
Saat sarapan pagi, semua orang menatap Raja Raion dan Ratu Rushi yang saling diam. Biasanya kedua orang itu akan ribut di meja makan, tapi hari ini mereka hanya diam. Pangeran Rodigero kembali mengingat kejadian kemarin, dimana ia menyuruh kakaknya itu datang ke kamar Ratu Rushi.
Oh tidak. Kemarin saya hanya membuat alasan agar Kakak pergi dari kamarnya. Jangan-jangan mereka berdua bertengkar karena ulahku, kata Pangeran Rodigero dalam hati.
Ratu Agung yang sudah mendengar kabarnya hanya tersenyum. ‘’Sepertinya sebentar lagi akan lahir pewaris takhta.’’
Pangeran Rodigero yang makan hampir tersedak. Ia pun menatap ibunya dan meminta penjelasan mengenai ucapannya tadi. ‘’Kenapa bisa begitu?’’
‘’Untuk pertama kalinya, Yang Mulia mengunjungi kamar Ratu Rushi dan menginap di sana. Semua orang membicarakannya. Yang Mulia seharusnya bersikap sedikit lembut kepada istri Anda,’’ kata Ratu Agung.
Eh? Jadi, Kakak tidak kembali ke kamar? Lalu siapa yang membawaku kembali ke kamarku? Ah, kata Pangeran Rodigero dalam hati.
Ia langsung teringat dengan sosok Tora. Akan tetapi, setelah mendengar ucapan ibunya, itu berarti kakaknya sudah berhubungan dengan Ratu Rushi. Wajahnya langsung sendu sebelum akhirnya tersenyum.
Berbeda dengan Putri Rukaia yang menahan emosinya sejak tadi. Ia menatap kakak tirinya penuh kebencian karena selalu saja mendapatkan sesuatu yang ia coba inginkan.
Siruverash yang melihat Putri Rukaia di sampingnya hanya diam.
Bersabarlah. Ini terakhir kalinya kau akan merasakan hal ini. Atas namaku sendiri, kedua tanganku ini akan memastikan Ratu Rushi meninggalkan istana. Barulah, aku membawa kehancuran kepada kerajaan ini, ucapnya dalam hati.
......................
Setelah sarapan selesai, Raja Raion tidak henti-hentinya mengikuti Ratu Rushi terus. Tidak peduli kemanapun wanita itu pergi, sang raja tetap berada di belakangnya.
‘’Sampai kapan kau akan mengikutiku terus?!’’ kesal Ratu Rushi.
‘’Sudah saya bilang, yang terjadi kemarin malam itu adalah kecelakaan,’’ kata Raja Raion.
Flashback on
‘’Kenapa kau tersenyum?’’ tanya Ratu Rushi.
Melihat hal itu, Ratu Rushi langsung menghindar sebelum dirinya terkena bantal. Ia merebut bantal di tangan Hana lalu melempari Raja Raion. ‘’Heh, 2-0!’’
Pasangan suami istri itu pun saling kejar-kejaran di dalam kamar sambil melewati dua belas yang masih duduk tenang.
Sang Ratu meminta pengikutnya untuk ikut bergabung, tapi terlalu takut kepada Raja Raion. Tanpa sadar, sang Raja mengizinkan mereka untuk ikut karena terbawa suasana. Akhirnya mereka kembali perang bantal.
Ratu Rushi tertawa lepas karena Raja Raion tidak pernah mengenainya. Justru sebaliknya, ia sangat puas karena lemparannya selalu mengenai wajah pria itu. Saat melihat sang Raja mengambil dua bantal, ia pun hendak berlari, akan tetapi kakinya langsung menginjak ujung gaun membuatnya terjatuh.
Di saat bersamaan, tubuh Yagyu dan Wani membentur punggung Raja Raion sehingga pria itu terjatuh ke depan.
Cup!
Shika yang sibuk melempar bantal langsung melongo, tidak peduli wajahnya terkena lemparan bantal oleh Kujaku.
Melihat ekspresi manusia setengah rusa itu membuat semua orang menoleh dan langsung terkejut. Mereka juga melongo saat melihat Ratu Rushi dan Raja Raion berciuman.
Flashback off
‘’Saya sudah meminta maaf. Kenapa Anda menghindariku terus?!’’ kesal Raja Raion.
‘’Siapa yang menghindarimu?!’’ balas Ratu Rushi.
Aku tidak berniat menghindarinya. Hanya saja jantungku tidak berhenti berdebar jika bersamanya. Ah, ada apa denganku? Jantung berdetak dan menghindar terus, biasanya kondisi seperti adalah saat orang jatuh cinta. Hhah? Jangan bilang aku benar-benar jatuh hati kepada pria ini gara-gara ciuman itu. Ah! tidak, tidak, ucapnya dalam hati.
Raja Raion mengerutkan dahi melihat wanita itu menggerutu sambil geleng-geleng kepala. ‘’Anda kenapa Ratu Rushi?’’
‘’Ah molla(tidak tahu)!’’ kesal Ratu Rushi bergegas pergi.
‘’Gula? Ada apa dengan gula? Ratu Rushi? Ratu Rushi! Tunggu!’’ teriak Raja Raion menyusul.