
Keesokan harinya, Raja Raion membuka mata sambil memegang kepalanya. Ia pun bangkit dengan alis berkerut.
‘’Akh, sepertinya aku minum terlalu banyak kemarin,’’ erangnya.
Kepalanya pun menyusuri seluruh sisi kamar dengan wajah bingung. ‘’Ini bukan kamarku … Di mana ini?’’
Ia kembali menoleh ke arah selimut sampai akhirnya melihat Ratu Rushi tertidur pulas di sampingnya. Saat itu juga ia hampir tersedak jika saja sedang meminum sesuatu. Matanya kembali menyusuri seluruh tubuhnya yang tidak mengenakan sehelai kain pun.
Untuk memastikan keraguannya, ia menarik selimut yang menutupi tubuh Ratu Rushi, dan melihat wanita itu juga tidak mengenakan apa pun seperti dirinya.
Di saat bersamaan, Ratu Rushi bangun dan melihat tangan Raja Raion memegang selimut yang menutupi tubuhnya dan mengintip ke dalam.
‘’Yang Mulia meniduriku?’’ tanya Raja Raion dengan wajah polos.
Saat itu juga Ratu Rushi langsung meninjunya membuat pria itu terjatuh dari kasur. ‘’Bukan aku. Kau yang meniduriku! Dasar pria mesum! Ini masih pagi dan kau sudah berbuat mesum saat aku masih tidur. Kau benar-benar ingin dihajar, ya?’’
Raja Raion meringis sambil mengelus pipinya. ‘’Tidak bisakah Anda bersikap lembut sekali saja? Kenapa selalu saja menghajarku secara tiba-tiba? Meskipun saya ini seekor singa, Yang Mulia tidak perlu bertingkah seperti singa betina juga.’’
‘’Kau baru saja menyebutku apa?!’’ kesal Ratu Rushi.
‘’Apakah Yang Mulia baik-baik saja? Kami mendengar ada suara yang terjatuh!’’
Kedua orang itu langsung menoleh ke arah pintu sebelum kembali saling bertatapan. Ratu Rushi langsung melempari Raja Raion jubah pria itu dan menyuruhnya mengenakan pakaiannya.
......................
Ruang Makan
Semua orang bingung melihat Ratu Rushi yang sepertinya tidak bisa duduk dengan benar sambil wanita itu meringis sesekal.
‘’Ada apa? Kenapa Anda terlihat seperti itu?’’ tanya Raja Raion yang duduk di sampingnya.
Kau bilang apa? Ini semua gara-gara dirimu yang begitu ganas di atas kasur, sampai pinggulku sangat sakit, jawab Ratu Rushi dalam hati.
Ia kembali tersenyum dan meminta mereka untuk tidak cemas. Lalu menyentuh sarapan paginya.
......................
Balkon Kamar
Kali ini, Putri Rukaia yang menghampiri kamar pamannya. Ia menceritakan rencananya kembali gagal karena Raja Raion bisa menahan diri dari minuman keras. Padahal sedikit lagi, ia bisa meniduri pria itu. Rasa kesalnya semakin bertambah karena pamannya tidak mendengar.
Ia menghampiri pria itu yang sedang berdiri menatap sebuah bingkai besar yang ditutupi kain. ‘’Paman selalu memandangi bingkai sejak aku dan kakak masih kecil. Memangnya apa yang penting dari bingkai ini?’’
Siruverash melotot begitu melihat tangan Putri Rukaia hendak menarik penutup kain bingkai tersebut. Ia pun langsung menangkap tangan wanita itu untuk menghentikannya. ‘’Orang asing seperti dirimu, tidak pantas menyentuh benda suci ini.’’
Putri Rukaia sedikit bingung dengan tingkah pamannya. Ia memasang wajah ketakutan sambil meringis karena tangannya dicengkeram begitu kuat oleh pria itu. ‘’Pa-Paman?’’
Pria tadi langsung tersadar sambil tangannya melemah. ‘’Ah, maksud saya, benda ini sangat berharga. Jadi tidak boleh sampai rusak.’’
‘’Begitu. Tapi Paman tidak mendengarkanku. Kakak semakin mendapatkan dukungan semua orang,’’ kata Putri Rukaia.
‘’Jangan khawatir. Malam ini, semua itu akan terenggut dalam sekejap,’’ kata Siruverash.
‘’Eh? Maksud Paman?’’ tanya Putri Rukaia.
Siruverash hanya diam dan kembali menatap bingkai besar di depannya.
......................
Pavilion
Ratu Rushi dan Pangeran Rodigero yang sudah meluruskan masalah gulungan, keduanya memilih untuk mengikuti rencana si pelaku dengan bertemu di tempat tersebut seperti biasa. Meskipun sampai saat ini belum ada gerak-gerik yang mencurigakan. Tapi, mereka berdua tetap waspada.
Pangeran Rodigero juga sudah mengetahui kedok Siruverash dan Putri Rukaia, membuat Ratu Rushi semakin mudah bicara dengannya.
‘’Sebenarnya apa yang direncakan pamanku sampai menyuruh kita bertemu di sini?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Apa pun itu, niat perdana menteri selalu tidak baik. Mungkin saja ada seseorang yang mengawasi kita dari jauh Yang Mulia,’’ kata Pangeran Rodigero tanpa menimbulkan gerakan yang mencurigakan.