Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 168 Tiruan



Rukaia yang hendak keluar langsung melotot melihat beberapa orang menghadangnya. ‘’Kalian sia—’’


Mulutnya tiba-tiba dibengkap sambil gerakannya ditahan dan ditarik masuk.


Raja Raion yang memejamkan mata tadi, membuka matanya perlahan saat mendengar gesekan pedang. Dilihatnya dua sosok menangkis serangan ketiga pembunuh bayaran tadi, hingga akhirnya orang-orang itu terlibat pertarungan. Ia kembali melihat Rukaia yang diseret oleh beberapa sosok yang sama.


Tidak cukup lama dua sosok bertopeng yang terlibat pertarungan itu mengalahkan para pembunuh bayaran.


Rukaia menganga melihat bawahan pamannya telah dihabisi tanpa ragu, dan menatap kelompok orang itu agar melepaskannya. Beberapa dari mereka menghampiri Raja Raion dan membantunya berdiri.


‘’Siapa kalian?’’ tanya Raja Raion.


Salah satu sosok yang bertarung tadi menghampirinya. Ia menatap sosok itu terdiam untuk sesaat hingga akhirnya sosok tersebut memukulnya.


‘’Beraninya memukulku!’’ seru Raja Raion.


‘’Kau pantas dipukul karena mudah dibodohi.’’


Raja Raion dan Rukaia tersentak begitu mendengar suara itu. Sosok tadi menarik penutup wajah dan kepalanya sehingga memperlihatkan rambut emas putih mengurai ke bawah. Saat itu juga mata mereka membulat besar setelah melihat wajah dibalik penutup wajah tadi.


‘’Yo Raja Boneka,’’ sapa Ratu Rushi.


‘’Kakak di sini?! Bukankah seharusnya Anda meninggalkan negeri ini?’’ tanya Rukaia.


‘’Hukumanku adalah meninggalkan negeri ini dan mengasingkan diri di negeri seberang. Aku melakukannya. Tapi, hukumannya tidak mengatakan untuk melarangku datang,’’ senyum Ratu Rushi.


Beberapa sosok yang datang bersamanya juga membuka penyamaran dan memperlihatkan para pengikutnya. Raja Raion mengerutkan dahi karena masih ada satu orang yang tidak membuka penyamarannya.


Ratu Rushi menatap sosok itu dan mengangguk dengan maksud bisa memperlihatkan wajahnya. Sosok tadi menarik balutan kain hingga memperlihatkan wajahnya. Saat itu juga Raja Raion mematung di tempat begitu juga dengan Rukaia.


‘’Tidak mungkin … Bagaimana bisa Pangeran Rodigero masih hidup?’’ tatap Rukaia.


‘’Apa yang terjadi sebenarnya? Kami melihatnya sendiri kalau panah itu menembus jantungmu. Anda bahkan mengeluarkan banyak darah,’’ habis pikir Raja Raion.


Pangeran Rodigero melirik Ratu Rushi. Ia menceritakan semuanya kalau mereka berdua sudah mengetahui rencana Siruverash sebelum mereka dijebak. ‘’Untuk berjaga-jaga, Yang Mulia membuat banyak kantong darah palsu dari buah raspberry, dan menaruhnya di sekujur tubuhku.’’


‘’Aku terinspirasi dari salah satu episode dalam anime Dr.Stone yang melakukan hal sama,’’ senyum Ratu Rushi.


Rukaia tersenyum remeh. ‘’Kakak jangan senang dulu. Elang emas milik paman mengawasi tempat ini. Dan Washi pasti sudah pergi dan melaporkan kejadian ini.’’


Sebelah alis Ratu Rushi terangkat. ‘’Jangan khawatir. Washi sudah pergi dari tempat ini bersama dirimu sebelum kami datang.’’


‘’Bersama diriku? Apa maksud Kakak?’’ tanya Rukaia.


‘’Menurutmu siapa yang paling ahli dalam hal menyamar di antara para pengikutku?’’ tanya Ratu Rushi tersenyum.


Rukaia yang merasa tidak nyaman langsung menatap para pengikut kakaknya secara satu persatu. Tidak lama kemudian matanya membulat besar. ‘’Di mana rubah itu?!’’


......................


Kamp Siruverash


Terlihat sosok yang menunggani seekor kuda dengan seekor elang yang terbang di atasnya. Siruverash yang mendengar suara kuda, langsung mengeluari tenda dan melihat sosok itu. Elang emas tadi berubah menjadi sosok Washi.


Siruverash mengerutkan dahi. ‘’Kau baru saja pergi. Kenapa kembali lagi? Di mana ketiga orang itu yang pergi bersamamu?’’


‘’Mereka semua telah dihabisi,’’ jawab Rukaia.


Deg!