Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 155 Gagal 2X



Bugh!


Untuk kesekian kalinya Raja Raion meletakkan cangkir ke meja dengan kasar. Putri Rukaia hanya memasang wajah tidak percaya. Kenapa tidak, sejak siang tadi sampai sekarang, pria itu tidak henti-hentinya minum. Bahkan terlihat jelas kalau sang Raja sudah mabuk bukan main.


‘’Haa, kenapa hanya diam? Cepat tuangkan botolnya lagi!’’ perintah Raja Raion.


‘’Ta-Tapi Yang Mulia, tidaka ada botol yang tersisa lagi. Anda menghabiskan dan meminum semuanya,’’ kata Putri Rukaia.


‘’Ha?!’’ seru Raja Raion lalu membanting cangkirnya.


Putri Rukaia tersentak begitu juga dengan Eris dan para pelayan. Ini pertama kalinya mereka melihat Raja Raion mabuk berat.


‘’Bawa keluar semua botol ini! Saya yang akan mengurus Yang Mulia!’’ perintah Putri Rukaia.


Kepala pelayan Eris pun mengintruksi para bawahannya untuk membawa botol-botol itu keluar. Tidak lama kemudian, pintu tertutup. Putri Rukaia menatap Raja Raion yang sudah tidur terlentang di lantai.


Wanita itu menghampiri sang Raja dan memanggilnya. Raja Raion langsung berbicara sendiri dalam kondisi mata terpejam. Menyadari sekitar sangat sepi dan tidak ada yang akan berani masuk ke kamar Raja, membuat Putri Rukaia menggunakan kesempatan ini.


Ia pun menarik tali pengikat atasan bajunya dan melepaskannya sendiri. Lalu membuka jubah Raja Raion yang sekarang dalam kondisi tidak sadar.


‘’Jangan khawatir Yang Mulia. Saya ada di sini untuk menghibur Anda. Yang Mulia bisa menggunakan tubuhku semau Anda,’’ kata Putri Rukaia meletakkan tangan Raja Raion agar pria itu sendiri yang membuka gaunnya.


Putri Rukaia memajukan wajahnya sambil memejamkan mata. Namun, niatnya terhenti saat Raja Raion menahan tubuhnya.


‘’Tora!’’ teriak Raja Raion.


Menyadari pintu terbuka, membuat Putri Rukaia langsung bangkit dan kembali memasang atasan gaunnya. Di saat bersamaan, Tora muncul dengan wajah terbelalak. Pria itu kembali menyaksikan kejadian yang sama saat Pangeran Rodigero bertukar tempat dengan Raja Raion.


‘’Yang Mulia memanggil hamba?’’


Tora mengangguk dan menghampiri Putri Rukaia lalu menarik wanita itu dan menyeretnya keluar. Putri Rukaia meronta-ronta, membuat Raja Raion membentaknya untuk segera pergi.


Sial! Kenapa selalu seperti ini? Kakak dan adik sama saja. Mereka berdua begitu tahan dengan obat dan minuman keras, kata Putri Rukaia dalam hati.


......................


Ratu Rushi yang berjalan menyusuri istana sejak tadi hanya menghela nafas kasar. Sejak tadi ia hanya keliling sambil menggerutu tidak jelas. ‘’Heh, kenapa juga aku harus peduli dengannya? Rukaia juga adalah selirnya, jadi sudah wajar kalau dia ingin menghabiskan waktu dengan salah satu istrinya. Tapi bukankah dia menyukai wanita ini? Eish, ada apa denganku? Argh!’’


Daripada merasa kesal seperti itu, membuatnya kembali ke kamar. Namun, dari jauh ia melihat Raja Raion berjalan lunglai.


‘’Heh, dia pasti begitu bersemangat melakukannya sampai tidak bisa berjalan lagi. Eish, kenapa aku harus peduli? Tapi, melihatnya berjalan ke arah sana, bukankah itu arah kamarku?’’ tanya Ratu Rushi.


Dengan nafas terengah-engah, Raja Raion berusaha berjalan sambil memegang tembok. Ia mengernyitkan alis karena tidak bisa melihat dengan benar, dan sesekali hampir terjatuh. Tiba-tiba seseorang memukul punggungnya dari belakang membuatnya jatuh ke depan.


Bruk!


Ratu Rushi yang melihatnya tidak menduga hal itu. ‘’Kau mau ke mana? Kamarmu ada di arah sebelah sana.’’


‘’Ratu Rushi, apakah itu kau?’’ tanya Raja Raion.


‘’Bukan. Aku adalah malaikat pencabut nyawamu,’’ kata Ratu Rushi.


Dahinya berkerut saat mencium aroma minuman keras dari tubuh pria itu. Ia ingin membawa Raja Raion kembali ke kamarnya, tapi ruangan pria itu sangat jauh, dan hanya kamarnya yang dekat dari sana. Mau tidak mau, Ratu Rushi pun memapah Raja Raion ke kamarnya.


‘’Bagaimana mungkin seorang Raja sepertimu mabuk-mabukan? Apa yang membuatmu sampai seperti ini?’’ gerutunya.