
Istana
Ratu Agung yang duduk, tidak henti-hentinya merasa cemas. Ia tahu kalau saat ini perang antara putranya melawan Siruverash sudah berlangsung. Tiba-tiba gerbang terbuka dengan masuknya seekor harimau yang kemudian berubah menjadi manusia.
‘’Hamba memberi salam kepada Ratu Agung.’’
‘’Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya kau ada di medan perang?’’ tanya Ratu Agung.
‘’Itu benar Ratu Agung. Tapi hamba diutus oleh Tuan Tora untuk menyampaikan hal ini kepada Anda,’’ kata manusia setengah harimau.
Ratu Agung memberi izin, membuat pria tadi mendongakkan kepala. Pria itu menyampaikan kabar kalau kemarin malam Raja Raion telah diserang secara diam-diam oleh pembunuh bayaran. Mendengar hal itu membuat semua orang terkejut bukan main terutama ibu raja.
Manusia setengah harimau tadi juga memberitahunya kalau itu semua adalah rencana Rukaia. Wanita itu hanya berpura-pura untuk memihak kepada Raja Raion dan menghianati pamannya. Rukaia bahkan membocorkan strategi perang milik Raja Raion kepada Siruverash dan membawa pembunuh bayaran pamannya untuk menghabisi sang Raja.
Dengan wajah tertahan, Ratu Agung mengepalkan tangan sambil menggertak gigi. ‘’Dia memanfaatkan belash kasihku. Beraninya wanita itu menipuku.’’
‘’Ratu Agung tidak perlu khawatir. Yang Mulia tidak berhasil dihabisi oleh para pembunuh bayaran itu. Tapi, kondisi Yang Mulia sangat lemah sehingga tidak bisa memimpin pasukan untuk berperang, membuat Tuan Tora mengawasi kondisi Yang Mulia.’’
‘’Eh? Jika bukan Tora yang memimpin pasukan untuk berperang … Lalu siapa yang berdiri dan mengambil alih pasukan saat ini di medan perang?’’ tanya Ratu Agung.
Manusia setengah harimau tadi terdiam untuk sesaat hingga akhirnya bicara. ‘’Yang Mulia Ratu Rushi.’’
Deg!
......................
Kamp Siruverash
Kepala pelayan Eris menoleh dengan wajah terkejut begitu juga dengan Riaz dan Zena. Mereka tidak menyangka kalau pasukan Raja Raion dipimpin oleh Ratu Rushi saat ini.
‘’Apa yang dilakukan Ratu Rushi di negeri ini?’’ tanya Riaz.
‘’Bukankah dia diasingkan di negeri seberang?’’ tanya Zena.
Deg!
Riaz dan Zena mengerutkan dahi melihat Eris sedikit terbelalak. ‘’Ada apa Nona Eris?’’
Raut wajah Eris langsung berubah menjadi kusut. ‘’Kalau tidak salah … Salah satu pengikut Ratu Rushi ada….’’
......................
Kamp Raja
Tora memeriksa kondisi Raja Raion seperti biasa. Tapi sang Raja menyuruhnya untuk tidak khawatir.
‘’Bagaimana situasi di medan perang saat ini?’’ tanya Raja Raion.
‘’Salah satu pembawa berita baru saja kembali ke medan tempur. Katanya Yang Mulia Ratu Rushi berusaha mencegah perang ini terjadi, dan membicarakannya secara baik-baik dengan Tuan Siruverash di tengah medan,’’ jawab Tora.
Raja Raion mengerutkan dahi sambil menatap manusia setengah harimau di sampingnya. ‘’Kenapa dia melakukan itu?’’
‘’Sepertinya Yang Mulia Ratu Rushi tidak ingin melihat kedua ras saling membunuh. Yang Mulia Ratu Rushi bahkan berjanji untuk melupakan semua kejahatan Tuan Siruverash jika pria itu mau menyerahkan diri tanpa ragu,’’ kata Tora.
‘’Jadi, apa keputusannya?’’ tanya Raja Raion.
‘’Pada akhirnya Tuan Siruverash menolak dan tetap melanjutkan perang. Saat ini Yang Mulia Ratu Rushi sedang berhadapan dengannya,’’ kata Tora.
Raja Raion terdiam dengan wajah sendu. Ia menanyai Tora apakah Ratu Rushi bisa memenangkan perang tersebut dan kembali dalam kondisi hidup-hidup kepadanya.
‘’Selama ini, kita semua sudah melihat pencapaian sang Ratu. Dia adalah wanita yang tangguh dan tidak akan menyerah begitu saja jika mendapatkan masalah. Meski tidak tahu hasil akhir dari perang ini, hamba tetap memiliki keyakinan kepada Yang Mulia Ratu Rushi,’’ kata Tora.
Tangan Raja Raion mengepal dengan mata memicing.
Ya. Anda harus memenangkan perang ini Ratu Rushi, dan kembali kepadaku dalam kondisi hidup-hidup. Jika tidak, maka saya tidak akan bisa menebus semua kesalahanku kepadamu, ucapnya dalam hati.