
Tora melotot sambil terbelalak menyaksikan kejadian saat Ratu Rushi memberi pelajaran kepada sekelompok merak itu. Meski bukan dirinya yang mengalami hal tersebut, ia meringis karena tahu betapa sakitnya bulu itu dicabut, sampai membayangkan dirinya berada di posisi mereka.
Raja Raion yang melihatnya pun mengerti alasan wanita itu begitu lama kembali ke kamar.
Ratu Rushi bukan wanita seperti ini. Setelah pengasingan, dia menjadi sangat berbeda. Setelah dipikir-pikir, selama ini aku tidak pernah memberinya perhatian. Apakah itu alasan kenapa dia berubah? Yang Mulia, ucapnya dalam hati.
......................
Aula Istana
Ratu Rushi dan yang lainnya menatap sekelompok orang yang menangis di depannya. Para manusia setengah merak itu menerima hukuman telak, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Bayangkan saja bagaimana keempat pria pengikutnya tadi menikmati mencabut bulu mereka yang merasa kesakitan. ‘’Ini definisi nyata dari situasi bahagia di atas penderitaan orang lain.’’
‘’Yang Mulia sangat hebat bersandiwara untuk membalas mereka,’’ kata Shika menggeleng-gelengkan kepala.
Terukir senyuman di bibir Ratu Rushi. ‘’Itu turun temurun dari pamanku yang ahli bersandiwara.’’
Ia pun memerintahkan para prajurit untuk membawa sekelompok orang tadi pergi. Lalu mengajak semua pengikutnya untuk menikmati hidangan buatannya.
Hidangan yang dibuat kali ini adalah Pizza, yang merupakan hidangan gurih asal Italia sejenis adonan bundar dan pipih, dipanggang yang dilumuri saus tomat serta keju dengan potongan daging, sosis, jamur panggang, dan tiram kenyal diatasnya sebagai topping.
Seperti biasa, para pengikut Ratu Rushi menikmati hidangan baru yang selalu mengejutkan mereka.
Hhah? Kalau orang-orang istana sampai melihatnya, mereka akan dihukum karena tidak sopan, kata Kujaku dalam hati.
Sebelah alis Shika terangkat. Ia menyikuk Kujaku dan menyuruh pria itu agar tidak terlalu tegang. Ini sudah biasa bagi mereka, karena Ratu Rushi orangnya sangat ramah. Sekali lagi Kujaku dibuat terbelalak, hingga Mozaru memberinya sepotong pizza tadi.
‘’Jangan sungkan. Yang Mulia sudah menolongmu. Itu berarti kau bagian dari kami,’’ kata Mozaru.
‘’Apa kau tegang karena melihat kami seperti ini bersama Yang Mulia?’’ tanya Usagi.
Kujaku mengangguk yang masih memegang sepotong pizza. ‘’Bagaimana kalau kita dihukum karena kurang ajar kepada Yang Mulia?’’
Shika menepuk punggung Kujaku membuat pria itu sedikit terlempar ke depan. ‘’Eii, kau terlalu kaku. Kau bukan orang yang pertama kali diperlakukan seperti ini. Sebelumnya, semua pria yang ada di sini juga punya kisah masing-masing. Yang Mulia datang dan menolong kami, sehingga bisa memulai hidup baru yang lebih baik.’’
Yagyu membenarkan sambil menceritakan kisahnya yang menjadi orang pertama dihampiri oleh Ratu Rushi. Lalu melanjutkan kisah Shika, Usagi, Mozaru dan Kitsune.
‘’Yang Mulia sangat baik, jadi semua pengikutnya di sini menghormatinya,’’ kata Kitsune.
‘’Ehem! Kalian terlalu memujiku,’’ kata Ratu Rushi membuang wajah.
‘’Woah! Aku tidak pernah makan kue piring pecah seenak ini!” senang Shika.
‘’Kenapa kau menyebutnya seperti itu? Meskipun bentuknya memang seperti piring,’’ kata Hana.
‘’Lihat bentuk bundarnya yang seperti piring, lalu dipotong-potong seolah-olah piringnya pecah,’’ kata Shika.
Ratu Rushi dan yang lainnya hanya menggeleng kepala karena tidak pernah tahu apa yang dipikirkan manusia setengah rusa itu.
‘’Kitsune, kau seharusnya lebih sering berkunjung ke istana seperti ini,’’ kata Yagyu.
‘’Aku harus membantu yang lainnya untuk mengurus rumah makan. Tapi, aku mulai terbiasa datang semenjak kita membuat patung itu,’’ kata Kitsune.
‘’Haa, jangan ingatkan aku peristiwa menyeramkan itu lagi,’’ kata Shika.
Kujaku yang hanya menyimak sejak tadi bertanya menganai maksud mereka. Hana dan kelima pria di sana spontan menatap Ratu Rushi dengan wajah tertekan.
‘’Yang Mulia telah memberikan kegelapan abadi kepada kita semua. Kami seperti terlahir kembali, dan beruntunglah karena kau tidak ikut serta merasakan pencerahan itu.’’
Ratu Rushi hanya terkikik pelan, sedangkan Kujaku memasang wajah bingung.
‘’Patung itu seharusnya dikerjakan oleh 50 orang selama hampir 2 bulan. Tapi karena hari ulang tahun Ratu Agung tidak lama lagi, aku menyuruh mereka berenam menyelesaikannya dalam 7 hari.’’
Mendengar hal itu membuat Kujaku tersenyum dengan wajah kaku seolah-olah darah keluar dari sudut bibirnya.
Sekarang aku mengerti mengenai kegelapan abadi dan pencerahan yang mereka maksud tadi, ucapnya dalam hati.