
Ratu Rushi menatap semua orang dan meminta mereka untuk mempercayainya. Ia menyuruh sebagian tahanan untuk membuat keributan dan sisanya membantu Wani melarikan diri dengan memanjat tembok.
Setelah menerima peran masing-masing, para tahanan menyebar. Beberapa dari mereka bertengkar di koridor, pintu dan gerbang sehingga para penjaga kewalahan melerai mereka. Kesempatan itu digunakan Ratu Rushi bersama tahanan lainnya untuk menuju ke sisi tembok belakang.
Wanita itu memerintahkan para tahanan membentuk formasi kartu susun bertingkat agar membuat tangga untuk Wani. Begitu terbentuk segitiga besar dengan puncaknya yang mencapai ujung tembok bagian atas, membuat Wani bergegas menaiki mereka.
Kamereon yang melihat Wani melompat ke seberang, menatap Ratu Rushi dengan wajah cemas. ‘’Yang Mulia, muara sungai di belakang tembok ini sangat besar, dan arusnya begitu deras. Apakah tidak ada jalan lain untuk mengutus Wani keluar dari tempat ini?’’
‘’Jangan khawatir. Justru inilah jalan satu-satunya yang sangat mendukung pelarian Wani,’’ senyum Ratu Rushi.
‘’Itu berarti dia bukan Jerapah. Binatang yang identik air dengan tubuh besar dan panjang … Ah!’’ pekik Kamereon.
Ratu Rushi tersenyum remeh karena manusia setengah bunglon itu akhirnya mengerti wujud yang sebenarnya dari Wani.
‘’Ikan besar!’’ kata Kamereon penuh keyakinan.
Saat itu juga Ratu Rushi hampir terjatuh karena ucapan Kamereon. Ternyata pria itu tetap saja tidak mengerti, membuatnya hanya menghela nafas panjang. ‘’Forget it.’’
......................
Washi yang dalam wujud elang emas bergegas ke Penjara Pengasingan. Siruverash telah mempercayainya untuk urusan tersebut, membuatnya tidak akan mengecewakan majikannya itu. Akan tetapi, ia tiba-tiba terhenti saat melihat burung yang sama seperti dirinya.
Ia teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu, dimana ia sempat terlibat pertarungan dengan elang peregrine itu.
‘’Yo! Elang kasar, kita bertemu lagi,’’ kata Taka.
‘’Minggir dari hadapanku,’’ kata Washi.
Namun, elang peregrine tadi tidak mendengar dan tetap menghadang elang emas tersebut.
‘’Aku tidak memiliki urusan denganmu! Minggir dari sana!’’ seru Washi.
‘’Kau memang tidak memiliki urusan denganku. Tapi aku yang memiliki urusan denganmu,’’ kata Taka.
Washi pun hendak pergi, tapi Taka selalu mengikuti pergerakannya untuk tidak membiarkannya lewat. Ia pun kesal dengan elang peregrine yang tiba-tiba muncul mencari masalah.
......................
‘’Arigatou gozaimasu Okyaku-sama,’’ kata para pria pengikut Ratu Rushi.
Mereka kembali melakukan rutinitas yang biasanya dilakukan saat berada di rumah makan itu dulu. Kujaku yang baru pun diajari tata cara yang pernah diajarkan Ratu Rushi kepada para pria tersebut. Karena hari sudah mulai siang, membuat mereka memasuki jam istirahat.
Tiba-tiba lonceng dari pintu masuk berbunyi, membuat mereka menoleh. ‘’Maaf, kami sedang istira—‘’
Ucapan mereka terhenti saat melihat sosok yang datang adalah seorang pria berkulit putih, dengan pakaian nuansa hitam yang menguncir sebagian rambut atasnya, serta beberapa kepang kecil di sela-sela rambutnya.
‘’Pakaianmu terlihat berbeda. Siapa kau?’’ tanya Mozaru.
‘’Namaku Wani. Aku datang untuk bertanya. Di mana aku bisa bertemu dengan Duo Tanduk Liar?’’
Yagyu dan yang lainnya saling bertatapan dengan wajah bingung, lalu kembali menatap Wani.
‘’Duo?’’ tanya Shika.
‘’Tanduk Liar?’’ tanya Usagi.
‘’Siapa mereka?’’ tanya keduanya kompak.
Wani memberitahu mereka kalau Duo Tanduk Liar yang dimaksud adalah pasukan tentara terkuat di tempat tersebut. Semua orang kembali saling bertatapan bingung.
‘’Kalau mengenai tentara terkuat itu hanya milik istana. Tapi aku baru dengar kalau ada julukan Duo Tanduk Liar untuk tentara di sini,’’ kata Yagyu.
Kitsune yang menyadari sesuatu langsung tersentak. ‘’Ini hanya dugaanku, tidak tahu apakah benar. Jika bicara dengan soal tanduk, selain mereka bertiga tidak ada orang lain lagi.’’
‘’Kata duo yang dimaksud tadi mungkin berarti dua. Lalu untuk kata liar lebih merujuk ke sikap buas. Di antara rusa, banteng dan badak ini, hanya Yagyu dan Mozaru yang bisa diumpamakan binatang buas,’’ lanjut Kitsune.
‘’Tidak ada orang selain Yang Mulia yang mengatakan bahasa asing di sini. Siapa yang menyuruhmu datang untuk bertemu dengan kami?’’ tanya Yagyu dengan sorot mata serius.