
Ratu Rushi menatap Tora membuat pria itu menunduk dan mundur sedikit.
‘’Aku hanya menatapmu. Kenapa kau segitu takutnya?’’ tanya Ratu Rushi.
Ia kembali menatap Raja Raion dan menyuruhnya pergi. Namun, pria tadi keras kepala dan tidak menurut.
Ratu Rushi dengan sabarnya menyuruh kedua pria itu agar meninggalkan rumah makan secepatnya. Tapi seperti tadi, Raja Raion tidak mendengar.
Tora yang melihat Ratu Rushi seolah-olah mengeluarkan aura membunuh, hanya menela saliva. Ia menatap Raja Raion dengan wajah penuh harap.
Kenapa Yang Mulia membuat ini semakin sulit? Ratu Rushi sepertinya terlihat sangat marah. Apakah Yang Mulia ingin menerima pukulan maut dari istri Anda lagi? Haa, kata Tora dalam hati.
‘’Eish, kau sangat keras kepala. Dengar, aku sedang tidak mood untuk marah, jadi segeralah pergi dari sini,’’ kata Ratu Rushi dengan tekanan di akhir kalimat.
Raja Raion mengabaikan dan hanya duduk tenang. Melihat hal itu membuat Ratu Rushi memerintahkan keempat pria pengikutnya untuk menyeret pria itu keluar.
‘’Oho! Beraninya kau ingin menyeret Raja-mu sendiri,’’ habis pikir Raja Raion.
Ratu Rushi tidak mendengar dan mengkode keempat pria pengikutnya agar segera menyeret suaminya itu. Ragu-ragu, Yagyu dan lainnya mendekat. Namun, Raja Raion langsung melontarkan tatapan tajam ke arah mereka, membuat keempat pria itu kembali mundur.
‘’Yang Mulia, kami masih ingin hidup,’’ kata Shika.
‘’Hem! Tiba-tiba, kaki kami tidak bisa bergerak Yang Mulia,’’ kata Yagyu.
‘’Um, itu … Yang Mulia, kenapa kita tidak membiarkan Yang Mulia Raja untuk tinggal saja,’’ kata Usagi.
‘’Yang Mulia sudah terlanjur ada di sini, kenapa kita tidak melayaninya saja?’’ tanya Mozaru.
Keempat pria itu kompak membuang wajah sambil bicara, karena tidak berani menatap wajah Ratu Rushi. Melihat hal itu membuat Raja Raion tersenyum puas.
Ratu Rushi mengernyitkan alis menatap Raja Raion sambil tersenyum. ‘’Dewa, hajimemashouka(Kalau begitu, ayo mulai).’’
......................
Tora hanya menunduk sejak tadi karena merasakan aura kemarahan yang dipancarkan Raja Raion. Ia menatap para pelayan sedang mengobati wajah pria itu.
Raja Raion mengerutkan alis dengan wajah kusut bukan main. Para pelayan yang mengobatinya bahkan tidak tahu harus bergerak kemana.
Mengingat perlakuan Ratu Rushi kepadanya saat di rumah makan, membuat Raja Raion semakin kesal.
Dia benar-benar menghajarku. Aku berterima kasih karena dia adalah orang pertama yang berani memukul dan menyeretku seperti ini. Padahal aku ini suaminya! Dasar, gerutu Raja Raion dalam hati.
Tora yang melihatnya hanya menghela nafas. ‘’Sepertinya Yang Mulia menggerutu bukan main dalam hati.’’
Flashback on
Semua orang terkejut melihat kedatangan Raja Raion dalam kondisi babak belur. Tentu saja yang paling heboh adalah Ratu Agung.
‘’Siapa yang telah berani melakukan hal seperti ini kepada Yang Mulia? Kerahkan seluruh prajurit ke penjuru negeri untuk menangkap orang itu! Tangkap dia beserta seluruh keluarganya untuk diberikan hukuman mati!’’
Tora tersentak mendengar perintah Ratu Agung. Ia langsung menatap Raja Raion penuh cemas.
‘’Aku hanya tersandung dan jatuh ke tanah,’’ kata Raja Raion dengan wajah datar bodohnya.
‘’Tersandung dan jatuh ke tanah? Apakah Yang Mulai sedang bergurau?’’ tanya Siruverash.
‘’Apakah memar di wajahku terlihat bohong?’’ tanya Raja Raion.
Ia tersenyum kepada semua orang dan menyuruh mereka agar tidak cemas. Lalu berjalan pergi tanpa peduli tatapan semua orang.
Flashback off
Tora hanya tersenyum kaku mengingat semua itu.
Stt, entah apa yang terjadi jika mereka semua tahu, kalau ini perbuatan Ratu Rushi, kata Tora dalam hati.