
Ratu Rushi yang berjalan bersama suami dan pengawalnya, hanya terus membuang wajah. Setelah menghajar suaminya habis-habisan, ia tidak ingin menatap wajah pria itu. Sedangkan Raja Raion yang selalu menatap istrinya, hanya mengerutkan dahi tanda kesal.
Dia sudah menghajarku, lalu sekarang dia bahkan tidak sudi melihat wajahku. Apakah dia segitu bencinya? Heh, kata Raja Raion dalam hati.
Tora yang mengawal dari belakang, hanya memandangi mereka berdua secara bergantian.
Ini pertama kalinya aku melihat Yang Mulia memandangi seorang wanita lebih dari 5 detik. Terlebih lagi, itu adalah Yang Mulia Ratu Rushi sendiri, ucapnya dalam hati.
‘’Sampai kapan kau akan menoleh ke arah kiri terus? Ada seseorang di sebelah kanan,’’ kata Raja Raion.
Kenapa kau tidak diam saja, dan biarkan aku berjalan dengan tenang, kata Ratu Rushi dalam hati.
‘’Ratu Rushi? Kau sengaja mengabaikanku?’’ tanya Raja Raion.
Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya? Dasar, kata Ratu Rushi dalam hati.
Raja Raion mengerutkan dahi tanda kesal, karena Ratu Rushi hanya diam sejak tadi dan mengabaikannya. Ia pun langsung bergegas ke arah kiri, sambil Ratu Rushi juga menoleh ke arah kanan.
‘’Jadi kau memang menghindariku! Aku ini sedang bicara padamu,’’ kata Raja Raion yang bergegas ke kanan, yang kembali membuat Ratu Rushi menoleh ke arah sebaliknya.
Entah berapa kali hal itu terus berulang, membuat Tora yang menyaksikannya hanya memasang wajah bodoh. ‘’Saya tidak tahu kalau hubungan mereka sedekat ini.’’
......................
Istana
Sejak tadi, Putri Rukaia mondar-mandir dan tidak bisa tenang. Ia menatap terus ke arah jendela, menunggu kabar dari elang emas pamannya. Tiba-tiba dahinya berkerut melihat seekor singa dari jauh, yang tidak lama kemudian berubah menjadi manusia.
‘’Pangeran Rodigero?’’
Mendengar ucapan keponakannya, membuat Siruverash langsung berdiri dan bergegas ke arah jendela. Ia juga mengerutkan dahi tanda bingung.
‘’Pangeran Rodigero sudah pulang? Kupikir dia ada di rumah makan Ratu Rushi saat ini,’’ kata Siruverash.
Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan bertanya kepada Pangeran Rodigero sendiri secara langsung. Siruverash berbalik untuk pergi, membuat Putri Rukaia menyusul.
......................
Aula
Pangeran Rodigero berjalan masuk dengan wajah seperti biasa. Namun, langkahnya sedikit melambat saat melihat Siruverash dan Putri Rukaia berjalan sambil membahas sesuatu.
Langkah Siruverash juga melambat saat melihat Pangeran Rodigero ada di sana. ‘’Pangeran? Anda di sini?’’
Putri Rukaia yang bingung dengan tingkah pamannya, hanya mengerutkan dahi. Tidak lama kemudian, ia langsung sadar kalau pamannya sedang berakting.
‘’Aku tidak menyangka akan bertemu dengan Pangeran Rodigero di sini. Anda seperti baru saja masuk melewati gerbang utama. Kalau boleh tahu, Pangeran Rodigero dari mana?’’ tanya Putri Rukaia.
Siruverash menatap keponakannya yang telah mengikuti alur dari dirinya. Ia kembali menatap Pangeran Rodigero dengan wajah bingung.
‘’Saya hanya habis bertemu dengan para warga. Salju yang lebat membuat kereta mereka selalu terjebak sehingga barang-barang yang diangkut terjatuh. Jadi, saya membantu mereka,’’ jawab Pangeran Rodigero.
Siruverash dan Putri Rukaia saling bertatapan. Awalnya mereka menganggap ucapan Pangeran Rodigero bohong, tapi keraguan mereka terpastikan saat beberapa prajurit datang, untuk menyampaikan rasa terima kasih dari warga kepada pria itu.
‘’Bukankah Pangeran Rodigero seharusnya berada di rumah ma—‘’
‘’Ahaha! Putri Rukaia ingin bilang, kalau Yang Mulia menyusul Anda keluar,’’ kata Siruverash memotong ucapan.
Putri Rukaia yang tersadar dengan ucapannya, hampir saja keceplosan di depan adik Raja. Beruntung, pamannya bisa langsung menangani hal itu.
‘’Maaf telah menyita waktu Pangeran Rodigero. Kalau begitu, kami berdua pamit,’’ kata Siruveras membungkuk diikuti keponakannya.
Pangeran Rodigero menatap kepergian dua orang tadi, terutama ke arah Putri Rukaia. Matanya langsung memicing. ‘’Dia baru saja ingin mengatakan rumah makan. Selama aku keluar, aku memang hanya selalu berada di rumah makan Yang Mulia. Apakah mereka berdua mengawasiku secara diam-diam?’’