Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 65 One of Maid's



Pangeran Rodigero menyantap buatan Ratu Rushi begitu juga dengan Raja Raion. Kakak adik itu tidak pernah memakan kue seenak itu. Mendengar kedua pria itu sangat menikmati kue tadi, membuat Ratu Agung tidak bisa fokus.


Ratu Rushi yang melihatnya mencoba menggoda wanita itu, tapi Ratu Agung menolak mencicipi kue tersebut, meskipun dalam hati ia sangat ingin memakannya. Ratu Agung hanya menunggu Ratu Rushi segera pergi, tapi sayang wanita itu mengetahui maksudnya dan memilih tinggal.


‘’Saya meminta pamit kepada Ratu Agung,’’ kata Ratu Rushi.


Begitu wanita tadi keluar, Ratu Agung langsung merebut kotak kayu berisi kue ketan tadi. Akan tetapi isinya sudah kosong, karena kedua putranya tidak menyisahkan satu pun.


‘’Puding ketan merahnya kami habiskan semua Ibunda,’’ kata Pangeran Rodigero yang masih mengunyah.


‘’Karena Ibunda tidak menyukainya, jadi kami berdua menghabiskannya,’’ kata Raja Raion yang juga mengunyah.


Ratu Agung tersenyum sambil mengernyitkan alis. ‘’Cium tanah sekarang juga!’’


......................


Ratu Rushi yang sudah mengetahui apa yang terjadi, hanya terkikik pelan. Ia pun berjalan menuju ke ruangannya. Sesampainya di sana, keempat pria pengikutnya ternyata masih menunggu di luar.


‘’Yang Mulia sudah datang,’’ kata Shika.


‘’Kami sudah menunggu Yang Mulia,’’ kata Yagyu.


‘’Sejak tadi, orang-orang memandangi kami Yang Mulia,’’ kata Usagi.


Mozaru membukakan pintu untuk Ratu Rushi. Mereka terbelalak karena isi kamar begitu bersih dan indah seperti biasa. Setelah Ratu Rushi meninggalkan istana, seharusnya ruangan ini sudah berdebu.


‘’Maaf kalau hamba lancang Yang Mulia. Alasan kenapa kamar ini masih dalam keadaan bersih, itu karena Pangeran Rodigero selalu memerintahkan para pelayan untuk membersihkan ruangan Yang Mulia, meskipun Anda tidak ada di istana,’’ kata Mozaru.


Mendengar hal itu, membuat Ratu Rushi semakin merasa bersalah. Sepertinya tidak baik menyembunyikan kebenarannya terus, kalau di dalam tubuhnya itu sudah bukan jiwa Ratu Rushi yang asli.


‘’Yang Mulia!”


Ratu Rushi menatap wanita berambut panjang, mengenakan seragam ungu putih yang sedang menangis haru. Tanpa bertanya ia sudah tahu kalau wanita itu adalah Hana, salah satu pelayan setianya. Ia pun membantu Hana untuk berdiri dan memeluknya.


‘’Eh? Tidak benar Yang Mulia melakukan ini,’’ kata Hana.


‘’Aku merindukanmu, jadi tidak apa-apa. Oh iya, di mana Licy? Kenapa aku tidak melihatnya?’’ tanya Ratu Rushi.


Hana kembali menangis, membuat ketiga pria selain Mozaru memasang wajah masam. Mengapa wanita itu harus menangis hanya karena Ratu Rushi bertanya.


Melihat raut wajah salah satu pelayan setianya, membuat Ratu Rushi mengerutkan dahi tanda curiga. Ia meminta Hana untuk bicara tanpa ragu. Awalnya Hana tidak berani, tapi mengingat apa yang terjadi, membuatnya buka mulut.


‘’Licy mengetahui konspirasi Tuan Siruverash dan Putri Rukaia yang ingin menggulingkan Yang Mulia dari tahta dan diasingkan ke hutan. Dia mengancam kedua orang itu dengan alasan akan memberitahu Yang Mulia Raja. Tapi, Putri Rukaia dengan kejamnya, memerintahkan prajurit untuk melukai kedua mata Licy, dan Tuan Siruverash mengasingkannya dari istana.’’


Ratu Rushi membengkap mulutnya, sedangkan keempat pria di sana terkejut bukan main.


Jadi ini memang rencana Tuan Siruverash dan Putri Rukaia untuk menggulingkan Ratu Rushi, kata Mozaru dalam hati.


‘’Benar-benar kejam,’’ kata Usagi.


Shika mengepalkan kedua tangan yang diletakkan di depan mulutnya. ‘’Wanita yang menyeramkan.’’


‘’Melukai kedua mata dan diasingkan. Mereka benar-benar tidak memiliki hati,’’ kata Yagyu.


Sedangkan Mozaru mengingat dirinya yang juga pernah mendapatkan perlakuan kejam dengan dipukuli terus sampai dirinya tidak bisa melupakan rasa sakitnya.


...Visual Hana...