Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 135 Deduksi



Istana


Kesehatan Ratu Agung telah membaik seperti semula. Namun, istana tidak seperti dulu lagi. Biasanya Raja Raion dan Pangeran Rodigero akan berkunjung setiap hari, tapi sekarang kedua pria itu hanya datang sesekali ke kediaman Ratu Agung.


Putri Rukaia mengambil kesempatan untuk memanfaatkan waktu tersebut. Selagi Raja Raion atau Pangeran Rodigero jarang datang ke kediaman Ratu Agung, ia memiliki banyak waktu untuk menghasut ibu Raja.


‘’Mohon maaf jika saya lancang Ratu Agung. Kita semua tahu kalau istana baru-baru ini berduka. Semua orang pasti masih sedih karena kehilangan Ratu Rushi. Kematian kakak pasti membuncang Yang Mulia Raja. Jadi menurut saya, ada baiknya kalau ada seseorang yang berada di sampingnya,’’ kata Putri Rukaia.


‘’Apa maksud Anda?’’ tanya Ratu Agung.


‘’Yang Mulia Raja sangat kesepian jadi pasti membutuhkan seorang pendamping baru yang bisa mengobati lukanya. Dengan begitu, Yang Mulia Raja bisa kembali memimpin kerajaan ini seperti semula,’’ kata Putri Rukaia.


Ratu Agung terdiam untuk sesaat, lalu memandang wanita itu karena mengerti maksudnya. ‘’Jadi menurut Putri Rukaia, Anda ingin Yang Mulia menikah lagi?’’


Putri Rukaia hanya tersenyum sambil menunduk. ‘’Itu hanya pendapat saya Ratu Agung. Saya tidak tega melihat Yang Mulia Raja larut dalam kesedihan terus menerus.’’


‘’Anda benar juga. Sebelumnya, Putri Rukaia pernah menjadi tunangan yang baru jika saja Ratu Rushi tidak kembali ke istana. Saya akan membicarakannya dengan Yang Mulia Raja untuk melanjutkan pertunangan kalian,’’ kata Ratu Agung.


Ya. Itulah yang saya inginkan. Lebih cepat lebih baik, agar aku bisa menduduki takhta posisi Ratu, kata Putri Rukaia dalam hati.


......................


Halaman Belakang Istana


Eris dan yang lainnya berkumpul seperti biasa jika memiliki waktu luang. Mereka terkejut saat mengetahui kabar kematian Ratu Rushi yang begitu mendadak.


‘’Pantas saja hari itu, Ratu Agung langsung kembali ke istana,’’ kata Riaz.


‘’Saat mendengar pengumuman hari itu, aku seperti merasa bermimpi buruk,’’ kata Zena.


Aruse dengan tenangnya mempetik kecapi seperti biasa. ‘’Tapi apakah ini tidak aneh?’’


‘’Apa maksudmu?’’ tanya Eris.


‘’Yang Mulia pernah memberi tendangan kepada Riaz dan Zena sebagai pelajaran. Lalu menghajar Nero sampai bibirnya berdarah. Sangat aneh kalau orang yang jago bela diri seperti Yang Mulia bisa disentuh apalagi dibunuh,’’ kata Aruse.


Sebelah alis Eris terangkat. ‘’Kenapa kau sampai berpikir Yang Mulia dibunuh?’’


Aruse berdiri sambil memainkan kecapinya. ‘’Coba pikirkan baik-baik. Untuk apa Yang Mulia berendam di air saat musim dingin seperti ini? Tapi, bagaimana kalau yang terjadi justru seperti ini. Seseorang memanggil Yang Mulia ke tempat yang sepi, lalu mendorongnya ke dalam air. Bukankah itu lebih masuk akal?’’


Keempat orang di sana yang bersamanya mengerutkan dahi sambil memikirkan ucapannya tadi.


‘’Maksudmu seseorang mengambil kesempatan untuk membunuh Yang Mulia di tempat sepi?’’ tebak Nero.


‘’Bukan mengambil kesempatan, tapi menyusun pembunuhan tersembunyi di belakang semua orang. Jika diingat sekali lagi, semua yang ikut liburan menyukai Yang Mulia, kecuali dua orang,’’ kata Aruse.


Nero dan Eris tersadar begitu juga dengan Riaz dan Zena setelah mendengar kalimat terakhir dari Aruse. Mereka saling memandang satu sama lain dengan wajah tidak percaya.


‘’Bagi orang yang tidak menyukai keberadaan Yang Mulia, seharusnya mereka berdualah pelakunya,’’ kata Aruse mempetik senar kecapinya.


Wajahnya langsung kusut. ‘’Sebaiknya kalian menutup mulut dan bertingkah seolah-olah tidak mengetahui sesuatu jika masih ingin hidup di dunia ini.’’


Tanpa mereka sadari, seseorang menguping pembicaraan tersebut sebelum akhirnya pergi.