Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 116 Senja



Mengetahui Raja Raion memilih untuk tetap tinggal, membuat Pangeran Rodigero dan para pengikut Ratu Rushi juga ikut bersamanya. Para prajurit yang dipimpin pengikut Ratu Rushi dibagi untuk menyebar ke segala sisi empat arah mata angin.


Yagyu dan Mozaru mencari bagian barat dan timur, sedangkan Kitsune dan Shika mencari di arah utara dan selatan. Hana, Kujaku dan Usagi menyusuri pesisir pantai, sedangkan Raja Raion dan Pangeran Rodigero menaiki kapal mangarungi lautan untuk mencari Ratu Rushi.


......................


Rawa


Ratu Rushi yang selesai mengoleskan lidah buaya langsung berdecih. ‘’Ini tidak cukup. Kita membutuhkan lebih banyak agar bisa menutupi seluruh area yang terbakar.’’


‘’Itu salahmu karena kau hanya mengambil sedikit,’’ kata Wani.


‘’Hem! Excume me? Aku ini bukan laba-laba atau kepiting yang punya banyak tangan. Lihat? Hanya ada dua. Bagaimana aku bisa membawa tanamannya lebih banyak sedangkan kedua tanganku sudah penuh karena membawa kayu-kayu itu juga?’’ tanya Ratu Rushi.


Wani berdecih dan berbalik untuk bergegas keluar sambil menggerutu.


‘’Kau mau ke mana?! Adikmu ini butuh bantuan,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Aku baru ingin mencari tanamannya!’’ kesal Wani.


‘’Apa kau tahu ciri-ciri tanamannya? Sebelum kau mengambil tanaman beracun dan membunuh adikmu sendiri, lebih baik bawa lidah buaya ini bersamamu,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Eish!’’ kesal Wani kembali menghampiri Ratu Rushi, lalu merebut lidah buaya tadi dengan kasar dan bergegas keluar.


‘’Woah? Apakah dia seorang wanita? Kenapa dia begitu sensitif seperti orang yang mengalami datang bulan saja,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Datang bulan? Apa itu Yang Mulia?’’ tanya sang buaya.


Ratu Rushi langsung memasang wajah bodohnya karena pertanyaan tadi. Tidak mungkin ia menjelaskan siklus bulanan wanita sepertinya kepada seorang pria. ‘’Lupakan, itu tidak penting.’’


......................


Terlihat jelas kesedihan yang mendalam terpancar di wajah mereka. Keduanya masih belum percaya dengan kejadian yang menimpa Ratu Rushi, dimana wanita itu ditelan seekor buaya sepanjang 12 meter. Ada keraguan di hati mereka yang saling bertabrakan antara wanita itu masih hidup atau telah tiada.


‘’Pangeran Rodigero, ini….’’


‘’Saya berani mengusulkan lokasi liburan, karena salah satu tempat di dekat pantai tadi terdapat air terjun ini. Keindahan yang sama dimiliki oleh Yang Mulia. Saya sangat ingin memperlihatkan pemandangan ini kepada Anda,’’ kata Pangeran Rodigero.


‘’Hem! Karena sudah memperlihatkan hal menakjubkan seperti ini, aku akan memaafkan kesalahanmu,’’ kata Ratu Rushi. (Pangeran Rodigero teringat)


Tangannya mengepal setelah mengingat kejadian itu. Padahal, Ratu Rushi sudah memaafkannya dan mereka kembali akrab. Tapi, wanita itu malah pergi meninggalkannya.


‘’Ratu, kumohon jangan membenciku,’’ kata Raja Raion.


‘’Kau sangat nyaman saat bersama Rodigero. Tapi, aku juga adalah suamimu. Tidak bisakah sekali saja jangan membenciku?’’ mohon Raja Raion.


Ratu Rushi pun berjongkok sambil tersenyum tipis. ‘’Aku tidak pernah membencimu.’’


‘’Jika kau canggung dengan hubungan suami istri, kita bisa memulainya dengan hubungan teman terlebih dahulu,’’ kata Raja Raion.


‘’Deal?’’ bingung Raja Raion melihat wanita itu mengulurkan tangan.


‘’Ini seperti kita membuat kesepakatan,’’ kata Ratu Rushi meraih tangan Raja Raion agar membalas uluran tangannya. (Raja Raion teringat)


Sama halnya dengan sang adik, ia juga mengepalkan tangan. Padahal, ia dan Ratu Rushi sudah memperbaiki hubungan dan memulainya dari. Namun, wanita itu malah pergi meninggalkannya.


Yang Mulia, kata kedua bersaudara itu kompak dalam hati.