Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 149 Tali yang Terputus



Setelah membungkam semua orang di ruang kenegaraan, Ratu Rushi berjalan pergi. Namun, langkahnya terhenti saat Siruverash dan Putri Rukaia memanggilnya. Ia pun berbalik dan menatap kedua orang itu sambil tersenyum.


‘’Paman dan Rukaia tidak menyukaiku, dan aku juga sudah tahu. Sebaiknya kita sudahi sandiwara kekeluargaan kita,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Baguslah. Saya juga tidak perlu susah payah menghormatimu sebagai seorang saudara. Kita berdua jelas tidak memiliki ikatan darah,’’ kata Putri Rukaia.


‘’Sepertinya Paman ingin mengatakan sesuatu kepadaku,’’ pancing Ratu Rushi.


Wajah Siruverash kembali kusut. ‘’Di mana Washi?’’


Sebelah alis Ratu Rushi terangkat. ‘’Siapa itu Washi?’’


‘’Saya tahu Yang Mulia sedang berpura-pura. Katakan di mana Washi?’’ tanya Siruverash dengan tekanan di akhir kalimat.


Ratu Rushi tersenyum sebelum berjalan pergi. ‘’Dia berada di tempat yang seharusnya.’’


Siruverash mengepalkan tangan dan langsung pergi, membuat Putri Rukaia menyusulnya.


......................


Halaman Belakang


‘’Kita benar-benar dikejutkan. Tidak kusangka Ratu Rushi ternyata masih hidup,’’ kata Riaz.


‘’Melihat Ratu Rushi kembali ke istana, itu berarti rencana Tuan Siruverash dan Putri Rukaia gagal total,’’ kata Nero.


Eris membenarkan. ‘’Padahal kita sudah melaksanakan pemakaman untuknya.’’


‘’Setelah melakukan pemakaman dan seolah-olah bangkit dari kematian, bulu kudukku berdiri. Tapi seperti biasa, Yang Mulia selalu memberikan kejutan di saat-saat terakhir. Aku bertaruh, Tuan Siruverash dan Putri Rukaia saat ini pasti sangat marah,’’ kata Aruse mempetik senar kecapinya dengan sekali petikan.


Siruverash yang mencari keberadaan Nero, menemukan pria itu sedang bersama Eris dan yang lainnya. Ia pun menghampiri kelima orang itu sambil diikuti oleh Putri Rukaia.


Nero yang melihat kedatangan Siruverash langsung menyuruh yang lainnya membungkuk. ‘’Salam Perdana Menteri.’’


‘’Kita perlu bicara Kepala Pasukan Divisi 1,’’ kata Siruverash lalu menyuruh yang lainnya pergi.


Setelah hanya ada mereka bertiga, Nero menunggu pria itu bicara.


‘’Segera kerahkan pasukanmu untuk menjemput Washi di Penjara Pengasingan!’’ perintah Siruverash.


‘’Kenapa Washi ada di sana?’’ tanya Nero.


‘’Aku tidak menyuruhmu bertanya.’’


......................


Kamar


Begitu Ratu Rushi membuka pintu, ia menatap semua orang yang ada di dalam. Kamarnya menjadi ramai setelah memiliki banyak pengikut. Ia juga tidak ragu menyajikan hidangan kepada mereka, membuat para pengikutnya semakin menghormatinya.


Empat pria pendatang baru juga telah mendengar cerita mengenai Ratu Rushi dari semua orang, membuat mereka menatap wanita itu tidak percaya.


‘’Itulah kenapa Yang Mulia bisa mengobati penyakit Uma,’’ kata Kamereon.


‘’Sejak awal dia tidak memiliki penyakit. Tapi hanya sakit perut,’’ kata Ratu Rushi membantah.


‘’Tapi kenapa tanaman itu bisa menyembuhkan sakit perutku Yang Mulia?’’ tanya Uma.


‘’Itu adalah tanaman Alfalfa, spesies tanaman yang dimanfaatkan sebagai pakan karena dapat mengikat nitrogen dan memperbaiki struktur tanah. Sejarah tertua mengenai tanaman itu berasal dari alfalfa berusia 6000 tahun,’’ kata Ratu Rushi.


‘’E-Enam ribu tahun?!’’ pekik semuanya.


‘’Tapi tanaman yang kami dapat waktu itu tidak dalam kondisi segar, melainkan sudah menjadi jerami. Itupun menemukannya di ladang yang sudah ditinggali,’’ kata Yagyu.


Ratu Rushi justru menganggap itu lebih bagus kalau tanaman alfalfa menjadi jerami. Namun, para pengikutnya masih bingung dan tidak mengerti membuatnya menghela nafas. ‘’Jerami yang terkunyah dapat mengambang pada perut kuda dan ikan membentuk lapisan pelindung yang mencegah asam mengalir kembali ke dalam bagian tanpa kelenjar pada perut. Jerami alfalfa mengandung banyak zat yang berperan sebagai antacid seperti Ca(kalsium), MgSO4(magnesium sulfat), saponin dan protein musilase.’’


‘’A B C D?’’ tanya Shika.


Dia menyamakan simbol senyawa kimia dengan alphabet yang pernah kuajarkan kepada mereka, kata Ratu Rushi dalam hati dengan wajah bodohnya.


‘’Kenapa ada banyak pasukan yang keluar dari istana?’’ tatap Taka yang berdiri di balkon kamar.


Spontan semua pengikut langsung menuju ke balkon.


Sedangkan Ratu Rushi yang mengetahui itu adalah perintah pamannya hanya tersenyum. ‘’Pasukan itu pasti dikirim untuk menjemput Washi.’’


‘’Maksud Yang Mulia, elang kasar itu lagi?’’ tanya Taka.


‘’Heh, biarkan saja. Sekeras apa pun mereka mencari, jalan menuju ke Penjara Pengasingan telah diblokir, dan diubah arahnya,’’ kata Kamereon.


‘’Ya, itu semua adalah ide dari wanita itu,’’ kata Wani.


Sepuluh pria dan dua wanita yang merupakan para pengikut sang Ratu hanya menatap Ratu Rushi yang tersenyum penuh kemenangan.


Dia benar-benar wanita yang berbahaya, ucap mereka semua kompak dalam hati.