Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 123 Kuaci



Taka begitu heboh menyusuri bebatuan untuk memanjat, tapi tidak ada yang bisa dijadikan tumpuan kaki. ‘’Apa yang kau lakukan?! Binatang itu akan memakanmu!’’


Sang buaya tadi langsung berubah wujud menjadi manusia, dan memperlihatkan Wani yang membawa kepiting dan ikan yang banyak. Ia dan Ratu Rushi memasang wajah bodoh melihat Taka yang begitu ribut menyelamatkan diri.


Melihat sang buaya tadi berubah wujud menjadi seorang pria, membuat Taka akhirnya kembali tenang. ‘’Kau manusia, ya?’’


‘’Kenapa? Kau pikir aku kura-kura yang bisa terbang?’’ tanya Wani.


Ratu Rushi menutup mulut dan batuk dengan maksud menahan tawa. ‘’Sudahlah. Sebaiknya kita sarapan dulu.’’


Seperti biasa, wanita itu akan mengolah binatang laut agar bisa dikonsumsi dengan layak. Wani yang biasanya memakan binatang laut itu secara langsung, mencoba memakan olahan Ratu Rushi.


Sesekali, Taka bertanya dan protes mengapa wanita itu harus melakukannya dengan cara tersebut, membuat Ratu Rushi menggelengkan kepala.


‘’Jika kau tidak bisa menutup mulut, aku bisa membantumu,’’ kata Wani dengan sekali ucapan membuat Taka bungkam.


‘’Pria yang menyeramkan,’’ bisik Taka.


‘’Ha?!’’ seru Wani.


Puluhan menit kemudian setelah mengolah kepiting dan ikan, ketiganya pun menyantap makanan tersebut. Begitu selesai, Ratu Rushi mengambil biji bunga matahari tadi.


‘’Biasanya aku memakan kuaci sebagai pencuci mulut. Aku tidak menyangka bisa memakannya lagi di sini. Selain itu, biji ini akan menyembuhkan tulangmu Taka,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Apakah kita akan memakan biji ini secara utuh?’’ tanya Taka.


‘’Boleh saja. Paling saluran pencernaan dan ususmu akan rusak dan sreg,’’ kata Ratu Rushi mengiris lehernya dengan ibu jari.


Taka dan Wani langsung menelan saliva dengan wajah masam. Keduanya pun bertanya mengenai cara memakan kuaci tersebut. Ratu Rushi meraih satu kuaci lalu menggigit permukaan kulit, kemudian memisahkan kulitnya dengan membiarkan isi biji di atas lidah dan mengunyahnya.


‘’Asin sekali!’’ kata Taka.


‘’Kau hanya merendamnya dengan air laut, kenapa sangat asin seperti ini?’’ tanya Wani.


‘’Itu karena air lautnya sendiri yang asin. Natural History Museum, UK, melansir air laut atau salinitas laut asin disebabkan oleh hujan yang mencuci ion mineral dari daratan menjadi air. Prosesnya dimulai saat karbon dioksida di udara larut ke dalam air hujan, membuatnya sedikit asam,’’ kata Ratu Rushi.


Wani hanya menggeleng dengan wajah meragukan. Ia tidak pernah mengerti dengan wanita di depannya itu. Ia menatap biji bunga matahari di tangannya begitu juga dengan Taka.


Ratu Rushi menjelaskan kalau biji matahari merupakan sumber folat (vitamin B9) dan vitamin B6 yang sangat baik. Kedua vitamin tersebut dibutuhkan untuk metabolisme protein dan produksi sel darah merah. Selain itu, manfaat lainnya adalah memberi asupan vitamin B5 (asam pantotenat).


‘’Apa pun itu, aku tidak ingin memakan kuaci asin ini,’’ kata Taka mengembalikan kulit biji tadi.


‘’Dia sudah bersusah payah membuatkannya untukmu. Lagi pula yang asin hanya kulitnya saja,’’ kata Wani.


‘’Pria ini sangat suka sekali mengatur. Kenapa dia begitu keras?’’ tanya Taka.


‘’Cepat makan kuaci itu!’’ perintah Wani.


Ratu Rushi yang berada di antara kedua pria itu sejak tadi hanya menghela nafas panjang. Wani yang tegas dan Taka yang blak-blakan membuatnya teringat dengan pertengkaran Yagyu dan Shika. Saat itu juga, wajahnya tiba-tiba menjadi murung.


Melihat wajah sedih Ratu Rushi membuat Taka juga tidak tega. Ia tersenyum kecut sambil mengambil kuaci miliknya kembali, lalu menggigit permukaan kulit, kemudian memisahkan kulitnya dengan membiarkan isi biji di atas lidah dan mengunyahnya.


‘’Tidak buruk,’’ kata Taka.


‘’Sudah kubilang, kan?’’ tanya Wani sambil mengunyah.