
Kedua belas para pengikut yang berjaga di luar langsung menghampiri Ratu Rushi, begitu melihat wanita tersebut memapah sang Raja dari jauh.
Ratu Rushi meminta bantuan mereka untuk memapah Raja Raion karena tidak tahan dengan berat badan pria itu. Akhirnya Yagyu dan Wani memapah sang Raja, sambil Mozaru membuka pintu kamar.
Hana dan yang lainnya merapikan kasur milik Ratu Rushi, sebelum meletakkan Raja Raion di sana. Dua pria yang membawa sang Raja, membaringkan pria itu pelan-pelan.
‘’Haa, singa ini begitu berat sampai membuatku ngos-ngosan memapahnya,’’ kata Ratu Rushi.
Ia pun memerintahkan Hana untuk menghampiri Tora agar pria itu tidak khawatir mengenai Raja Raion yang tiba-tiba menghilang. Lalu menyuruh semuanya berjaga di luar kamar untuk kali ini, karena sang Raja berada di kamarnya.
Ya, itu karena Ratu Rushi membiarkan kedua belas orang itu tidur di dalam kamarnya tanpa sepengetahuan orang-orang berpengaruh dalam istana seperti Raja Raion, Ratu Agung dan pamannya.
Ratu Rushi hendak mengganti pakaiannya karena aroma minuman keras dari Raja Raion menempel gara-gara memapah pria itu. Tiba-tiba tangannya ditarik sehingga tubuhnya jatuh ke belakang.
Mendengar suara jeritan dari dalam, membuat Yagyu dan yang lainnya langsung cemas. Mereka menanyakan situasi dalam kamar membuat Ratu Rushi memberitahu mereka agar tidak cemas. Wanita itu memberi perintah untuk pertama kalinya dengan menyuruh mereka agar tidak masuk sebelum dipanggil. Para pengikut yang ada di luar hanya mengangguk mengerti.
Tidak mungkin aku menyuruh mereka masuk dalam kondisi seperti ini, kata Ratu Rushi dalam hati.
Kedua tangannya ditindih oleh Raja Raion yang berada di atasnya. Nafas pria itu mengeluarkan bau minuman keras yang begitu menyengat.
‘’Sebanyak apa pria ini meminum minuman keras?’’ habis pikir Ratu Rushi.
Raja Raion memajukan wajahnya dan mendaratkan kepalanya di dada wanita itu, membuat jantung Ratu Rushi berdetak cepat. ‘’Hehe, aku mendengar denyutan cepat dari Yang Mulia. Apakah itu bayi kita?’’
Tidak bisa dipungkiri, wajah Ratu Rushi langsung merona bukan main. Pria di atasnya itu benar-benar mabuk sampai-sampai melantur seperti ini.
‘’Yang Mulia bilang tidak membenciku, lalu kenapa berbohong kepadaku?’’
‘’Saya hanya ingin menghabiskan waktu bersama Yang Mulia, tapi Anda selalu pergi dan tidak ingin bersamaku. Apa perbedaanku dengan Pangeran Rodigero? Dia tidak perlu izin untuk menyentuh Anda, sedangkan saya harus meminta izin lebih dulu. Saya melihat semuanya, kalian bertemu di sekitar muara sungai. Pangeran Rodigero menyentuh tangan Yang Mulia dan Anda mengelus kepalanya sambil tersenyum. Kenapa saya tidak bisa merasakan semua itu juga?’’
Ratu Rushi mengerutkan dahi tanda kesal. ‘’Lalu apa bedanya denganmu? Kau menghabiskan waktu bersama adik tiriku sepanjang hari.’’
Raja Raion yang masih menyandarkan kepalanya di dada Ratu Rushi hanya tersenyum. ‘’Apakah saya bisa mengartikannya sebagai rasa cemburu? Yang Mulia tidak perlu cemas. Saya dan Putri Rukaia tidak melakukan apa pun di dalam kamar.’’
‘’Heh, bagaimana aku bisa percaya seorang pria dan wanita berada di dalam kamar sepanjang hari tanpa melakukan ap—‘’
Cup!
Matanya membulat besar karena saat itu juga Raja Raoin menciumnya dengan lembut. Tidak lama kemudian, pria itu melepaskan ciumannya.
‘’Kalau begitu saya akan membuktikannya. Barulah Yang Mulia bisa percaya,’’ kata Raja Raion.
Ia langsung mencium Ratu Rushi begitu ganas sambil melepaskan pakaian wanita itu, membuat Ratu Rushi mendorongnya dengan sekuat tenaga.
‘’Apa yang kau lakukan?’’ tanya Ratu Rushi terengah-engah karena hampir kehabisan nafas gara-gara ciuman tadi.
Raja Raion kembali menyandarkan kepalanya di bahu wanita yang berbaring itu. ‘’Saya sudah tidak bisa menahannya lagi Yang Mulia. Selain itu, kita adalah adalah suami istri.’’
Tangannya kembali meraba sambil bibirnya menyusuri leher Ratu Rushi. Melihat istrinya itu tidak melakukan perlawanan, membuatnya kembali mencium sang Ratu.
Di malam yang dingin, setelah sekian lama akhirnya kedua insan itu saling menyatukan tubuh satu sama lain, dimana sang rembulan dan butiran salju menjadi saksi bisu untuk mereka berdua.