
Setelah mengambil alih Penjara Pengasingan, Taka pun datang sambil memikul Washi di atas bahunya. Ia pun meletakkan tubuh pria itu yang langsung diikat oleh para tahanan sebelum memasukkannya ke dalam jeruji sel. ‘’Beruntung sekali ada kereta kuda yang lewat. Aku jadi meminta bantuannya untuk mengantar kami.’’
‘’Lalu di mana pengendara kereta itu?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Dia tidak boleh tahu kalau Yang Mulia masih hidup, karena akan menggemparkan desa dan istana. Jika itu terjadi, maka rencana yang disusun Yang Mulia sampai sekarang akan sia-sia,’’ kata Taka.
Ratu Rushi tersenyum lalu memukul punggung Taka, membuat pria itu terbatuk. ‘’Eii, kau sangat pintar membaca situasi.’’
‘’Tapi, kalau pengendara kereta itu pergi, maka Yang Mulia akan mengendarai apa untuk menuju ke istana?’’ tanya Yagyu.
‘’Hamba bisa menjadi tunggangan Yang Mulia,’’ kata Mozaru.
‘’Tidak, tidak. Saya yang akan menjadi tunggangan Yang Mulia. Saya bisa membawa Yang Mulia lebih cepat agar tiba di istana," kata Yagyu.
‘’Serahkan saja kepadaku. Aku bisa membawa kalian semua melewati muara sungai belakang,’’ kata Wani.
Kamereon yang teringat sesuatu langsung bicara. ‘’Sebenarnya ada satu orang yang bisa memecahkan masalah ini. Tapi aku tidak yakin dia akan berguna untuk saat ini.’’
Ratu Rushi yang mendengarnya hanya mengerutkan dahi.
......................
Sel Pembuangan
Kamereon membawa Ratu Rushi beserta pria lainnya ke sebuah sel paling belakang di penjara. Begitu mereka tiba, dilihatnya seekor kuda berbadan langsing, leher panjang, kepala relatif kecil, garis atau strip paa wajah berwarna putih serta tinggi pundaknya hampir sama dengan panjang badan.
Namun, Ratu Rushi dan yang lainnya bingung karena melihat kuda itu berputar-putar di dalam kandang, menggaruk-garukkan kaki, bahkan sampai berguling.
‘’Sebelumnya kuda ini baik-baik saja. Kepala sipir selalu menungganinya jika berpergian keluar. Tapi semenjak musim dingin datang, kuda ini tiba-tiba bertingkah aneh seperti ini. Kepala sipir bahkan menganggapnya sudah gila, sehingga dibawa ke sel pembuangan,’’ cerita Kamereon.
Mata Ratu Rushi memicing. Ia pun meminta Kamereon untuk membuka sel. Tapi pria itu menolak karena mencemaskannya. Sekali pun tidak ada yang pernah berani mendekati kuda tersebut. Takutnya kuda itu akan menyerang secara tiba-tiba.
‘’Jangan khawatir. Di sini ada banteng dan badak bahkan reptil terbesar yang bisa melindungiku jika sewaktu-waktu kuda itu menyerangku,’’ kata Ratu Rushi.
Dengan ragu, Kamereon membuka gembok dan menarik pintu sel sehingga Ratu Rushi masuk ke dalam. Dilihatnya wanita itu mendekat secara perlahan.
Tiba-tiba kuda itu bertengking membuat Ratu Rushi dan yang lainnya tersentak kaget.
‘’Hati-hati Yang Mulia!’’ kata para pria di depan sel.
Ratu Rushi mengulurkan tangannya pelan-pelan lalu mengelus kepala kuda tadi. ‘’Hei, tidak ada yang ingin menyakitimu.’’
Kuda yang gusar dan bertengking tadi tiba-tiba menjadi tenang, setelah kepalanya dielus lembut oleh sang Ratu.
Nafas yang tidak beraturan dan berkeringat sebanyak ini … Kudanya tidak mengalami gangguan jiwa, tetapi sakit perut! Kamereon bilang, kudanya bertingkah seperti ini semenjak musim dingin datang. Kalau tidak segera ditangani secara intensif, maka akan berakibat fatal! Astaga, ini sudah dua bulan semenjak musim dingin berlangsung. Kuda ini sangat tersiksa, tapi tidak ada yang menyadarinya, kata Ratu Rushi dalam hati.
‘’Segera carikan aku tanaman berakar tunggang, batang menyelusur tegak dengan tinggi 30-120 cm, tangkai daun berbulu yang berukuran 5-30 mm, serta dun tersusun tiga!’’
‘’Yang Mulia sedang menyuruh siapa?’’ tanya Kamereon.
Ratu Rushi berdecih. ‘’Kalian semua!’’
Kelima pria itu tersentak dan tanpa membuang waktu mereka langsung bergegas pergi.
Taka dalam wujud elang peregrine menyusuri udara, sedangkan Wani menyusuri sungai berharap menemukannya di pinggir kali, lalu Yagyu, Mozaru dan Kamereon berpencar di sekitar hutan. Mereka menyebar untuk mencari tanaman yang disebutkan Ratu Rushi tadi.