
Awalnya Villain’s Team tidak peduli, dan hanya memandangi Heroes Team yang sibuk menggali tanah bersalju. Namun, melihat kegigihan para tahanan mencari batu dan mengetahui tim yang kalah akan diberi hukuman, membuat mereka bergerak di detik-detik terakhir, sehingga 20 orang dari masing-masing tim berlomba menggali tanah bersalju di halaman penghancur batu.
Stage 1 dimenangkan oleh Heroes Team, sedangkan 20 anggota Villain’s Team diberi hukuman dengan mengubur kedua tangan ke tanah bersalju, dan tidak melepaskannya sampai babak final tiba. Karena hal itu membuat Villain’s Team mulai serius di stage berikutnya.
Memasuki misi kedua di Stage 2, jumlah anggota ditambah lebih banyak dari dua tim dimana 40 VS 40 harus melempar batu agar berhenti di garis yang sudah ditentukan. Ratu Rushi menarik garis lurus di tanah bersalju dan menyuruh mereka untuk tidak melewati garis tersebut.
Tim yang pertama kali memulai adalah Heroes Team. 40 orang bergiliran secara satu persatu melempar batu. Namun, rata-rata dari mereka yang melempar batu malah melewati garis yang sudah ditentukan. Tibalah, giliran Villain' s Team yang melakukan pelemparan batu. Dengan hati-hati mereka melempar batu agar tidak melewati garis. Berbeda dengan tim yang tadi, Villain’s Team memenangkan babak kedua.
Kalau Villain’s Team yang tadinya mengubur kedua tangan ke dalam tanah bersalju, maka Heroes Team mengubur kedua kaki mereka di tanah berlaju.
Tibalah babak terakhir Stage 3, dimana anggota yang tersisa 60 VS 60 akan melakukan dodgeball dalam bentuk perang salju. Mengingat dua tahap sebelumnya, mereka akan bertanding secara serius di babak ini. Dodgeball adalah olahraga dimana bola karet dilemparkan kepada lawan, dan harus menghindari bola tersebut.
‘’Ini sudah umum dilakukan jika musim dingin. Kalian mengambil salju di tanah dan membentuknya seperti bola seperti ini, lalu melemparkannya ke arah sasaran,’’ kata Ratu Rushi mengambil pose layaknya pelempar baseball.
Bugh!
Lemparan tadi langsung mengarah ke salah satu penjaga. Tapi, penjaga tersebut menghindar sehingga lemparan tadi mengenai wajah kepala sipir yang berdiri di belakangnya.
‘’Ara? Kepala sipir, kau keluar,’’ kata Ratu Rushi.
Dengan wajah kusut, kepala sipir berjalan keluar lapangan sambil membersihkan wajahnya. Ia menatap kedua tim itu terlihat bersenang-senang.
‘’Hei! Apa yang kalian lakukan?! Kenapa tertawa?! Cepat akhiri permainan ini!’’ perintah Kepala Sipir.
Kedua tim melakukan perang salju, dan orang-orang yang kalah dan diberi hukuman merasa iri karena tidak bermain di babak ketiga. Melihat kedua tim itu saling bertahan dan melemparkan bola salju, membuat mereka juga ingin ikut.
Setelah babak ketiga selesai, kini akhirnya memasuki level terakhir. Ratu Rushi tersenyum remeh karena di babak tiga ini, kedua tim malah seri. Menghitung stage pertama dan kedua yang masing-masing dimenangkan oleh kedua tim, membuat skor mereka menjadi seimbang setelah keduanya seri di terakhir.
Ratu Rushi menghela nafas panjang. ‘’Baiklah. Sekarang adalah penentu siapa yang akan menjadi pemenangnya. Untuk menghemat waktu, kita akan menggambar 5 arena. Di dalam arena, siapapun yang melewati garis sebelum mengambil nama di punggung peserta akan dinyatakan gugur.’’
Tidak lama kemudian, beberapa tahanan membuat persegi 2x2 meter. Semakin kecil arena, maka semakin seru pertarungan kedua peserta untuk bertahan dan merebut papan nama yang diselotif pada bagian punggung.
‘’Aku akan menjadi peserta pertama yang akan memberikan contoh agar kalian mengerti. So, for the first person, who want’s to fight me?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Sebagai sesama ketua, aku yang akan melawanmu,’’ kata Kepala Sipir.
Ia mengerutkan dahi saat melihat para tahanan dan penjaga menutup kedua mata sambil mengatupkan kedua tangan. ‘’Apa yang kalian doakan?’’
Semua orang itu serentak menjawab sedang mendoakan jiwa yang sebentar lagi akan melayang, yang tidak lain adalah jiwa kepala sipir.
‘’Aku belum mati! Jiwa yang seharusnya kalian doakan adalah wanita ini, karena aku tidak akan ragu menyerangnya,’’ kata Kepala Sipir.
Ratu Rushi mulai mengambil posisi kuda-kuda. Melihat kepala sipir yang hendak menyentuhnya dengan wajah mesum, membuatnya jijik.