Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 167 Pembunuh Bayaran



Setelah memastikan semuanya telah matang, Raja Raion pun memerintahkan semuanya untuk beristirahat, karena malam juga sudah semakin larut. Ia juga memerintahkan Tora untuk mengurus persiapan besok, membuat manusia setengah harimau itu membungkuk sebelum pergi.


Raja Raion mendongakkan kepala melihat butiran salju dari jendela kemah. Ia terdiam sambil mengingat semuanya dari awal sampai sekarang. Matanya tertutup bersamaan tangan mengepal. Menyadari seseorang masuk, membuatnya kembali membuka mata dan menoleh.


Salah satu prajurit membawakan botol minuman yang baru lalu mengambil botol yang kosong. Tidak ingin terbebani banyak pikiran, Raja Raion menghampiri meja lalu menuangkan isi botol tadi ke cangkir dan meneguk isinya.


Deg!


Tiba-tiba tubuhnya tidak bisa bergerak layaknya membatu sehingga dirinya terjatuh ke tanah. ‘’A-Apa yang terjadi? Kenapa tubuhku tiba-tiba lemas bukan main?’’


Kepalanya kembali menoleh ke arah botol yang dibawa prajuritnya tadi. Saat itu juga matanya membulat besar begitu menyadari sesuatu. ‘’Minumannya….’’


‘’Benar sekali. Saya tahu Yang Mulia tidak akan meminumnya jika saya yang membawanya. Jadi saya mengutus salah satu prajurit untuk membawanya. Itu ramuan untuk melumpuhkan tubuh 48 jam.’’


Raja Raion tersentak begitu mendengar suara tersebut. Ia berusaha menoleh tapi tubuhnya sangat lemas untuk digerakkan, sampai akhirnya sosok itu berdiri di depannya. Dilihatnya seorang wanita yang tidak lain adalah Rukaia.


‘’Ramuan Paman bekerja seperti biasa,’’ kata Rukaia membuat sang Raja tersentak.


Sang Raja menatap wanita tadi dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan. Meskipun tidak bertanya, tapi mendengar ucapan Rukaia tadi membuatnya mengerti sekarang. Wanita itu hanya berpura-pura menghianati Siruverash dan berada di pihaknya dengan meminta dukungan Ratu Agung.


‘’Pada akhirnya, Anda tetap seorang penghianat,’’ kata Raja Raion.


Rukaia memicingkan mata. ‘’Anda yang membuatku menjadi seorang penghianat.’’


Raja Raion mengerutkan dahi tanda bingung. ‘’Kenapa malah menyalahkan diriku?’’


Wanita tadi mengeluarkan semua uneg-unegnya di depan sang Raja yang tidak berdaya. Sejak kecil, ia selalu memperhatikan sang Raja dari jauh, bahkan kemanapun sang Raja pergi, ia akan selalu mengikutinya. Ia akan melakukan apa pun dan membuatkan sesuatu untuk sang Raja, tapi tidak pernah dipedulikan. Sampai sekarang pun ia masih menyukai sang Raja. Tapi perasaan, perjuangan dan keberadaannya tetap saja tidak diakui.


Butiran air mata Rukaia terjatuh. ‘’Kenapa hanya kakak yang selalu mendapatkan semuanya dengan mudah? Kenapa? Kenapa?!’’


‘’Itu karena di dalam hatimu tidak pernah ada ketulusan sama sekali,’’ kata Raja Raion.


Raja Raion memicingkan mata. ‘’Setelah mendengar ucapanmu tadi, saya tersadar akan sesuatu. Apa Anda dan Tuan Siruverash yang merencanakan konspirasi pengasingan Ratu Rushi sebelumnya?’’


Deg!


Rukaia menggertak gigi sambil mengepalkan tangan. Padahal ia sudah mengungkapkan semua perasaannya kepada Raja Raion. Tapi pria itu masih saja peduli dengan Ratu Rushi.


‘’Kediamanmu memberiku jawaban iya untuk pertanyaanku,’’ kata Raja Raion.


‘’Untuk sekali saja, apakah tidak ada tempat bagiku di hati Yang Mulia?’’ tanya Rukaia.


Raja Raion tersenyum remeh. ‘’Jangan membuat dirimu terlihat lebih menyedihkan. Apa Anda pikir saya akan menyukai wanita berhati batu seperti dirimu yang rela menjebak saudaranya sendiri demi takhta?’’


Rukaia memejamkan mata dengan butiran air mata yang mengalir deras. ‘’Pada akhirnya, Yang Mulia tetap memilih kakak. Baiklah … Jangan salahkan saya untuk melakukan hal ini.’’


Ia pun memanggil bawahan yang diutus oleh Siruverash tadi.


Raja Raion mengerutkan dahi melihat ketiga sosok berjubah hitam mengelilinginya, sambil Rukaia berjalan pergi.


‘’Habisi dia sesuai perintah pamanku!’’


Deg!


Raja Raion tersentak karena akan dihabisi selagi dalam kondisi tidak berdaya. Ia berniat berteriak tapi salah satu dari tiga pembunuh bayaran tadi langsung menendangnya. Dilihatnya ketiga orang itu menarik pedang yang hendak menebasnya.


Sial! Saya tidak bisa menghindarinya, ucapnya dalam hati lalu memejamkan mata.


Shin! Shin!