Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 76 Kepala Pasukan Divisi 3



Ratu Rushi membuang wajah sambil memasang raut bodoh. Sejak tadi, ia merasa bosan tanpa menyentuh jamuan yang disuguhkan suaminya.


Raja Raion yang duduk tenang seperti biasa, hanya menunggu sejak tadi. Alisnya mulai berkerut karena merasa kesal, meski terukir senyuman di bibirnya.


Haa … Di sini tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali, kata Ratu Rushi dalam hati.


Ini pertama kalinya aku menyuguhkan jamuan kepada orang. Tapi dia sama sekali tidak melihat usahaku, kata Raja Raion dalam hati.


‘’Ratu Ru—‘’


Ucapannya langsung terpotong saat Ratu Rushi memanggil seseorang. Dilihatnya wanita itu menghampiri Putri Rukaia yang datang. Dahinya berkerut karena Ratu Rushi malah menyuruh adik tirinya itu menggantikan dirinya.


Putri Rukaia terlihat senang menghampiri Raja Raion, tapi pria itu lebih fokus menatap kepergian Ratu Rushi. Begitu ia duduk di kursi, Raja Raion langsung berdiri meninggalkannya, dan memilih menyusul kepergian kakak tirinya.


Tangan Putri Rukaia mengepal dengan emosinya yang kembali muncul. Terlihat jelas kalau wajahnya saat ini sudah merah padam. Dengan wajah kusut, ia menatap jamuan yang disiapkan Raja Raion untuk Ratu Rushi.


‘’Kakak,’’ kata Putri Rukaia sambil menggertak gigi.


......................


Ratu Rushi menyusuri koridor istana, mencari kelima pengikutnya. Namun, begitu ia tiba di koridor taman, seseorang langsung memukul perutnya dengan pedang.


‘’Akh,’’ ringisnya terjatuh sambil memegang perut.


Rasa sakitnya seolah-olah seperti menghentikan pencernaan perutnya untuk sesaat. Ia mendongakkan kepala dan melihat seorang pria dengan tubuh kekar sambil meletakkan pedang di bahunya.


Ratu Rushi masih meringis memegangi perutnya. Melihat pria itu sangat marah dengan apa yang menimpa Eris dibandingkan kedua pelayan lainnya, membuat dirinya mengingat beberapa kejadian kilas di dalam buku sejarah.


Kalau tidak salah, ada satu orang yang sangat mendedikasikan dirinya kepada kepala pelayan Eris. Semua orang tahu kalau dia menyukai wanita itu, sehingga Eris bisa leluasa di istana berkat pengaruhnya. Digambarkan dengan ciri khas pedangnya, tidak salah lagi … Dia adalah kepala pasukan divisi 3 setelah Tora dan Mozaru, kata Ratu Rushi dalam hati.


‘’Yang Mulia!’’


Keduanya menoleh begitu melihat kedatangan Hana dan keempat pria pengikutnya.


Hana langsung membantu Ratu Rushi berdiri, sambil Yagyu hendak menghampiri pria berpedang tadi. Namun, Mozaru menghentikannya untuk tidak mencari masalah dengan orang itu.


Pria berpedang tadi tersenyum remeh ke arah Mozaru. Ia berterima kasih karena berkat dirinya, posisinya naik satu tingkat menjadi kepala pasukan divisi 2. Tapi Mozaru tidak peduli jabatannya dicopot, hanya saja ia tidak menerima perlakuan pria tadi yang bertindak semena-mena kepada Ratu Rushi.


‘’Ahaha! Kau berusaha menegurku demi wanita tidak berguna ini? Awalnya aku memang terkejut karena dia telah kembali ke istana secepat ini. Tidak peduli wanita ini mau melakukan apa. Tapi … Aku tidak menerima perlakuannya yang telah melukai Nona Eris.’’


‘’Apa yang dilakukan Yang Mulia kepada para pelayan itu sudah wajar. Berani bersikap kasar sudah sepantasnya menerima hukuman. Dan kau bahkan memukul Yang Mulia, apa kau sudah bosan hidup … Nero?’’


Mata Nero memicing mendengar Mozaru memanggil namanya secara langsung. ‘’Kau seharusnya memanggilku sebagai Komandan. Sepertinya kau juga butuh didikan agar tidak kurang ajar seperti Ratu-mu.’’


‘’Siapa yang pantas diberi pelajaran atau tidak, akulah yang akan memutuskan,’’ kata Ratu Rushi.


...Visual Nero...