Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 125 Sayap



Beberapa hari kemudian sayap Taka sembuh. Seperti biasa, Wani akan mencarikan makanan untuk Ratu Rushi dan wanita itu mengolahnya untuk mereka. Taka juga sudah mulai terbiasa bersama kedua orang tersebut.


‘’Hem! Aku sudah menyembuhkanmu, kan? Sebagai kompensasi untukku, tidakkah seharusnya kau membalas budi?’’ tanya Ratu Rushi.


‘’Kau ini tidak ikhlas mengobati orang, ya?’’ tanya Taka.


‘’Aku bukannya tidak ikhlas. Tapi aku teringat dengan seseorang yang ingin kuselamatkan, tetapi dia malah menyerangku. Bukankah itu sangat tidak sopan?’’ tanya Ratu Rushi menyindir.


Wani yang menyadari maksud ucapan wanita itu, langsung menatap Taka dengan wajah dingin, membuat manusia setengah elang tadi bergidik.


‘’Aku mengerti! Aku mengerti! Tapi, saat itu sayapku terluka, jadi aku hanya melakukan perlawanan untuk melindungi diri. Aku tidak tahu kalau kau ingin menyembuhkanku. Jadi katakan, apa maumu?’’ tanya Taka.


Ratu Rushi tersenyum. ‘’Aku membutuhkanmu sebagai sayapku.’’


Taka dan Wani saling bertatapan dengan wajah bingung, dan kembali menatap Ratu Rushi. ‘’Sayap?’’


......................


Terlihat seekor elang terbang di udara yang tidak lain adalah Taka. Karena Ratu Rushi adalah ras khataros(manusia murni), yang hanya bisa melakukan kemampuan manusia biasa, membuatnya meminta Taka yang berasal dari ras paramorfomenos(bisa berubah bentuk menjadi hewan apabila tenaganya dibutuhkan untuk bekerja, khusus ras manusia setengah binatang) untuk mengawasi situasi di Negeri Aslan.


Pulau yang ditempati Ratu Rushi memiliki jarak hampir 560 mil atau 900 km dari Negeri Aslan. Biasanya kapal laut yang digunakan akan memakan waktu selama 18 jam untuk tiba di negeri seberang, tetapi berbeda dengan Taka.


Elang peregrine itu hanya menempuh waktu selama dua jam untuk tiba di Negeri Aslan. Ya, untuk elang tercepat di dunia seperti dirinya ini hal biasa.


Sang elang pun mendarat di dahan pohon sambil menatap perkemahan di tepi pantai. Dilihatnya ada begitu banyak prajurit yang berjaga.


‘’Bagaimana? Apakah kalian sudah menemukan Ratu Rushi?’’


Taka yang dalam wujud elang itu sedikit melirik ke sana kemari. ’’Ratu Rushi?’’


Ia menatap seorang pria dewasa yang datang menghampiri. ‘’Sudah setengah bulan semenjak Ratu Rushi tiada. Ratu Agung sudah menunggu Yang Mulia Raja dan Pangeran Rodigero agar kembali ke istana. Jika kita tidak segera melakukan upacara pemakaman Ratu Rushi, jiwanya tidak akan tenang, sehingga akan mengusik kedamaian istana.’’


‘’Hamba hanya menyampaikan perintah. Saat ini kondisi Ratu Agung sedikit melemah,’’ kata Siruverash.


Raja Raion terdiam untuk sesaat sambil Taka memantaunya. ‘’Aku tidak akan mengubah keputusanku.’’


‘’Yang Mulia Raja?’’


‘’Pergilah!’’ perintah Raja Raion.


Siruverash membungkuk sambil menggertak gigi. Tangannya mengepal dengan urat yang sudah menegang. Di saat bersamaan, Taka kembali terbang meninggalkan tempat itu.


......................


Rawa


Ratu Rushi menoleh setelah mendengar cerita Taka, mengenai semua orang yang berusaha keras mencarinya. Ternyata mereka tidak kembali ke istana dan tetap tinggal di pantai. Beberapa hari ini, semua orang pasti menderita karena harus berada di tempat terbuka di saat musim dingin sekarang berlangsung.


‘’Sepertinya Ratu Agung jatuh sakit, sehingga pria bernama Siruverash itu diutus,’’ kata Taka.


Ia langsung terkejut melihat reaksi wajah Ratu Rushi dan Wani begitu dirinya menyebut nama Siruverash. Ia pun tersenyum kaku sambil melanjutkan informasi yang ia dapat.


‘’Aku juga mendengar, kalau mereka akan mengadakan pemakaman untuk Ratu Rushi setelah Raja kembali ke istana,’’ lanjut Taka.


Ratu Rushi tersenyum remeh. ‘’Heh … Paman benar-benar tidak bisa diam seperti biasa.’’


Tapi aku tidak bisa membiarkan Yang Mulia mengabaikan kesehatan Ratu Agung. Wanita itu pasti merindukan kedua putranya yang saat ini berusaha keras mencariku, ucapnya dalam hati.


Wani mengerutkan dahi melihat Ratu Rushi melepaskan lapisan luar pakaiannya. ‘’Apa yang kau lakukan?’’


‘’Memberi kejutan kepada paman dan adik tiriku seperti biasa,’’ senyum Ratu Rushi.