Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 165 Deklarasi Perang



Siruverash pun diasingkan dari istana. Raja Raion memerintahkan seluruh prajurit untuk mencari tubuh Pangeran Rodigero dan menangkap para pengikut Ratu Rushi. Tapi, sekeras apa pun para prajurit mencari, tidak ada yang bisa menemukan tubuh adik dari sang Raja dan para pengikut sang Ratu setelah menyusuri empat sisi negeri.


Beberapa hari telah berlalu, membuat istana terpaksa melaksanakan pemakaman Pangeran Rodigero menggunakan barang-barang dari pria itu yang masih ada saat ini. Di tengah-tengah ritual berlangsung, kejutan menghampiri mereka. Ya, Siruverash muncul membuat semua orang melotot karena pria itu berani menginjakkan kaki di istana.


Raja Raion memerintahkan para prajurit untuk menyeret Siruverash karena sudah merusak ritual pemakaman Pangeran Rodigero. Namun, dahinya berkerut karena para prajurit hanya diam, membuatnya membentak mereka.


Akhirnya para prajurit bergerak menghampiri Siruverash. Tapi, mereka tidak menyeret pria itu dan malah berdiri di belakangnya. Ratu Agung mengerutkan dahi melihat setengah dari ratusan warga dan para petinggi juga menghampiri Siruverash.


‘’Ratu Rushi telah melakukan kejahatan dengan menghabisi Pangeran Rodigero.’’


‘’Seharusnya Yang Mulia Raja langsung memberinya hukuman mati bukan pengasingan diri.’’


‘’Yang Mulia Raja telah melanggar kode etik dari seorang Raja.’’


‘’Raja yang tidak mematuhi aturan sudah seharusnya digulingkan!’’


Wajah Raja Raion langsung kusut karena Siruverash telah mendapatkan kepercayaan semua orang. ‘’Anda membuat mereka semua berbalik untuk melawanku. Sekarang saya mengerti siapa penghianat sebenarnya yang dimaksud oleh Ratu Rushi.’’


Siruverash tersenyum miring sambil mengibarkan bendera berwarna merah sebagai tanda peringatan untuk pertempuran. ‘’Aku! Siruverash … Menyatakan perang yang akan berlangsung di Tanah Penghakiman kepada Raja Aslan Raion!’’


Rukaia langsung membengkap mulut begitu juga dengan semua orang yang ada di aula istana saat ini. Situasi dalam istana langsung kacau membuat wajah Ratu Agung langsung kusut.


‘’Anda benar-benar tidak punya malu, ya? Merebut seluruh pasukan Yang Mulia dengan tipu muslihat,’’ kata Ratu Agung.


Raja Raion menarik nafas dengan urat-urat di leher dan kening yang sudah menegang. Ia benar-benar tidak menyangka semua orang kepercayaannya berbalik melawannya.


Tidak disangka pria ini menyusun semuanya secara diam-diam di belakangku. Saya membuat kesalahan dengan tidak mewaspadai Tuan Siruverash sama sekali setelah mengasingkannya dari istana, ucapnya dalam hati.


‘’Aku akan memimpin ras khataros (ras murni manusia), dan Yang Mulia akan memimpin ras paramorfomenos (ras manusia setengah binatang) Anda sendiri. Besok, begitu matahari terbit kedua ras akan bertempur untuk membuktikan siapa yang paling mutlak,’’ senyum Siruverash berbalik untuk pergi.


Ratu Agung menatap sang Raja dengan wajah cemas. ‘’Apakah Yang Mulia akan benar-benar berperang?’’


‘’Tuan Siruverash sudah menyatakan perang kepada kita. Tentu saja saya menerimanya tanpa keraguan. Tidak peduli, dia merebut semua tentara pasukan ... Ras paramorfomenos bisa bertempur tanpa pasukan,’’ kata Raja Raion.


......................


Setelah pemakaman Pangeran Rodigero dilakukan, Raja Raion pun mengeluarkan perintah untuk mengumpulkan semua ras manusia setengah binatang, dan memberitahu mereka mengenai situasi yang terjadi.


Seluruh pasukan prajurit dan pelayan telah diambil alih oleh Siruverash, sehingga Ratu Agung hanya memerintahkan Rukaia yang tersisa untuk ikut. Ya, setidaknya ada satu pelayan yang melayani dan mengurus perkemahan nanti. Tidak lama kemudian, Tora pun datang melaporkan kalau semuanya telah siap.


Raja Raion yang mengenakan jubah mantel berbulu, menolehkan kepalanya menatap Ratu Agung. ‘’Ibunda … Aku pergi dulu.’’


‘’Apa pun yang terjadi … Yang Mulia harus kembali membawa kemenangan,’’ kata Ratu Agung.