
Salju pertama pun turun sambil Ratu Rushi menjalankan rumah makan. Yagyu, Shika dan Usagi terkagum seperti biasa karena rancangan baju untuk musim dingin dari Ratu Rushi. Mozaru yang juga mendapat perlakuan yang sama, hanya melihat pakaiannya dengan wajah datar.
Kitsune menatap jubah yang diberikan Ratu Rushi. ‘’Ini untukku Yang Mulia?’’
Ratu Rushi tersenyum sambil menyerahkan paket makanan. ‘’Sekarang musim dingin. Kau akan mati kedinginan jika tidak mengenakan apa pun, untuk mengawasiku sebelum musim dingin berakhir.’’
‘’Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia,’’ senang Kitsune.
‘’Kalau begitu, aku harus kembali sebelum ada yang menyadarimu,’’ kata Ratu Rushi.
Kitsune membungkuk. ‘’Yang Mulia harap hati-hati.’’
......................
Dengan datangnya Mozaru ke rumah makan, membuat para pelanggan merasa tidak suka dengan kehadiran manusia setengah badak itu. Mozaru tidak peduli, dan tetap melayani mereka semua.
‘’Ini pesanan An—‘’
Prank!
Pelanggan tadi membanting piring yang dibawa Mozaru, membuat semua pandangan menuju ke arah mereka.
‘’Ratu Rushi memang adalah pemilik Rumah Bertarung sekarang, tapi bukan berarti kau bisa meminta perlindungan darinya.’’
‘’Itu benar. Kau sudah dibuang oleh istana.’’
‘’Raja juga sudah memberi perintah jika ada orang yang berhubungan denganmu, mereka akan dianggap penghianat dan diasingkan.’’
‘’Jangan menyeret kami ke dalam masalah. Kenapa kau tidak tinggal di hutan sa—‘’
Bugh!
Ucapan pelanggan tadi terhenti saat Ratu Rushi meletakkan hidangan yang baru ke meja.
Pelanggan tadi terdiam sambil melirik ke arah Pangeran Rodigero di belakang, lalu kembali menatap Ratu Rushi. ‘’Tapi, orang-orang di istana memberi perintah kalau ada yang berhubungan dengan Mozaru, akan dianggap sebagai penghianat dan diasingkan.’’
Sebelah alis Ratu Rushi terangkat sambil tersenyum. ‘’Heh~ kuharap kau tidak lupa kalau saat ini aku adalah penghianat kerajaan dan Ratu yang diasingkan. Tapi kalian semua tetap datang kemari, bukankah sama saja dengan melanggar aturan? Aku akan berbaik hati untuk mengurus masalah ini dengan istana. Jadi, kalau masih ingin makan, lebih baik duduk manis saja!’’
Semua langsung membisu dan baru tersadar setelah mendengar ucapan Ratu Rushi. Seharusnya mereka tidak mendekati wanita itu karena telah diasingkan. Tapi semua sudah terlambat, karena mereka mencicipi masakan Ratu Rushi.
‘’Kau sudah membuat keributan, dan menghina pengikutku. Cepat minta maaf kepadanya!’’
Mozaru terbelalak sambil menatap Ratu Rushi. Ia tidak menyangka wanita itu membelanya, dan menyuruh pelanggan meminta maaf. Untuk sesaat para pelanggan tadi terdiam, hingga akhirnya meminta maaf kepada Mozaru.
Yagyu yang melihatnya hanya tersenyum, dan kembali melanjutkan pekerjaan.
......................
Istana
Seperti biasa, Washi akan melaporkan situasi Ratu Rushi di desa yang membangun rumah makan. Ia memberitahu Siruverash kalau semakin hari pelanggan bertambah banyak.
Prank!
Siruverash membanting gelas berisi anggur di meja sehingga berserakan di lantai. Tangannya mengepal meskipun wajahnya terlihat tenang. ‘’Musim dingin ini seharusnya adalah waktu yang tepat untuk Ratu Rushi tiada. Tapi, dia berhasil bertahan karena Pangeran Rodigero ada di pihaknya.’’
Dengan urat leher dan dahi yang menegang disertai hembusan nafas tertahan, Siruveras memicingkan mata. ‘’Aku harus melakukan sesuatu sebelum semua orang memihak Ratu Rushi.’’
......................
Desa
‘’Yang Mulia ke mana?’’ tanya Pangeran Rodigero.
‘’Setiap ingin sendiri, Yang Mulia berada di kamar di lantai 3. Entah untuk meredakan rasa marah atau memikirkan sesuatu. Baru saja Yang Mulia kesal karena para pelanggan itu. Jadi Pangeran Rodigero tidak perlu khawatir. Yang Mulia akan turun sebentar lagi,’’ kata Yagyu.