
Wani yang menyusuri hutan sekitar, mencocokkan setiap tanaman dengan lidah buaya di tangannya. Dari tanaman yang satu ke tanaman lainnya, ia bergerak cepat untuk menemukannya.
‘’Sudah hampir malam, tapi aku masih belum menemukan satu pun. Bagaimana wanita itu bisa menemukan tanaman ini?’’
Ia mencari tanpa membuang satu detik pun. Jika tidak menemukannya di sini, maka ia menuju ke tempat lain, sampai menemukan lidah buaya itu.
......................
Perkemahan
Para pengikut Ratu Rushi berdiri menatap kapal laut yang berlabuh di depan mereka. Terlihat Raja Raion dan Pangeran Rodigero menuruni kapal dengan wajah sendu. Mereka bertanya, dan kedua pria itu hanya menggeleng dengan wajah sedih.
Raja Raion bertanya dan para pengikut Ratu Rushi juga hanya menggeleng. Itu berarti tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menemukan wanita itu.
Meski begitu, mereka tidak akan menyerah dan akan melanjutkan pencarian besok pagi. Yagyu dan yang lainnya kembali menatap ke arah lautan dengan wajah sendu. Lalu menyusul masuk ke dalam perkemahan Raja Raion.
......................
Rawa
Ratu Rushi sesekali menoleh ke arah pintu goa. Mengingat sekarang adalah musim dingin, tanaman lidah buaya tidak tahan embun beku atau salju. Menemukan tanaman itu dalam kondisi sehat saja adalah sebuah keberuntungan.
‘’Aloe vera dapat terluka bakar jika terkena matahari yang terlalu kuat dan dapat mengerut jika tanahnya terlalu lembap. Haa, sekarang musim dingin. Apakah dia bisa menemukan banyak, ya?’’
Ia menghela nafas panjang dan duduk di samping reptil tadi.
Sang buaya tadi mengajak Ratu Rushi bicara untuk pertama kalinya. Reptil itu menanyakan mengapa saudara tirinya berani mendorongnya ke air, jelas-jelas mereka adalah keluarga. Sang Ratu memasang wajah sedih dan menceritakan semuanya.
‘’Aku masih penasaran dengan konflik yang kalian miliki terhadap suami dan pamanku. Wani juga sangat marah hari itu, padahal aku tidak bermaksud menyinggungnya,’’ kata Ratu Rushi.
Awalnya sang buaya akan menurut dengan perintah Wani yang menyuruhnya untuk tidak memberitahu Ratu Rushi apa pun. Tapi, setelah mengetahui masa kelam wanita itu membuatnya merasa iba.
‘’Kejadiannya bermula saat 12 tahun yang lalu….’’
Flashback on
Di sebuah pulau tidak berpenghuni yang jauh dari desa, ditempati oleh kaum buaya. Mereka tidak pernah menampakkan diri ke Negeri Aslan seberang. Meski begitu, mereka tetap mengetahui aktivitas yang berjalan di negeri seberang.
Awalnya mereka hidup tenang dan bahagia tanpa gangguan manusia yang mengusik pulau tersebut, sampai akhirnya seorang anak kecil membawa sebuah keranjang.
‘’Wani, apa yang kau bawa itu?’’
Semua orang langsung mendekat dan melihat bayi di dalam keranjang yang dibawa Wani tadi. Dilihatnya bayi itu sudah tidak bernyawa, membuat mereka hendak menguburnya. Namun, salah satu orang mencegahnya.
‘’Tidak saudaraku. Bayi ini mungkin sudah meninggal, tapi orang yang lebih berhak menguburnya adalah keluarganya sendiri. Aku sangat yakin, mereka pasti sangat cemas mencari bayi ini. Berikan saja kepadaku. Aku yang akan membawanya ke negeri seberang.’’
‘’Tapi saudaraku, berjanjilah. Kau hanya mengembalikan bayi ini, setelah itu pulanglah. Jangan berinteraksi dengan mereka terlalu lama,’’ kata salah satu pria yang merupakan pemimpin mereka.
Pria yang hendak membawa bayi itu mengangguk. Ia pun mengambil keranjang tadi dan bergegas pergi.
......................
Lautan
Terlihat seekor buaya sepanjang 12 meter yang membawa keranjang bayi di atasnya. Sang buaya melihat ada begitu banyak tenda di sekitar, membuatnya berenang ke tepi.
‘’Siruverash! Aku sudah memberitahumu. Kita akan kembali ke istana!” perintah Raja sebelumnya.
Siruverash membungkuk dengan wajah merah padam. Tanpa sengaja, matanya menangkap seekor buaya yang mengigit pegangan keranjang bayi. Ia memberitahu sang Raja membuat penguasa itu bergegas.
Sang buaya yang melihat kedatangan dua pria itu langsung terkejut. ‘’Tunggu Yang Mulia! Saya hanya datang untuk membawa bayi yang sudah meninggal ini.’’
‘’Bayi? Jangan-jangan bayi yang dimaksud adalah i—‘’
Syut!
Ucapan sang Raja terhenti karena merasakan sesuatu menembus dadanya dari belakang. Ia menoleh dan melihat Siruverash ternyata menusuknya.
‘’Untuk merobohkan sebuah bangunan, sangat penting menghancurkan pondasi dasarnya pertama kali,’’ kata Siruverash.
Di saat bersamaan, ratusan prajurit datang membuat Siruverash menarik tangannya. ‘’Yang Mulia telah diserang oleh buaya pemakan manusia ini! Makhluk ini juga sudah membunuh seorang bayi!’’
Sang buaya yang telah dijebak tadi langsung terkejut melihat kawanannya ternyata mengikutinya secara diam-diam. ‘’Berhenti! Jangan mendekat!’’
Boom!
‘’Raja telah mati! Habisi mereka semua! Ini adalah perintah dari pewaris selanjutnya, Raja Raion!’’ teriak Siruverash.
Flashback off
Ratu Rushi terpaku ditempatnya.