Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 120 Pohon Yodium



Ratu Rushi menyusuri hutan sekitar. Jejak kakinya bahkan terlihat jelas di tanah bersalju saking tebalnya salju menutupi. Ia masih mengingat luka-luka ditangan Wani yang berdarah tanpa pria itu peduli. Setelah berjalan cukup jauh, ia menatap pohon yang mengelilinginya.


‘’Ah~ andai Shika ada di sini, dia pasti bisa menemukan Pohon Yodium dengan cepat menggunakan kemampuannya menilai kualitas batang kayu.’’


Wanita itu menggigil dan menggosok kedua tangannya sambil menghembuskan nafasnya. Saking dinginnya, terlihat jelas asap yang keluar dari mulutnya.


‘’Kalau begitu, aku hanya perlu mengandalkan ciri-ciri pohon itu,’’ kata Ratu Rushi.


Tanaman Yodium memiliki batang berbentuk bulat dan memanjang keras, dimana panjangnya mencapai 5 meter atau lebih. Batangnya berwarna hijau muda atau tua. Daunnya tunggal dan berbentuk persegi yang memanjang dengan bentuk hati yang panjangnya 20 cm dan tersedia pertulangan menjari. Juga memiliki bunga jenis majemuk bentuk malai.


‘’Itu dia!’’ pekik Ratu Rushi menghampiri pohon tersebut.


Ia menatap pohon dengan ciri-ciri yang sama persis Pohon Yodium. ‘’Tidak salah lagi, bunga majemuk bentuk malai ini … Jatropha multifida Linn.’’


......................


Rawa


Ratu Rushi datang sambil membawa Pohon Yoidum yang ia ambil sebagian. Matanya melirik ke arah ikan bakar yang sama sekali belum disentuh Wani.


‘’Kau belum makan? Ini sudah hampir sore,’’ ucapnya tapi tidak dipedulikan.


Ia pun menghampiri Wani dan hendak menegurnya untuk tidak keras kepala. Namun, ia terkejut karena pria itu ternyata sedang tertidur. Matanya kembali melirik ke arah sang buaya yang sudah tiada itu.


Ratu Rushi duduk di samping Wani. Ia memetik selembar daun dan mengoleskan getah yang keluar dari ujung batangnya ke area luka di tangan pria itu.


Deg!


Wanita tadi sedikit tersentak gara-gara terkejut karena Wani tiba-tiba bicara, padahal pria itu sedang tidur. Ia tersenyum dan meminta maaf karena meskipun dengan pelan-pelan, ia tetap membangunkannya.


‘’Jangan pedulikan aku. Silahkan lanjutkan tidurmu,’’ kata Ratu Rushi.


Wani menarik tangannya dan membuang wajah. ‘’Tidak ada yang memintamu mengobatiku.’’


Ratu Rushi mengerutkan dahi tanda kesal, lalu menarik tangan pria itu dan kembali mengoleskan getah daun. ‘’Sebelum tanganmu infeksi, kita harus mengobatinya. Pohon Yodium adalah jenis tanaman yang memiliki kandungan alpha amirin, kampesterol, 7 alfa diol, stigmaterol, beta sitosterol, dan HCN. Batangnya mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, dan tannin. Dengan banyaknya kandungan, tanaman yodium ini bisa mempercepat luka ringan dan mencegah infeksi.’’


Mata Wani mengarah ke ikan bakar yang disiapkan wanita itu tadi untuknya. Ia mengatupkan gigi pada rahang atas-bawah dan menggeremetek. Kondisi ini disebut Bruxism. ‘’Kenapa kau bersikap baik kepada orang yang hendak membunuhmu?’’


Ratu Rushi terdiam untuk sesaat hingga akhirnya bicara. Ia memberitahu Wani kalau adiknya sudah menceritakan semuanya mengenai alasan mereka ingin balas dendam dan membenci manusia. Ia juga menceritakan saat-saat terakhir dirinya berbincang dengan sang buaya, membuat mata Wani kembali berair.


‘’Sendirian lebih menyakitkan daripada terluka. Kesendirian itu menyenangkan, tapi kesepian tidak. Kau pa—‘’


Saat itu juga Wani memeluk Ratu Rushi dan menangis keras. Ia menyesal karena tidak mendengarkan ucapan adiknya untuk melepaskan Ratu Rushi dan memilih melarikan diri. Semua keluarganya telah dibantai, dan ia hanya memiliki sang adik seorang. Namun, adiknya juga pergi meninggalkannya sama seperti yang lainnya.


Butiran air mata Ratu Rushi kembali terjatuh. Ia hanya bisa memeluk Wani dengan lembut sambil mengelus pucuk rambutnya. Ia bisa merasakan kesedihan dan rasa kehilangan dari pria itu.


‘’Hanya waktu yang bisa menyembuhkan hatimu yang hancur. Sama seperti waktu menyembuhkan lengan dan kaki yang patah. So, stay strong and patient,’’ kata Ratu Rushi.