
Bagaikan sambaran petir, semua orang terpaku di tempat. Siruverash dengan wajah shock langsung terjadi sambil ditahan oleh Putri Rukaia.
‘’Yang Mulia telah tiada? Tidak mungkin … Ini pasti kebohongan!’’ seru Siruverash menangis.
Hana jatuh terduduk dengan perasaan tidak percaya. ‘’Yang Mulia!’’
Sedangkan Yagyu dan kelima pria lainnya hanya membengkap mulut dengan mata melotot. Saat itu juga, salah satu prajurit datang melapor, kalau mereka melihat binatang buas yang membawa Ratu Rushi bersamanya. Tanpa membuang waktu, Raja Raion langsung mengerahkan prajurit untuk mengambil meriam api yang sempat ia bawa.
Salah satu predator menatap predator disampingnya yang membawa Ratu Rushi dalam keadaan setengah sadar. ‘’Kakak, lebih baik hentikan ini dan tinggalkan Ratu Rushi. Lihat? Mereka membawa senjata api, dan kita tidak perlu menerimanya gara-gara wanita ini.’’
‘’Diamlah! Tidak peduli mereka menggunakan senjata itu lagi. Tapi hari ini aku akan membalaskan dendam kita!’’ kesal Wani.
‘’Kakak, kita berdua melihatnya secara langsung. Adik tirinya sendiri mendorong Ratu Rushi ke dalam air. Itu berarti Siruverash tidak akan terpengaruh hal ini, jadi lepaskan Ratu Rushi.’’
Namun Wani tidak mendengar dan tetap bersih keras dengan keputusannya.
Raja Raion dan yang lainnya langsung menaiki tebing bebatuan. Dan benar, terlihat dua ekor predator besar berukuran 12 meter yang salah satunya membawa Ratu Rushi.
‘’Kakak! Mereka akan meluncurkan meriam api itu dan akan mengenai kita!’’
Kedua predator itu menatap Raja Raion yang mengangkat sebelah tangannya dengan maksud memerintahkan para prajurit untuk melepaskan meriam api.
‘’Berhenti!’’
Semua orang terkejut terutama kedua predator tadi karena teriakan itu.
‘’Kau menghentikan mereka?’’ tanya Wani.
Ratu Rushi mendongakkan kepala dan menyuruh Raja Raion agar menarik perintahnya yang menyuruh para prajurit melepaskan meriam.
‘’Kau tidak berhak ikut campur!’’ seru Wani menjatuhkannya ke dalam air.
Di saat bersamaan, Siruverash menyalakan meriam api dan mengarahkannya ke laut.
‘’Apa yang Anda lakukan? Ratu Rushi masih ada di sana!” seru Raja Raion.
‘’Tapi kedua binatang buas air itu sudah menerkam keponakan hamba Yang Mulia! Saya harus membunuh mereka,’’ kata Siruverash kembali menyalakan meriam.
Ratu Rushi kesulitan menahan keseimbangannya di dalam air karena kedua predator itu menyebabkan gelombang arus gara-gara pertikaian mereka. Meskipun begitu, ia berhasil naik ke permukaan, sambil kedua predator tadi masih bertikai.
Namun, timing munculnya ke atas permukaan air tidak pas, karena saat itu juga meriam api diluncurkan ke arahnya. Salah satu predator yang bertikai tadi menyadari hal itu, dan langsung menghampiri Ratu Rushi. Predator tersebut langsung membuka mulutnya dan memasukkan Ratu Rushi ke dalamnya.
‘’Awas!’’ teriak Wani.
Boom!
‘’Tidak!!’’ teriak Raja Raion.
‘’Yang Mulia!’’ teriak semua orang.
Selain prajurit dan para pria, semua wanita memalingkan wajah dengan mata terpejam.
Putri Rukaia gemetar sebelum kembali menolehkan kepalanya. Nafasnya terengah-engah begitu juga yang lainnya.
‘’Haa, huhahuha … Binatang itu telah menelan Yang Mulia hidup-hidup,’’ tatap Hana.
Raja Raion jatuh terduduk dengan wajah mematung. Saat itu juga Ratu Agung jatuh pingsan. Beruntung Pangeran Rodigero langsung menangkapnya, membuat semua orang menghampiri.
Dengan mata melotot, butiran bening mengalir dari sudut mata Putri Rukaia. Ia mengepalkan tangannya yang gemetar sambil rahang dan urat-urat di lehernya menegang.
Akhirnya … Setelah sekian lama ... Akhirnya kakak telah tiada. Sekarang, tidak ada penghalang lagi yang akan mencegahku menjadi Ratu, ucapanya dalam hati.