
Semua hanya memandangi kedua orang yang sedang berada di tengah medan. Siruverash dengan wajah kusut menatap Ratu Rushi yang memasang wajah sendu. Pria itu menanyai keponakannya mengapa mereka harus bicara empat mata seperti ini.
‘’Paman, bisakah kita akhiri perang ini?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Anda memanggilku untuk mengatakan hal itu?’’ tanya Siruverash.
‘’Kita tidak perlu berperang. Jika Paman mau menyerahkan diri tanpa ragu, aku berjanji akan mengampuni kejahatan Paman. Semua orang yang terlibat dengan Paman, aku akan membujuk mereka untuk tidak menjatuhkan hukuman mati,’’ kata Ratu Rushi.
Siruverash tersenyum remeh. ‘’Anda memintaku mengaku kalah, mana mungkin saya akan melakukannya?’’
‘’Tapi Paman?’’ tatap Ratu Rushi dengan wajah sayu.
Wajah Siruverash langsung kusut. ‘’Anda masih berhutang satu nyawa kepadaku. Dan hanya perang ini satu-satunya cara untuk membalaskan dendamku demi dirinya.’’
Ratu Rushi mengerutkan dahi tanda tidak mengerti. Ia hendak bertanya kepada pamannya, tapi kuda pria itu berbalik untuk berjalan pergi. Tangannya pun langsung mengepal. ‘’Paman, ini peringatan terakhir! Aku benar-benar akan memastikan Paman dan yang lainnya tidak mendapat hukuman mati. Tapi kumohon jangan biarkan perang ini terjadi.’’
Saat itu juga panah kejutan menghampiri, dan dengan refleks sang Ratu menangkisnya dengan cepat menggunakan pedang.
Siruverash sedikit menolehkan kepalanya. ‘’Itu jawabanku. Bahkan jika kau bersujud dan menyerahkan nyawamu sekalipun, aku tidak akan mengubah keputusanku.’’
Ratu Rushi memejamkan mata sambil menggertak gigi disertai tangan mengepal.
‘’Jadi bagaimana Yang Mulia?’’ tanya Uma.
Wanita yang ditanyai tadi membuka mata sambil menatap kepergian pamannya dengan wajah sayu. Dengan berat hati, sang Ratu memerintahkan sang kuda agar berbalik dan kembali ke barisan pasukannya.
Setelah kedua para pemimpin itu kembali, Siruverash mengayunkan tangan ke depan dan memberi perintah untuk maju. Sedangkan pasukan Raja Raion masih tetap diam di tempat dan menunggu perintah Ratu Rushi. Pangeran Rodigero yang melihat pasukan Siruverash mulai mendekat, langsung mendesak sang Ratu untuk mengeluarkan perintah.
‘’Kenapa kita hanya diam Yang Mulia?’’ tanya Usagi.
‘’Berikan perintahmu Yang Mulia!’’ tegas Mozaru.
Ratu Rushi menarik pedang lalu mengayunkannya ke depan. Ia menggenggam pegangan pedang begitu erat sambil memejamkan mata. Lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya bersamaan mata terbuka. ‘’Attack!’’
Tanpa membuang waktu, pasukan Raja Raion langsung berlari. Begitu kedua pasukan paling depan saling menghampiri, kelompok jaguar dan singa Ratu Rushi saling bertemu dengan kelompok harimau dan hyena Siruverash, hingga akhirnya kedua pasukan saling berhadapan.
Sedangkan di bagian atas, masing-masing kelompok elang dari pasukan bertarung di udara. Taka dan Washi kembali bertemu, dan kali ini mereka berhadapan di medan tempur.
‘’Kuharap kau tidak lupa dengan kekalahanmu saat menantangku di udara hari itu,’’ kata Taka.
‘’Waktu itu aku tidak memiliki alasan untuk menyerangmu. Tapi saat ini kita berdua di medan perang. Aku akan membalasmu,’’ kata Washi.
‘’Kalau begitu aku akan serius kali ini,’’ kata Taka.
Pangeran Rodigero bersama Mozaru melawan para petinggi, sedangkan Kujaku dan Usagi melawan pasukan Nero dan Aruse. Dan Ratu Rushi berhadapan secara langsung dengan Siruverash yang masing-masing menunggangi kuda.
‘’Alur yang telah saya rancang sempurna sampai saat ini kembali dirusak olehmu. Anda benar-benar ancaman besar bagi rencanaku. Apa yang telah Anda lakukan sampai Pangeran Rodigero bisa selamat? Dan para pengikutmu yang melarikan diri itu kembali berpihak kepadamu?’’ tanya Siruverash.
‘’Siapa bilang mereka melarikan diri? Setelah mendapatkan gulungan untuk bertemu di pavilion, aku meminta para pengikutku untuk meninggalkan istana lebih dulu, sebelum mereka dihabisi secara diam-diam oleh perdana menteri. Tidak. Maksudku … mantan perdana menteri,’’ kata Ratu Rushi yang memberi tekanan di akhir kalimat.
Mata Siruverash memicing mendengar hal itu, membuatnya menyerang keponakannya secara bertubi-tubi dengan pedangnya. Ratu Rushi yang hilang keseimbangan, langsung terjatuh ke tanah.
‘’Yang Mulia!’’ pekik Uma dalam wujud seekor kuda.
Ratu Rushi hendak bangkit tapi ia langsung menangkis tebasan pedang Siruverash yang menuruni kudanya. Ia pun menoleh ke arah Uma yang berlari pergi membuat Siruverash tertawa.
‘’Saking ketakutannya, kudamu itu sampai pergi dan meninggalkanmu Yang Mulia,’’ kekeh Siruverash.