
Semua orang menatap Ratu Rushi penuh tanda tanya terutama Pangeran Rodigero.
‘’Tapi kenapa Yang Mulia sampai meminta maaf? Yang Mulia tidak melakukan kesalahan,’’ kata Yagyu.
‘’Aku memang tidak melakukan kesalahan, tapi aku mengambil keputusan yang salah,’’ kata Ratu Rushi yang membuat semua orang masih bingung.
Ia menatap Usagi, dan memerintahkan manusia setengah kelinci itu untuk membawa semua penghasilan serta daftar pelanggan ke hadapannya sekarang juga. Meskipun tidak mengerti, Usagi tetap pergi.
Ratu Rushi juga menyuruh Yagyu, Shika dan Mozaru untuk membantu.
Pangeran Rodigero masih tidak mengerti apa yang dilakukan Ratu Rushi. ‘’Yang Mulia, apa yang terjadi?’’
‘’Kau akan mengetahuinya sebentar lagi,’’ jawab Ratu Rushi dingin.
Entah apakah itu pasti atau tidak, Pangeran Rodigero merasa Ratu Rushi sepertinya terlihat marah, meski wanita itu tidak memperlihatkannya.
Yang Mulia biasanya bicara sedikit keras, tapi kali ini dia memanggilku dengan sebutan kau, ucapnya dalam hati.
Tidak lama kemudian, keempat pria yang disuruh tadi datang sambil membawa peti kayu berisi uang koin di dalamnya. Mereka meletakkannya dihadapan Ratu Rushi, sambil menyerahkan daftar pelanggan.
‘’Kembalikan semua uang mereka sesuai yang tertera di daftar!’’ perintah Ratu Rushi.
Kalian sudah tahu bagaimana reaksi kaget semua orang karena ucapan Ratu Rushi barusan.
‘’Semuanya ada 10.000 koin emas jika digabungkan dengan lotre Yang Mulia. Apakah kita akan mengembalikan semuanya?’’ tanya Usagi.
‘’Ya, semuanya tanpa tersisa seperpun. Apakah kau tidak keberatan … Pangeran Rodigero?’’ tanya Ratu Rushi.
Keempat pria pengikut Ratu Rushi langsung menatap Pangeran Rodigero penuh tanda tanya.
Dengan cepat, ketiga pria tadi bergerak sambil diikuti Mozaru. Pangeran Rodigero terdiam dengan wajah merasa bersalah, menyaksikan keempat pria itu mengembalikan semua uang kepada pelanggan. Sedangkan Ratu Rushi masih tenang dengan wajah tertahannya.
‘’Aku benar-benar kecewa Pangeran Rodigero. Terima kasih karena telah membuatku menjadi pengemis. Aku tidak ingin orang datang karena dibayar atau diperintah, tapi aku ingin mereka datang sesuai keinginan diri sendiri. Jika mereka datang karena dirimu, itu berarti mereka masih belum menerima keberadaanku sepenuhnya,’’ kata Ratu Rushi.
‘’Jadi, rombongan yang tiba-tiba datang waktu itu karena Pangeran Rodigero yang menyuruh mereka,’’ kata Usagi.
Yagyu menatap Pangeran Rodigero tidak percaya. ‘’Pantas saja Pangeran Rodigero selalu menghilang dan muncul di waktu tertentu.’’
‘’Selama ini aku mengira pandangan mereka berubah terhadap Yang Mulia,’’ kata Shika.
‘’Apakah begitu menyenangkan melihat kami berlarian dan memasak yang jelas-jelas bukan hasil keringat kami?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Yang Mulia aku tidak bermak—‘’
‘’It’s time out. Kalian semua tidak perlu berpura-pura lagi, dan berhentilah memaksakan diri untuk memakannya. Jika kalian menghargaiku, tolong pergi dan tinggalkan rumah makan ini sekarang juga,’’ kata Ratu Rushi.
Pangeran Rodigero mengepalkan tangan, dan berbalik dengan perlahan. Ratu Rushi juga memintanya agar tidak usah kembali lagi.
Semuanya telah keluar dengan mengenakan jubah sambil menatap rumah makan itu.
Yagyu dan Shika menatapnya tidak percaya sambil menutup pintu. Pangeran Rodigero melirik Ratu Rushi di dalam yang memunggunginya.
Pangeran Rodigero dengan wajah sedih hanya berjalan pergi. Kitsune yang menyaksikannya dari jauh hanya mengerutkan dahi.
‘’Apa yang terjadi? Kenapa Pangeran Rodigero dan semua orang keluar? Yang Mulia juga menutup rumah makan,’’ kata Kitsune.
Tanpa membuang waktu, seekor burung elang emas langsung terbang setelah melihat kejadian tadi.