.


Tidak! Singgasana-ku! Cih, Paman mungkin akan dihukum tapi aku tidak akan membiarkan diriku pergi dari kerajaan ini, kata Rukaia dalam hati.


Saat itu juga, ia menendang prajurit yang menyeretnya lalu berlari ke arah Ratu Agung, dan bersujud mencium tanah.


‘’Saya mengaku salah jika memang dianggap sebagai penghianat! Tapi Ratu Agung, tolong ampuni saya! Kalau Anda ingin menghukum kami, hukum Paman saja! Ini salahnya karena tidak menuruti ucapanku untuk menangkap kakak saja,’’ kata Rukaia.


Siruverash yang mendengarnya langsung melotot. ‘’Kau! Beraninya!’’


‘’Saya sudah memperingati Paman, kan?! Sebelum terjadi hal buruk di istana, lebih baik tangkap saja kakak! Tapi Paman tidak mendengar. Lihat? Gara-gara Paman keras kepala, Pangeran Rodigero telah tiada!’’


‘’Eish! Wanita ular ini … Lepaskan!’’ seru Siruverash hendak menghampiri Rukaia tapi ditahan oleh para prajurit.


Ia berusaha meronta-ronta sambil memasang wajah merah padam.


‘’Ratu Agung, saya selalu menganggap Anda sebagai seorang ibu. Kalau seorang anak melakukan kesalahan, maka mereka berhak mendapatkan kesempatan dari ibunya. Selama ini, saya selalu mengabdikan diri kepada Ratu Agung tanpa pamrih. Apakah ketulusanku tidak berarti?’’ tanya Rukaia.


Ratu Agung terdiam. Selama ini, memang hanya Rukaia yang selalu melimpahkan perhatiannya dengan mengunjunginya setiap saat, dan merawatnya ketika jatuh sakit. Rasanya memang tidak adil jika mengabaikan ketulusan wanita itu.


‘’Baiklah. Aku memberi pengampunan kepada Rukaia. Tapi sebagai gantinya, kau akan menjadi pelayan istana dan bukan seorang putri lagi!’’


‘’Tidak masalah! Saya menjadi penjaga kandang pun juga tidak apa-apa. Saya berjanji tidak akan mengeluh dan menerima posisi itu tanpa keraguan,’’ kata Rukaia.


Ratu Agung menatap sang Raja dengan maksud meminta persetujuan darinya. Raja Raion terdiam untuk sesaat hingga akhirnya menerima keputusan itu. Rukaia merasa bersyukur sedangkan Siruverash tidak menyangka sang Raja memberi kesempatan.


Wanita ini menggunakan Ratu Agung sebagai batu loncatannya. Dia telah menusukku dari belakang dan menghianatiku, kata Siruverash dalam hati.