Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 82 Sulaman



Eris menatap Nero dengan wajah kesal. Ia meminta penjelasan mengenai rencana Aruse yang akan membalas Ratu Rushi. Tapi sampai saat ini, belum ada masalah yang menimpa wanita itu. Riaz dan Zena juga mengatakan hal yang sama. Mereka ingin melihat Ratu Rushi diberi pelajaran.


‘’Sebentar lagi kalian akan tahu. Aruse sudah menyiapkan pertunjukan utama yang tidak akan dilupakan orang hingga akhir zaman,’’ kata Nero.


......................


Semua orang terkesima melihat penampilan Ratu Rushi yang berjalan ke hadapan Ratu Agung. Wanita itu mengenakan dress hitam yang terbalutkan berlian dengan mantel berbulu, menguraikan rambut panjang dengan bunga-bunga menghiasinya, serta sentuhan make up yang membuatnya seperti boneka hidup.


Ya, saat ini bisa dipastikan kalau Ratu Rushi adalah orang yang paling tercantik kedua setelah Ratu Agung di aula tersebut. Tentu saja, hal itu tidak diterima oleh Putri Rukaia.


Sial! Dari mana Kakak menemukan cara berpakaian seperti itu? Cih! Dia merebut peranku yang seharusnya menjadi pusat perhatian, kata Putri Rukaia dalam hati.


Raja Raion dan Pangeran Rodigero terdiam untuk sesaat karena terkesima oleh Ratu Rushi. Namun, keduanya kembali tersadar saat hadiah dari wanita itu diperlihatkan.


Para pelayan membawa sebuah bingkai kayu besar yang ditutupi oleh kain. Mereka pun meletakkan bingkai besar itu lalu menarik kain yang menutupinya.


Deg!


Terukir senyuman miring di bibir Aruse, begitu juga dengan Nero, Eris dan Riaz serta Zena.


‘’Beraninya Yang Mulia menghadiakan sulaman rusak ini sebagai hadiah! Anda telah menghinaku!’’ seru Ratu Agung marah.


‘’Ini adalah malapetaka! Yang Mulia Ratu Rushi memberikan sulaman rusak di hari bersejarah Ratu Agung Narunia. Benar-benar memalukan dan mencoreng nama istana!’’ kata Aruse.


Ratu Agung langsung memerintahkan para prajurit untuk menyeret Ratu Rushi. Tentu saja pemandangan ini sangat dinikmati oleh Siruverash dan Putri Rukaia.


‘’Tunggu Yang Mulia Ratu Agung! Sepertinya ada kesalahpahaman di sini.’’


Pangeran Rodigero yang sudah berdiri, tadinya juga akan melakukan hal itu. Tapi tidak disangka, kakaknya mendahului. Putri Rukaia berdecih karena Raja Raion malah membantu Ratu Rushi. Ia ingin ikut campur tapi takutnya sang Raja semakin tidak menyukainya.


Eh? Dia menolongku? Aku tidak menyangka, kata Ratu Rushi dalam hati.


‘’Yang Mulia Ratu Agung, apakah aturan mengajari kita menjatuhkan hukuman sebelum menyelidiki kebenaran?’’


Ratu Rushi kembali terbelalak, karena kalimat yang diucapkan Raja Raion tadi, sama persis yang ia ucapkan saat di rumah penghakiman. Ratu Agung yang mendengarnya terpaksa memberikan kesempatan untuk pembelaan diri.


‘’Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia Ratu Agung. Tadinya saya memang berniat memperlihatkan sulaman ini, tapi bukan sebagai hadiah. Sepertinya ada seseorang yang telah sengaja merusaknya,’’ kata Ratu Rushi menyindir dengan tatapannya.


Menyadari semua lirikan mata mengarah kepada Aruse, dan keempat rekan terdekatnya, membuat kelima orang itu memasang wajah tegang.


‘’Kalau begitu syukurlah sulaman ini bukan hadiah yang akan diberikan kepada Yang Mulia Ratu Agung. Jadi, di mana hadiah dari Yang Mulia Ratu Rushi?’’ tanya Aruse mengalihkan topik.


Ratu Rushi tersenyum bersamaan Hana dan kelima pria pengikutnya muncul sambil mendorong kereta hias yang mengangkut sebuah benda yang sangat besar ditutupi kain.


Ratu Agung menatap benda depannya itu dengan sebelah alis terangkat. Ratu Rushi menjetikkan jari, sehingga kain yang menutupi tadi ditarik. Untuk sesaat semua orang melindungi matanya karena merasa silau. Tidak lama kemudian, mereka membuka mata secara pelan.


Deg!