Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 112 Kabar Pulang



Yagyu membuka mata perlahan begitu sinar matahari mengenai matanya. Ia pun bangkit dengan kondisi kacau dan mata yang sudah membengkak. Dengan wajah pucat dan lingkaran hitam dibawah matanya, ia menatap Shika dan yang lainnya masih tertelap. Kepalanya menoleh ke arah matahari yang setengah sisinya masih tenggelam di tengah laut. Matanya kembali memanas sehingga butiran bening terjatuh.


Yang Mulia, ucapnya dalam hati.


Tidak lama kemudian, Shika dan yang lainnya bangun dan melihat Yagyu menatap ke tengah laut sambil menangis. Sama seperti Yagyu barusan, mereka juga kembali sedih karena mengingat Ratu Rushi. Tanpa sadar, mereka ketiduran di tebing bebatuan demi menunggu wanita itu.


‘’Aneh. Seingatku kita tidak membawa apa pun. Bagaimana bisa selimut besar ini ada di sini?’’ tanya Kujaku.


‘’Corak dari selimut ini seperti milik istana. Apakah seseorang datang menyelimuti kita?’’ tanya Hana.


‘’Benarkah? Kalau begitu siapa yang melakukannya?’’ tanya Usagi.


‘’Kalian sudah bangun?’’ tanya Pangeran Rodigero.


Melihat kedatangan sosok itu membuat ketujuh orang tadi langsung memberi hormat. Mereka menatap kondisi Pangeran Rodigero yang juga sangat kacau. Kulit pucat, mata bengkak dan lingkaran hitam di bawah kelopak mata, membuat mereka sadar kalau Pangeran Rodigero juga tidak bisa tidur.


‘’Kakak memerintahkan semua orang akan kembali istana. Aku ingin menyampaikan hal ini kemarin malam, tapi melihat kalian begitu sedih, aku mengurungkan niat dan akan memberitahu kalian besok,’’ kata Pangeran Rodigero.


Ia menatap ketujuh orang itu dengan wajah sendu. Di antara semua orang, mereka yang paling dekat dengan Ratu Rushi, dan mereka juga yang paling merasa kehilangan.


......................


Istana


Nero dan Aruse yang diberi perintah untuk menjaga istana sementara waktu, mendongakkan kepala melihat burung elang emas di atas mereka.


‘’Washi?’’ tatap Nero.


Burung elang emas tersebut pun mendarat dan berubah menjadi manusia. Ia menghampiri kedua pria berpakain hitam itu.


‘’Melihat kau di sini, sepertinya kau datang karena sebuah alasan,’’ kata Aruse.


‘’Aku datang membawa pesan dari Tuan Siruverash,’’ kata Washi.


Nero dan Aruse saling memandang satu sama lain dengan alis berkerut. Keduanya kembali menatap Washi yang serius seperti biasa. ‘’Tuan Siruverash? Ada kabar apa dari Perdana Menteri?’’


‘’Yang Mulia Raja dan yang lainnya akan kembali istana,’’ kata Washi.


‘’Kembali? Tapi ini baru 2 hari. Bukankah Yang Mulia Raja mengatakan akan kembali setelah 7 hari? Kenapa begitu tiba-tiba?’’ tanya Aruse.


‘’Kalian tidak perlu mempertanyakan apa yang dikatakan Tuan Siruverash. Mengenai Yang Mulia Raja akan kembali, cukup itu saja yang kalian ketahui,’’ kata Washi.


Nero dan Aruse yang menatap kepergiannya hanya tersenyum remeh.


‘’Elang emas itu keras seperti biasa,’’ kata Nero.


‘’Sangat susah mengorek informasi dari bawahan seperti dirinya. Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi sampai membuat semua orang tiba-tiba kembali,’’ kata Aruse.


......................


Pantai


‘’Semua barang telah dikemas, lalu kenapa tenda Yang Mulia masih berdiri?’’ tanya Ratu Agung.


Siruverash dan Putri Rukaia yang melihatnya juga penasaran. Salah satu prajurit hendak menjawab pertanyaan tersebut, tapi tiba-tiba dihentikan oleh kedatangan sang Raja.


‘’Saya tidak akan kembali ke istana bersama kalian,’’ kata Raja Raion.


Semua langsung terkejut terutama Pangeran Rodigero dan ketujuh pengikut Ratu Rushi.


‘’Yang Mulia tidak kembali ke istana? Tapi kenapa?’’ tanya Ratu Agung.


Raja Raion yang juga dalam kondisi pucat menarik tangan ibunya. ‘’Saya akan tetap di sini untuk mencari Ratu Rushi.’’


‘’Tapi Yang Mulia, Ratu Rushi telah dimakan binatang itu di depan mata kita semua,’’ kata Ratu Agung.


‘’Saya tahu. Itulah kenapa saya akan mencarinya. Coba Ratu Agung pikirkan, jika kita kembali ke istana dan mengumumkan kabar kematian Ratu Rushi, apakah mereka akan percaya dengan kabar itu tanpa melihat jasad Ratu Rushi?’’


Ratu Agung sedikit tersadar dan membenarkan apa yang dikatakan Raja Raion. Melihat hal itu, membuat Siruverash angkat bicara.


‘’Mohon maaf Yang Mulia, tapi jika kita tidak segera mengurus pemakaman Ratu Rushi, jiwanya tidak akan te—‘’


Deg!


Ucapan Siruverash terpotong begitu Raja Raion melontarkan tatapan tajam kepadanya.


‘’Sebelum saya kembali ke istana, tidak ada satu pun orang yang akan membahas hal ini. Jika ada yang tahu mengenai kabar Ratu Rushi, maka beri mereka hukuman mati. Ini adalah perintah Raja!’’ kata Raja Raion dengan nada datar tapi mengintimidasi.


Siruverash membungkuk meminta maaf. Tangannya mengepal dengan rahang yang sudah menegang.