
Pandangan singa tadi menuju ke arah tangan Ratu Rushi yang terluka dan berdarah.
Push!
Ratu Rushi terkejut karena singa itu berubah menjadi seorang pria. Terlebih lagi adalah pria tampan.
Aku belum pernah melihat pria setampan ini. Bahkan dia lebih tampan dibandingkan Pangeran Rodigero, ucapnya dalam hati.
‘’Kau di sini?’’ tanya Raja Raion.
Eh? Dia mengenaliku? Tapi kami belum pernah bertemu, kata Ratu Rushi dalam hati.
‘’Ratu Rushi? Kenapa kau hanya diam?’’ tanya Raja Raion sekali lagi.
Dia memanggilku Ratu Rushi? Ah, benar juga. Siapa yang tidak mengenali diriku. Heh, aku sampai berpikir kami memiliki hubungan, kata Ratu Rushi dalam hati.
Raja Raion mengerutkan dahi karena Ratu Rushi hanya diam sejak tadi. Ia pun berjalan menghampiri wanita itu. ‘’Tanganmu terlu—‘’
Tiba-tiba kakinya tersandung, dan di saat yang bersamaan, Tora datang sambil membawa seekor kelinci.
‘’Aku menang Yang Mu—‘’ ucapannya terhenti saat melihat Ratu Rushi.
Lebih kagetnya lagi, Raja Raion yang tersandung tadi, wajahnya mendarat di belahan dada Ratu Rushi. Ketiga orang itu melotot dengan reaksi wajah kaget yang sama.
Plak!
‘’Dasar pria mesum!’’ seru Ratu Rushi melindungi dirinya.
Tora melongo bukan main melihat wanita itu memberi tamparan kepada Raja penguasa. Sama halnya dengan Raja Raion, pria itu juga terkejut bukan main karena reaksi wanita tadi kepadanya.
Raja Raion hendak memegang tangan wanita tadi. ‘’Hei, aku ini bukan pria me—‘’
Ratu Rushi langsung menangkis tangannya, sambil menyerang dadanya menggunakan lutut. Ia kemudian melakukan tendangan memutar ke arah belakang, dengan kaki yang mengait ke arah kepala menghantam kepala pria itu.
‘’Oh tidak!’’ pekik Tora.
Begitu Ratu Rushi menoleh ke arahnya, ia langsung bersujud ke tanah dengan wajah tegang.
‘’Apakah Yang Mulia berpura-pura tidak mengenali kami?’’ tanya Tora.
Tapi, melihat wajah Ratu Rushi yang malah waspada sambil mengerutkan dahi tanda kesal, membuat Tora tidak percaya. ‘’Yang Mulia benar-benar tidak mengetahui siapa kami?’’
‘’Aku bukan Tuhan yang tahu segalanya! Jadi cepat katakan alasan kalian ada di sini, sebelum aku menyeret kalian ke rumah penghakiman,’’ kata Ratu Rushi.
Raja Raion membuka mata dan meringis dengan urat-urat di leher, serta dahi yang sudah menegang. ‘’Akh, tubuhku terasa remuk.’’
‘’Yang Mulia? Anda masih hidup?’’ teriak Tora dari jauh yang masih bersujud.
Mendengar ucapan pria tadi, membuat Ratu Rushi menoleh dengan cepat ke arah pria yang terbaring di sampingnya. ‘’Yang Mulia?’’
‘’Kenapa aku harus mati hanya karena serangan kecil? Meskipun rasanya memang benar sakit,’’ kata Raja Raion.
Ratu Rushi menatap kedua pria itu secara bergantian, dan berharap dugaannya salah.
‘’Yang Mulia? Apakah hamba bisa mendekati Raja Raion?’’
Deg!
Pertanyaan itu telak mengenai batin Ratu Rushi, sambil wanita itu tersenyum kaku, seolah-olah ada darah yang keluar dari sudut bibirnya.
‘’O-Of course,’’ kata Ratu Rushi.
Ia menatap pria yang tidak lain adalah Raja Raion sambil Tora mengecek kondisinya. Mengingat dirinya barusan memberi pria itu tamparan, serangan di dada menggunakan lutut, bahkan sampai melakukan tendangan berputar untuk menghantam kepala suaminya sendiri.
Heh, sepertinya sebentar lagi malaikat maut yang asli akan datang menjemputku, kata Ratu Rushi dalam hati dengan wajah bodohnya.
Tora bingung harus mengecek kondisi tubuh Raja Raion yang mana dulu.
‘’Bantu aku bangun, tanahnya sangat dingin,’’ kata Raja Raion.
Tanpa membuang waktu, Tora membantu Raja Raion berdiri lalu memapahnya. Ratu Rushi masih memasang wajah bodohnya sambil menatap manusia setengah singa di depannya itu.
Ternyata kami memang memiliki hubungan, kata Ratu Rushi dalam hati.