
Raja Raion berniat tidak mempercayai ucapan Putri Rukaia, tapi melihat Ratu Rushi sesenang tadi saat bersama Pangeran Rodigero, membuatnya sedikit goyah.
Setelah dipikir-pikir, dia tidak pernah segembira itu saat bersamaku. Ratu Rushi selalu marah dan bertindak kasar bahkan mengusirku secara terang-terangan. Apakah dia memang membenciku? Sikapnya sangat berbeda saat bersama Rodigero, ucapnya dalam hati.
Tora yang mencarinya sejak tadi akhirnya menghela nafas lega. ‘’Ternyata Yang Mulia Raja ada di sini. Hamba mencari Anda sejak tadi.’’
Namun, ia mengerutkan dahi karena sang Raja tidak mendengarnya dan malah termenung. Ia memanggil pria itu berulang kali, hingga akhirnya mengikuti pandangannya yang mengarah kepada Ratu Rushi dan Pangeran Rodigero bersama ketujuh para pengikut.
Ia sedikit kasihan karena akhir-akhir ini Raja Raion selalu ingin bersama Ratu Rushi, tapi wanita itu bersikap kasar dan menolaknya.
‘’Yang Mulia Ratu Rushi mungkin menganggap Pangeran Rodigero sebagai teman yang berharga karena mendapatkan dukungan darinya,’’ kata Tora.
‘’Apa maksudmu berkata seperti itu?’’ tanya Raja Raion yang baru sadar.
Tora mengingatkan Raja Raion mengenai hari dimana mereka bertanding untuk menemukan buruan. Saat itu, ia tidak sengaja mendengar orang-orang di desa merasa sedih karena Ratu Rushi mengetahui perbuatan Pangeran Rodigero yang membantunya secara diam-diam.
Para warga mengaku kalau awalnya mereka tidak menerima Ratu Rushi. Tapi berbeda dengan mereka yang menuruti aturan untuk menjauhi Ratu Rushi, hanya Pangeran Rodigero yang mengulurkan tangan kepada wanita itu. Tidak peduli Ratu Rushi diasingkan, tapi adik Raja selalu berada di sampingnya untuk membantunya.
‘’Semua orang tahu mengenai kedekatan mereka sebagai seorang sahabat dan keluarga. Pangeran Rodigero orangnya murah senyum dan cepat mendapatkan teman. Itulah mungkin kenapa Ratu Rushi sangat dekat dengannya,’’ kata Tora.
Raja Raion kembali mengingat ucapan Putri Rukaia. Selain Tora, ia tidak mempercayai ucapan siapapun. Tapi mendengar kalimat itu keluar dari mulut bawahan terdekatnya, membuatnya semakin yakin kalau Ratu Rushi memang membencinya.
Dibandingkan Rodigero yang menemaninya dan memberi dukungan, aku tidak pernah memperhatikannya selama di istana dan langsung mengirimnya ke pengasingan. Sudah seharusnya dia membenciku, ucapnya dalam hati.
......................
Raja Raion yang ternyata belum tidur, hanya duduk di pesisir pantai sambil menikmati hembusan angin malam.
Dari arah tengah laut, terlihat dua predator yang kembali menghampiri tepi.
‘’Kakak, ini saatnya kita menghabisi Raja Raion selagi dia sedang sendiri dan berada jauh dari perkemahan.’’
‘’Kau benar. Awalnya aku ingin menghabisi Siruverash pertama kali. Tapi, aku akan mengesampingkannya dulu. Orang yang memberi perintah hari itu, ada di depan mata kita saat ini,’’ kata Wani.
Raja Raion termenung karena berpikir Ratu Rushi sepertinya bukan orang yang jahat seperti yang dirumorkan. Hari itu, seharusnya ia tidak mengirim istrinya langsung ke pengasingan tanpa mendengar penjelasannya. Saking termenungnya, ia tidak sadar dua predator hendak menerkamnya.
‘’Jadi kau di sini?!’’
Kedua predator yang hendak menghabisi Raja Raion tadi langsung terhenti karena suara itu. Mereka kembali menenggelamkan diri ke dalam air.
Ratu Rushi menghela nafas kasar sambil menggerutu setelah menemukan Raja Raion. Jika bukan Tora yang datang memohon kepadanya dan heboh karena cemas, ia tidak sudi mencari pria ini.
‘’Aku sudah menyuruh bawahanmu itu untuk tenang agar tidak ada yang tahu hal ini. Sebelum semua orang panik karena dirimu, sebaiknya kembali ke perkemahan! Memangnya apa yang kau lakukan di tempat terbuka yang dingin seperti ini?’’
Salah satu dari predator yang memantau tadi berdecih. Padahal tinggal sedikit lagi Raja Raja akan dihabisi, tapi wanita itu langsung datang dan merusak semuanya.
‘’Kakak, dia hanya seorang wanita. Apakah sebaiknya kita menghabisi mereka berdua?’’
‘’Wanita itu tidak bersalah. Kita hanya memiliki dendam kepada Raja Raion dan Siruverash. Sebaiknya tunggu sampai wanita itu pergi,’’ kata Wani.