
Aula
Di tengah turunnya salju di musim dingin, Raja Raion berdiri menatap tabib kerajaan yang masih menangis di hadapannya meminta pengampuan.
‘’Saya sudah memberitahumu, jika Anda tidak bisa membuat mata Ratu Rushi terbuka, maka saya akan menutup matamu,’’ kata Raja Raion dengan tatapan kosong.
‘’Hiks, hiks, hamba mengaku bersalah Yang Mulia. Tapi hamba sudah berusaha keras untuk menyembuhkan Yang Mulia Ratu Rushi hiks … Racun itu mungkin telah menjalar sampai ke dalam jaringan tubuh Yang Mulia Ratu Rushi sehingga tidak ada pertolongan lagi,’’ tangis Tabib.
Raja Raion menarik pedangnya dengan wajah datar dan mata kosong. Pangeran Rodigero dan para pengikut Ratu Rushi juga tidak bisa mencegah sang Raja karena mereka benar-benar telah kehilangan sang Ratu.
Tabib kerajaan bahkan gemetar di tengah tangisannya, tapi tidak membuat Raja Raion memperlihatkan belas kasih. Ia memejamkan mata begitu sang Raja mengayunkan pedangnya.
‘’Tunggu!’’
‘’Hiks! Hiks!’’ tangis Tabib gemetar.
Tangan Raja Raion yang hendak menebas tabib tadi langsung terhenti. Ia pun menatap orang yang telah berani menghentikannya.
Deg!
Matanya membulat besar saat melihat pemilik suara tadi, begitu juga dengan Pangeran Rodigero dan para pengikut sang Ratu.
‘’Ratu Rushi,’’ ucap semuanya bersamaan.
Mendengar hal itu membuat tabib kerajaan tersentak dan menoleh ke belakang. Matanya juga membulat sama seperti yang lainnya. Tangisannya semakin menjadi-jadi saat melihat sang Ratu ternyata masih hidup.
Raja Raion menjatuhkan pedangnya dan berlari untuk memeluk Ratu Rushi. Namun, langkahnya langsung terhenti saat Pangeran Rodigero lebih mendahuluinya memeluk wanita itu. Semua orang yang melihatnya hanya terkejut, terutama Ratu Agung yang berdiri dibelakang Ratu Rushi. Ibu Raja itu menatap salah satu putranya yang menangis di depannya.
Dari dua arah berlawanan secara bersamaan Ratu Agung dan Raja Raion memasang wajah kusut setelah menyadari sesuatu.
‘’Pangeran Rodogero, Anda menyukai seorang wanita tanpa mengatakan identitasnya. Apakah wanita yang Anda maksud itu adalah … Ratu Rushi?’’ tanya keduanya kompak.
Pangeran Rodigero terdiam sampai akhirnya Raja Raion menariknya untuk memisahkan pelukan mereka. Ia menyeka air matanya lalu menatap Ratu Agung dan Raja Raion secara bergantian. Tanpa rasa takut dan keraguan, ia membenarkan pertanyaan kedua orang itu. ‘’Iya, wanita yang saya sukai itu memang Ratu Rushi.’’
‘’Pangeran Rodigero! Dia adalah istri dari saudara Anda sendiri yang merupakan Raja Negeri Aslan!’’ seru Ratu Agung.
‘’Saya tahu Ibunda. Itulah kenapa saya tidak bisa memberitahukan identitasnya kepada kalian’’ sedih Pangeran Rodigero.
Ratu Agung menghampiri putranya itu. ‘’Anda tidak boleh menyukai Ratu Rushi. Jika tidak, Pangeran Rodigero akan diasingkan, dan saya tidak ingin itu terjadi!’’
Pangeran Rodigero menunduk sambil tersenyum sendu. ‘’Ibunda tidak perlu khawatir. Kami sudah bicara dan meluruskannya secara baik-baik. Meskipun Ratu Rushi menolak perasaanku, tapi Yang Mulia sudah menjanjikan satu kepadaku.’’
‘’Janji apa?’’ tanya Raja Raion.
‘’Itu rahasia kami berdua. Iya, kan? Yang Mulia?’’ tanya Pangeran Rodigero.
Ratu Rushi mengangguk dengan lemah sambil tersenyum. Tapi Raja Raion bersih keras ingin mengetahui janji tersebut sambil mengikutinya.
Ratu Agung memasang wajah bingung sambil menatap kepergian suami istri itu, dimana Raja Raion mendesak Ratu Rushi tapi diabaikan oleh wanita itu. Para pengikutnya juga mengikuti mereka dari belakang.
Ia kembali menatap Pangeran Rodigero yang tersenyum sejak tadi. ‘’Eh? Apa yang sebenarnya terjadi? Selain itu, janji apa yang kalian buat sebagai kesepakatan?’’
Pangeran Rodigero yang tersenyum hanya memegang kedua bahu ibunya. ‘’Ibunda tidak perlu memikirkannya. Ayo….’’