
Begitu matahari terbit, semua orang telah kembali ke istana. Siruverash dan para penghianat pun ditahan dalam penjara. Ratu Agung telah mendengar semua ceritanya dari Raja Raion, mengenai konspirasi Siruverash dan Rukaia selama ini, yang ternyata sudah diketahui Ratu Rushi. Tapi, mereka malah meragukan wanita itu dan membuangnya berulang ke pengasingan.
‘’Aku benar-benar menyesal Ratu Rushi. Kumohon bukalah matamu,’’ sedih Ratu Agung menggenggam tangan wanita tadi.
Ia kembali menatap tabib kerajaan dan menanyakan perkembangan kondisi Ratu Rushi.
Tabib kerajaan memberitahu semua orang kalau sang Ratu dalam kondisi sangat buruk. Bahkan penawar untuk bisa ular yang ia racik, sepertinya tidak cukup untuk menetralisir racun di dalam tubuh sang Ratu.
‘’Demi apa pun, tolong selamatkan Ratu Rushi. Katakan saja apa yang Anda inginkan, saya akan mengutus prajurit untuk mencarinya,’’ mohon Ratu Agung.
‘’Sebenarnya ada ramuan yang bisa menghambat penyebaran racun agar nyawa Yang Mulia tidak terancam. Itu adalah daun kari. Daun ini sudah digunakan selama berabad-abad untuk menyembuhkan gigitan ular karena sifatnya yang memulihkan. Bahkan daun kari dapat mengeluarkan racun dalam tubuh,’’ kata Tabib.
‘’Kalau sudah tahu kenapa Anda masih diam dan tidak membuatnya?!’’ marah Raja Raion.
Sang tabib menunduk dengan wajah sedikit masam. ‘’Hamba mohon maaf Yang Mulia. Sayangnya daun kari tidak tumbuh di Negeri Aslan. Daun itu hanya tumbuh di bagian bumi selatan. Jaraknya dari sini hampir 5956 km. Butuh waktu yang lama agar menuju ke sana, sedangkan Yang Mulia Ratu Rushi harus segera ditangani.’’
‘’Kalau begitu aku yang akan pergi,’’ kata Taka.
Semua orang langsung menatap manusia setengah elang peregrine itu, terutama sang tabib.
Taka meminta ciri-ciri dari daun kari sebelum pergi. Sang tabib mengatakan kalau daun kari memiliki bentuk mirip daun belimbing, tapi dengan ukuran yang lebih kecil dan warna daunnya hijau tua mengkilap, serta aroma yang tajam. Bentuk bunganya kecil bergerombol berwarna putih menyerupai bunga kemuning.
Taka mengangguk mengerti. Namun, sang tabib kembali memperingatinya.
‘’Sebelum hari berganti, ramuan daun kari itu harus segera dibuat. Hamba tidak yakin, Yang Mulia akan bertahan sampai matahari terbit besok.’’
Semua yang ada di dalam ruangan membulatkan mata. Mereka menatap Taka dengan wajah penuh harap.
‘’Kalau kita berhasil memecahkan rekor kecepatan lebih dulu,’’ kata Kujaku.
‘’Maka Yang Mulia bisa diselamatkan,’’ kata Shika.
‘’Di antara kita, hanya Taka yang bisa melakukan hal ini,’’ kata Usagi.
‘’Benar sekali. Hanya Taka yang bisa diutus untuk menuju ke belahan bumi selatan,’’ kata Kitsune.
‘’Jalur tercepat adalah dengan melewati udara, dan Taka adalah ahlinya,’’ kata Mozaru.
‘’Kalau begitu Yang Mulia bisa diselamatkan,’’ kata Shika.
‘’Aku mengandalkanmu elang peregrine,’’ kata Yagyu.
‘’Pastikan kau kembali sebelum hari berganti,’’ kata Wani.
Taka mengangguk mantap. ‘’Yang Mulia bilang kalau aku adalah burung tercepat di dunia. Jika aku sampai gagal dalam hal kecepatan kali ini, maka saat itu juga aku akan melepaskan sayapku.’’
Ia pun berlari ke arah balkon dan melompat ke bawah lalu muncul ke atas dalam wujud elang peregrine.
Raja Raion dan Pangeran Rodigero menatap kepergian elang itu dengan keyakinan penuh, berharap burung itu kembali tepat waktu, agar bisa menyelamatkan nyawa Ratu Rushi.
Buktikan kalau kau memang pantas menjadi burung tercepat di dunia seperti yang dikatakan Ratu Rushi, ucap kedua pria itu kompak dalam hati.