
Malam semakin larut, barulah Wani datang sambil membawa tanaman lidah buaya. Ia sampai keliling menyusuri pulau di sekitar agar menemukan tanaman tersebut. Tidak lupa meminta maaf karena tanaman lidah buaya yang ia bawa kebanyakan mengerut dan tidak subur.
‘’Maaf karena aku terlambat. Silahkan gunakan tana—‘’ ucapan Wani terpotong saat melihat mata Ratu Rushi bengkak.
Ia menatap ke arah sang adik yang sedang tertidur pulas.
‘’Hem! Aku minta maaf karena membuatmu menunggu lama. Tapi aku harus mengumpulkan tanaman ini dalam jumlah yang banyak. Oleskan secara pelan-pelan agar adikku tidak terbangun,’’ bisik Wani.
Ratu Rushi menatap lidah buaya yang mengerut di depannya. Matanya kembali memanas sehingga butiran bening terjatuh sekali lagi. Dengan wajah datar tapi tertekan, ia sedikit menggigit bibir bawahnya. ‘’Tanaman itu tidak bisa digunakan….’’
‘’Ha? Sangat mudah bicara seperti itu. Apa kau tidak tahu seberapa keras usahaku mencarinya tanpa melewatkan waktu sedetikpun?’’ tanya Wani.
‘’Tidak ada gel yang akan keluar dari tanaman yang sudah mengerut itu,’’ kata Ratu Rushi.
‘’Stt! Kau ini banyak bicara. Padahal aku sudah bersusah pa—‘’
‘’Adikmu sudah meninggal,’’ kata Ratu Rushi memotong ucapan.
Deg!
Bagaikan tersambar petir, Wani terpaku di tempatnya dengan mata membulat besar. Telinganya serasa berdenging bersamaan jantungnya memompa darah dengan irama cepat.
‘’Meriam itu menembus kulit tebalnya sehingga membuat jaringan di dalam tubuh adikmu sudah ru—‘’
Srig!
‘’Apa kau pikir aku tidak menjaga adikmu dengan baik? Ini pertama kalinya aku melihat seseorang meninggal di depan mataku sendiri. Pikirkan bagaimana menyiksanya menjadi pengantar kematian. Meskipun tidak memiliki hubungan darah, aku juga merasa sangat kehilangan,’’ kata Ratu Rushi.
Wani menggertak gigi dan melepaskan tangannya sambil mendorong Ratu Rushi dengan kasar. Ia langsung menghampiri sang buaya yang sejak tadi hanya tenang. Dengan rasa gemetar, tangannya mengelus kepala sang buaya.
‘’Kau sudah berjanji, dalam situasi apa pun, kita berdua akan selalu bersama dan saling melengkapi sebagai saudara. Lalu kenapa kau melanggar janji kita hari ini dan pergi meninggalkan kakakmu?’’
Tangannya mengepal dengan urat yang menegang sambil menarik nafas dalam-dalam. ‘’Kenapa?!’’
Ratu Rushi hanya memasang wajah sendu melihat Wani sangat terpukul. Yang lebih menyakitkan lagi karena pria itu tidak sempat berada di samping adiknya di saat-saat terakhir. Matanya kembali berkaca-kaca melihat Wani menangisi sang buaya.
‘’Adik, jika kau pergi … Siapa yang akan bersamaku? Semuanya telah meninggalkan kita dan sekarang kau juga ikut menyusul mereka,’’ kata Wani.
......................
Keesokan harinya…
Dengan mata yang bengkak dan kulit memucat, Wani menatap sang adik dalam wujud buaya.
Terlihat jelas lingkaran hitam di bawah kelopak matanya. Dia pasti berjaga semalaman, kata Ratu Rushi dalam hati.
Ia berjalan menghampiri Wani dengan wajah sendu. Tangannya terulur menyerahkan ikan bakar yang diberi tusukan, dengan maksud menyuruh pria itu untuk makan.
Namun, Wani tidak peduli dan tetap mengoleskan gel dari lidah buaya yang ia dapatkan. Tidak peduli gelnya hanya sedikit. Bahkan tangannya terluka karena duri di kedua sisi tanaman itu.